Minggu, 18 November 2018

Pengetahuan; Tugas-tugas Kenabian

Tugas suci para Nabi tidak hanya berkutat pada kitab agama yang kaku dan konvensional. Mereka membawa perubahan fundamental, menyentuh pelbagai sendi kehidupan, terutama tentang Ilmu pengetahuan. Tugas mulia untuk Mencerahkan.

~~~
Di masanya, dalam upaya pelariannya, Nabi Ilyas a.s, menerima Wahyu untuk bermukim disebuah negeri bernama Akbar, negeri yang kemudian berubah menjadi salah satu kota di Lebanon yang lebih dikenal dengan sebutan kota Byblos saat ini. Sebab, dalam sejarah, konon disanalah Byblos pertama kali ditemukan dan berkembang pesat.

Byblos dikenal sebagai sebuah seni menggoreskan kuas dan tinta (menulis). Menggoreskan segala peristiwa dalam lempengan tanah liat yang dipadatkan lewat proses pembakaran (keramik). Keramik tanah liat ini menjadi pilihan untuk mengabadikan setiap Byblos (red: tulisan). Dianggap dapat bertahan lama dan juga memiliki nilai estetika yang apik ketika disusun rapi pada rak-rak ruangan yang saat itu belum disebut perpustakaan.

Sejatinya istilah perpustakaan memang identik dengan kumpulan buku, bukan kumpulan keramik bertulis. Meski arti konvensional perpustakaan adalah kumpulan referensi atau gudang literatur, tetapi muasal kata Perpustakaan adalah Library (Inggris) yang berakar dari kata Liber (yunani) yang berarti buku-buku, bukan keramik.

Tidak ada gambaran untuk membentuk perpustakaan seperti saat ini. Instrumen terbatas. Pun penulis atau yang berhak mempelajari Byblos adalah bukan sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang sudah dipilih oleh para Dewan Agung atau penasehat kerajaan. Para dewan agung tahu, kekuatan Byblos mampu memusnahkan satu generasi bangsa tanpa perang. Hanya dengan sebuah gagasan, satu bangsa dapat dihancurkan tak tersisa, tanpa pertumpahan darah atau kerugian ekonomi yang banyak. Oleh karenanya para penulis harus tetap dalam kontrol para dewan agung, pengetahuan atau tentang apa-apa yang harus dituliskan hanya seputar apa yang dikatakan oleh para dewan agung.

Pada kondisi ini, otententifikasi Byblos tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Sebab, hanya mereka yang diizinkanlah yang dapat mengemukakan pendapat dalam Byblos. Tetapi bukan pengetahuan jika hanya stag pada satu titik. Kebenaran selalu menemukan jalan sendiri.

Otentik, terjaga. Tidak ada percetakan keramik saat itu, satu keramik hanya cukup untuk satu tulisan dengan gaya menulis yang itu-itu saja. Tidak ada plagiat atau penjiblakan, karena jika ada upaya menuliskannya kembali, dia akan menjadi keramik yang berbeda. Otentik.

Dibelahan dunia lainnya, Yunani, sistem penulisan Byblos ini kemudian dicemot dan berganti sebutan menjadi Alfabet. Dengan penambahan jenis huruf yang belakangan kita kenal dengan istilah huruf Vokal (a, i, u, e, o). Mereka, yunani, bangsa yang sangat cepat dan kuat beradaptasi perihal pengetahuan, disanalah banyak lahir para pemikir hampir setiap generasi.

Konsep: lihat, cermati, lalu modifikasi adalah tipe masyarakat Yunani yang haus pengetahuan, mawas diri, tetapi dilain sisi membuka ruang diskursus yang memadai. Padat wacana dan memiliki semangat juang yang tajam perihal pengetahuan. Belum ada di abad ini yang mampu menyamai konsep mereka, para tokoh Yunani. Mereka generasi "penggiat" literasi.

~~~
Nabi Ilyas a.s, memerhatikan budaya ini lalu ikut mempelajari. Dia setuju untuk otentifikasi keramik Byblos ini, tetapi mengkhawatirkan banyak hal. Jika buah pemikiran yang telah terukir rapi itu dimusnahkan dan para pemikirnya telah tiada, maka musnahlah sudah. Nabi Ilyas a.s memandang perlu sebuah upaya unifikasi gagasan sembari mengupayakan kodifikasi dalam bentuk lain. Alat dan bahan yang bisa; tetap otentik, tidak kehilangan estetika dan tidak gampang untuk dimusnahkan.

Oleh karena masa perang terus meletus dimana-mana, tidak menutup kemungkinan susunan keramik ikut menjadi sasaran buta para musuh atau penyerang. Sang penerima wahyu kemudian merekomendasi untuk dituliskan pada bahan yang tidak berat dibawa-bawa atau dipindah tempatkan sewaktu-waktu, jika terjadi perang atau bepergian. Tidak perlu lagi membawa beban berat seperti keramik, tetapi dapat bertahan untuk waktu lama seperti halnya keramik.

Kulit pohon yang bernama Papyrus-lah yang menjadi pilihannya.

Tumbuhan Papyrus ini biasa tumbuh disekitar sungai atau daerah yang cukup lembab. Dari beberapa referensi disebutkan bahwa, cara membuat kulit pohon Papyrus menjadi bahan yang bisa ditulisi cukup mudah. Kulit pohon terluar diiris dan dipisahkan dan kulit dalamnya. Kulit dalam inilah yang tiriskan atau di press untuk mengurangi kandungan air, lalu dikeringkan agar dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat tulisan.

Salah satu kelebihan dari kertas Papyrus ini yaitu sifatnya yang tahan terhadap air/waterproof. Digadang-gadang kertas ini dapat bertahan hingga ribuan tahun. Beberapa naskah terkenal yang menggunakan kertas Papyrus yaitu Rhind Papyrus (papirus rhind), Turin Papyrus (papirus turin), naskah ini tersimpan di museum mesir di Turin Italia, dan Ebers  Papyrus (Papirus ebers) teks ini merupakan salah satu teks medis yang terkenal di dunia, Papyrus ini berisi tentang resep obat tradisional dan menunjukan bahwa bangsa Mesir kuno telah mengetahui adanya pembuluh darah. Dari nama jenis pohon inilah kemudian muasal kata kertas digunakan. Papirus, paper, papiere, papiros yang dalam arti bahasa inggris kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Kertas (Paper).

Seiring dengan perjalanan sejarah dan perkembangan teknologi, informasi primer (dalam segala hal) seperti halnya muasal kertas ini kemudian dikawinkan dengan perkembangan peradaban lalu dapat menghasilkan "perubahan-perubahan fundamental".

Poinnya bahwa, tidak hanya Nabi Ilyas a.s, generasi Nabi pendahulunya, pun para Nabi dan Rasul setelahnya, telah membuka tabir, menghadirkan informasi primer (lain) yang kemudian menjadi sandaran perkembangan peradaban kita saat ini.

Mereka, para Nabi tidak hanya berkutat pada kitab agama yang kaku dan konvensional. Mereka membawa perubahan fundamental, menyentuh pelbagai sendi kehidupan, terutama tentang Ilmu pengetahuan. Tugas mulia untuk Mencerahkan.
Share:

Jumat, 02 November 2018

Jalan Naskah Disway.id (Dahlan Iskan Site)

Saya punya kebiasaan baru sejak awal tahun, tidak tahu persis waktu mulainya, sesingkat yang diingat, sekitar januari 2018 lalu. Menunggu pagi; Cek facebook untuk masuk dalam group Dahlan Iskan (Selanjutnya; DahlanIs) dan membaca Opini beliau yang terbit setiap hari antara pukul 6.20-6.58 Wita, meninggalkan jejak komentar atau emoticon reaction lalu tidur kembali.

Banyak hal menarik yang disuguhkan oleh mantan menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini dalam setiap opini-opini paginya, segala hal diceritakan secara mendetail, sedetail-detailnya sampai seolah kita masuk "terjerumus" dalam alur tulisan. Kalimat-kalimatnya hidup, bergerak dan berdialog. Kita seperti sedang menyaksikan sebuah video, bukan sedang membaca tulisan. Hebat!

Salah satu khas tulisan yang tertangkap olehku secara kasat mata adalah tanda baca "titik". Hampir setiap jedah kalimat menggunakan titik, khas, ala DahlanIs. Pernah dalam beberapa kesempatan saya membagikan tulisan beliau, beberapa teman bertanya soal 'titik' itu, dalam celoteh saya menjawab; mungkin beliau sudah cukup tua, tidak hanya dalam beraktifitas tubuh jasmani, dalam menulispun beliau kelelahan, akhirnya banyak berhentinya, seperti orang berjalan kaki.

Adigium yang saya selalu dengar, kembali menemukan padanannya. Bahwa penulis hebat adalah seorang pembaca yang ulung. Siapa yang tidak kenal seorang DahlanIs, siapa yang tidak pernah mendengar sepakterjang karier beliau dalam dunia tulis-menulis dan jurnalistik. Tokoh yang oleh penggemarnya biasa disapa dengan panggilan akrab "Abah" ini adalah mantan CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group yang bermarkas di Surabaya. Kariernya dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur pada tahun 1975. Setahun kemudian, Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo, hingga akhirnya di tahun 1982, DahlanIs memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang (Wikipedia). 

Bapak kelahiran 17 Agustus 1951 ini, memiliki nama lengkap Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan, lahir di Magetan, Jawa Timur,  saat ini berusia 67 tahun. Masih "sangat muda" menurut beliau dalam sela-sela bait tulisannya. Hanya tentu saja itu cukup tua jika perbandingannya adalah saya. Satu hal, bahwa, semangat kami dalan tulis-menulis sama!

Saya jatuh cinta, gaya menulisnya, semangat menulisnya, dan tentu saja isi tulisannya. Tidak semua orang bisa menulis setiap hari dengan materi tulisan yang cakep. Informatif dan berbobot. Semua hal bisa menjadi tulisan, tapi sangat jarang seorang penulis dapat mengemas suatu peristiwa dalam bentuk naskah yang apik. DahlanIs jagonya. Facebook semakin bernilai saat saya diizinkan bergabung dalam group DahlanIs.

Isu-isu politik dunia, perkembangan ekonomi, sosial, budaya global, sampai persoalan remeh-temeh di kemas dalam tulisan yang mengalir dan asyik di baca oleh DahlanIs. Pun persoalan dalam negeri, tidak luput jadi santapan sarapan "tulisan pagi" seorang Dahlan. Sekali lagi, hebat!

Ciri lain dalam tulisan DahlanIs yang selalu saya dapati adalah penyertaan nama salah satu penyanyi dangdut pendatang baru asal Surabaya, Via Vallen namanya. Saya tidak tahu persis mengapa DahlanIs sering menyelipkan nama penyanyi dangdut tersebut dalam beberapa tulisannya. Yang pasti, selipan nama itu selalu menambah rius renyah tulisannya. Hiasan yang bermakna dan tentu tidak mengurangi nilai tulisan.

Dalam tulisan-tulisan DahlanIs lah saya mendapati informasi primer yang berimbang terkait dengan isu politik, ekonomi, kebudayaan dalam dan luar negeri. Informasi yang semakin hari semakin sulit ditemukan di media mainstream Nasional. Poin plus lainnya, DahlanIs selalu berhasil mengulas peristiwa-peristiwa tersebut satu hari lebih cepat dari media lain. Hebat!

Di sela tulisan yang mengulas hal atau peristiwa besar yang menyita perhatian publik, DahlanIs juga selalu menyajikan tulisan ringan seperti cacatan perjalanan atau tempat-tempat menarik yang dikunjunginya. Seperti halnya tulisan terkait politik, catatan perjalanan ini berlatar dalam dan luar negeri. Membacanya, kita seperti berada di luar sana dan melewati setiap perihal yang dijabarkannya dalam bait tulisan. Tulisan yang benar-benar hidup dan inspiratif.

Benar. Sekali lagi, benar, ungkapan bahwa, para penulis menemukan keabadian. Abadilah Disway.id.

Akhirnya, saya berharap semoga akan banyak DahlanIs-DahlanIs lain dalam negeri Via Vallen ini, agar keabadian menyertai. Panjang umur Pak DahlanIs, Terimakasih!

Share: