Rabu, 30 April 2014

Surat Cinta Buat SBY

Surat Cinta ke 3 (terakhir) Untuk Sang Presiden[1]
Refleksi Sampang & Hukum Sejarah

Surat cinta ketiga sekaligus yang terakhir ini InsyaAllah akan dihadirkan dalam sebuah buku berjudul : Presiden SBY & Syiah Sampang: Kisah Harapan yang Terbengkalai.

Sebuah kumpulan tulisan catatan atas Lemahnya Negara /Tidak hadirnya negara membela hak pengungsi Sampang Semoga generasi mendatang melihat bagaimana kekuasaan politik telah menggerogoti rasa kemanusiaan yang sangat sensitif jika dirinya disinggung tetapi tampak biasa saja ketika martabat bangsa disadap oleh kepentingan internasional dan kelompok agama yang memaksakan kehendaknya.

Wahai Sang Presiden, tengoklah duka mereka, sebentar lagi duka itu akan membawa pesan pada kehidupan Anda setelah 2014 Semoga sejarah tidak menghukum Anda, karena kami yakin itikad baik Anda, tetapi semua aparatus negara ada dalam kendali Anda, semoga Anda tidak gagal membaca arah dari aparatus Anda yang mungkin bergerak atas arahan Anda tetapi menggunting dalam lipatan, wajahnya tampak utuh di depan Anda tetapi terbelah ketika berada di belakang Anda Karena bisa jadi mereka tahu bahwa arahan Anda TIDAK TERARAH sehingga bisa diarahkan dalam kepentingan aparatus Anda.

Aparat ini wajahnya memang menghadap kebelakang, lisan kebijaksanaan dan kecendekiawanan tidak menjadi jaminan bahwa di situ tidak ada ego dan watak intelektual yang arogan, karena tampaknya intelektual kita adalah semata kesarjanaan yang penuh gelar akademik bukan tradisi yang bercawan kebijakan

Buku ini bukan ulasan teologis, semata-mata untuk mendokumentasikan kepongahan negara lewat kepemimpinan yang lemah dan jiwa yang tersanjung oleh pujian, tersakiti oleh hinaan yang mungkin tampak hidup dengan hanya urusan menyapa pujian dan mengklarifikasi hinaan

Wahai Sang Presiden berhentilah sejenak bicara demokrasi yang Anda banggakan, karena kami tidak bisa membanggakan demokrasi Anda tanpa perhatian sepenuhnya untuk menuntaskan masalah kemanusiaan. Ini bukan sunni, bukan Syiah, ini bukan partai D, atau Partai bukan D, ini masalah MANUSIA YANG TERANIAYA, ini MANUSIA YANG TERHINAkan oleh bangsanya sendiri, masih adakah Anda bersama negara yang Anda pimpin...
  
A.m.Safwan
(Madrasah Murtadha Muthahhari RausyanFikr Institute)






[1] Tulisan ini dikopy pada postingan akun facebook anonym RousyanFikr Institute. Dengan tidak bermaksud untuk mengklaim atau semacamnya, hanya ingin berbagi tulisan yang baik untuk diketahui oleh banyak pihak.
Share:

Senin, 14 April 2014

Analisis Solusi Konsumerisme


Sebagai sebuah fenomena sosial, konsumerisme menunjuk kepada gaya hidup yang mengukur kebahagiaan dari sisi kepemilikan barang tertentu, gaya hidup hedonis membentuk pola hidup yang aktivitasnya lebih cenderung untuk mencari kesenangan hidup seperti senang membeli barang mahal yang disenanginya, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian, mental seperti ini akan membentuk paradigma konsumtif dan pragmatis. Akibatnya segala sesuatu yang serba instan menjadi sasaran yang paling digemari. Dalam ranah masyarakat konsumer, hasrat direproduksi lewat ide-ide yang terbentuk lewat proses sosial. Jean Baudrillard (1929-1990) misalnya melihat bahwa struktur nilai yang tercipta secara diskursif menentukan kehadiran hasrat. Struktur nilai dalam realitas masyarakat konsumer ini menurutnya mengejawantah dalam kode-kode. Produksi tidak lagi menciptakan materi sebagai objek eksternal, produksi menciptakan materi sebagai kode-kode yang menstimulasi kebutuhan atau hasrat sebagai objek internal konsumsi[1].

Dalam pandangan Sigmund Freud 1856-1939) hasrat untuk mengonsumsi secara mendasar adalah sesuatu yang bersifat instingtual. Ia berada dalam fase pertama perkembangan struktur psikis manusia: yaitu Oral (id). Pada fase id ini semua tindakan mengacu atau didasari oleh prinsip kesenangan-kesenangan yang bersifat spontan. Adalah jelas bahwa tindakan untuk mencapai kepuasan dan kesenangan spontan ini dalam fase id bersifat irasional. Mengkonsumsi pada awalnya terkait dengan tindakan menggapai kepuasan secara irasional, spontan dan temporal.[2]

Pandangan lainnya terkaid dengan bagaimana hegemoni media massa mempengaruhi peradigma, Menurut Thomas kuhn (1922-1996) konsep  paradigma adalah hasil konstruksi sosial. Teori atau kerangka konseptual ikut andil dalam pembentukan semesta[3]. Keadaan yang menjadi objek dan kerangka berfikir manusia yang menjadi subjek dalam perkembangan budaya dengan gampang dikonstruksi oleh media menuju bentuk yang memastikan masyarakat menjadi konsumtif. Apabila kita perhatikan bagaimana mekanisme promosi kapitalistik ini, bahwa dasarnya adalah penyempitan wawasan kita pada satu nilai, yaitu pemenuhan hasrat diri yang tak berujung. Industry mensugestikan bahwa kita berhak atas perasaan yang well, berhak atas kebahagiaan pribadi, lalu kita di manipulasi menjadi egosentrik, bahkan egois.

Dari analisis diatas dapat dikatakan bahwa, perubahan kebudayaan tidak hanya berbicara masalah subjek (Masyarakat) semata, tetapi juga objek yang menjadi ladang tumbuh dan berkembangnya subjek. Berangkat dari pemikirin ini, maka penulis menggap solusi harus hadir dalam dua dimensi tersebut. Pada dimensi subjek, dalam hal ini masyarakat yaitu :

Simpul kesadaran tentang sebuah prinsip paradigma Intelektual. Manusia (Subjek) adalah satu-satunya makhluk yang mampu mengambil jarak dengan stimulan-stimulan yang sifatnya fisik dan mengolahnya dalam susbtratum simbolik untuk kemudian mengahasilkan simbol-simbol baru.[4] Semestinya masyarakat tidak menjadi subjek yang gamblang untuk terprofokasi oleh media, masyarakat sebagai animal simbolicum (Makhluk simbolik) seharusnya memiliki konsep mandiri untuk menentang kosep lain yang mendeterminasinya lewat daya atau stimulan eksternal. Tentu simpul kesadaran intelektual adalah hal dibutuhkan, agar dapat mengolah kebutuhan hidup dan menyikapi hasrat yang tidak berlebihan.

Persoalan hasrat, manusia jelas dan pasti dapat mengetahui keberadaan dirinya, bahwa berdasarkan fitrahnya, ia menginginkan kenikmatan dan kesenangan (kelezatan), kedammaian dan kebahagiaan. Berusa menghindari kesengsaraan dan kegetiran.[5] Konsumerisme mangarahkan hasrat kenikmatan pada barang-barang mewah hasil produksi (Fisik-Materi). Hasrat yang lahir berdasarkan persepsi indrawi adalah hasrat yang tidak hakiki, persepsi yang ada pada diri manusia masih mempunyai kekurangan dan belum cukup untuk memuaskan tendensi fitri dan instingtif dalam mengenali dan menyingkap beragam hakikat.[6]

Pertama, hasrat ini hanya berkaitan dengan dari fenomena objek yang terindrai dan perkara yang hanya merupakan aksiden dan tidak dapat meliputi semua kualitas. Kedua, bidang kerja indrawi hanya terbatas pada kondisi tertentu, akibatnya tidak dapat mengahdirkan makna objek secara sempurnah.[7]

Oleh karena itu selayaknya kita memfokuskan perhatian pada hasrat-hasrat dan tendensi dengan penuh ketelitian, daya kritis yang tinggi, kesabaran dan ketabahan dengan merenungkan dan menghindarkan diri penghukuman “asal jadi”, sehingga tidak tidak memunculkan pandangan tergesah-gesah yang pada gilirannya mengarahkan kita pada kenikmatan yang manipulatif, karena pada dasarnya hasrat yang terbentuk dari materi yang terbatas hanya akan melahirkan hasrat kenikmatan partikular yang tidak akan ada habisnya serta tidak hakiki. seperti kenikmatan yang dihadirkan oleh paham Konsumerisme.



[1] Jean Baudrillard, Marxime dan Agama, hlm 5
[2] Sigmund freud, Percik Pemikiran Kotemporer, Psiko analisis. Hlm 10
[3] Thomas kuhn, Menyoal objektifisme ilmu pengetahuan, paradigma kontruktivis, hlm 143
[4] Ernst Cassirer, Percik pemikiran kontemporer, filsafat budaya hlm 186
[5] M.T. Mishbah Yazdi, jagad diri, hlm 49
[6] Ibid, hlm 34
[7] Ibid, hlm 35


Share:

Budaya Konsumerisme


Kebudayaan dewasa ini telah dipengaruhi oleh demikin pesatnya perkembangan masyarakat dunia, dan masyarakat sadar akan hal tersebut. Kesadaran itulah yang semestinya menjadi sebuah simpul untuk membangun reaksi kritis terhadap semua keadaan yang mempengaruhi kebudayaan, sehingga kita dapat memberikan penilaian pada segala unsur kebudayaan yang terbangun. Sebuah keseharusan substansi kebudayaan terus terjaga kemurniannya dari kontaminasi kebudayaan lain yang tidak sejalan dengan ideologi penganut kebudayaan dan kearifan lokal, sebagai akibat dari liberalisasi dan globalisasi. 

Pemikiran tentang kebudayaan selalu dihadapkan pada polemik dimensi mana yang lebih menentukan, dimensi sukjek (kesadaran) atau dimensi objek (Realitas).  Hal tersebut merupakan dua hal yang terus diperbincangkan oleh para pemikir-pemikir kontemporer. -Reformasi budaya tanpa subjek adalah mustahil, karena setiap perubahan kolektif membutuhkan atau menuntut terlebih dahulu adanya ruang gerak subjek sebagai dimensi yang menjalankan dan menjaga kebudayaan.
[1] Subjek dalam hal ini adalah masyarakat memang sangat mempengaruhi tentang tumbuh kembangnya sebuah kebudayaan, tanpa menafikan tentang realitas (Objek). kondisi dan aktifitas masyarakat merupakan  cerminan konsep kebudayaan yang terbangun, masyarakat yang merupakan sekolompok atau komunitas yang terjalin karena sistem, dan tradisi tertentu,[2]memiliki tugas dan tanggung jawab yang diemban untuk tetap menjaga agar semua unsur yang memagari eksistensi kemasyarakatan dalam bingkai kebudayaan yang dimilikinya tetap terjaga.
Perkembangan kehidupan masyarakat yang terkontaminasi secara gamblang oleh kehidupan masyarakat dunia (Globalisasi), dapat memberi efek yang tidak baik dalam perkembangan kebudayaan yang ada. Kebebasan yang terjadi dan kurangnya daya kritis bisa menjadi pemicu terjadinya interpolasi dalam perkembangan kebudayaan. Salah satu efek dari kebebasan dan globalisasi adalah pesatnya kebutuhan hidup Sehingga memicu daya konsumen yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan, namun terkadang kenyataanya, masyarakat mengonsumsi sesuatu bukan dari segi fungsionalnya melainkan tren yang sedang berkembang. Terpojok oleh kebutuhan hidup menjadikannya masyarakat yang konsumtif yang tidak kritis. Produk yang dikemas dalam bahasa pasar kapitalisme membutahkan kesadaran yang berefek pada lahirnya paham yang tidak sesuai dengan substansi budaya yang dimilikinya. Akhirnya, tidak jarang pada kondisi kekinian kita temukan masyarakat pribumi lebih identik dengan kebudayaan lain.

Disisi lain, konsumsi memang bersifat mutlak. Keberlangsungan hidup manusia tidak bisa terlepas dari asupan pangan yang mereka nikmati. Peningkatan intensitas kebutuhan komoditas konsumsi secara rasio memang berkorelasi positif dengan pertumbuhan jumlah manusia. Tetapi pada perkembangannya kini, manusia terjebak pada kompleksitas ragam komoditi yang hendak (secara sadar atau tidak) mereka konsumsi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari konstruksi sosial yang dibangun massa di dalam lingkungan manusia itu sendiri. Ada implikasi yang kurang baik bagi manusia kaitannya dengan hal ini, berupa perubahan budaya dan pergeseran makna budaya yang ada dalam kultur masyarakat, salah satunya adalah budaya konsumtif terhadap benda (material culture), apalagi sampai pada tingkatan yang memunculkan paham konsumerisme.

Keterasingan gerenerasi muda kekinian terhadap budaya bangsa dan negaranya menjadi sasaran empuk bagi produsen kapitalisme modern dalam membangun paradigma budaya konsumtif yang baru. Media massa, adalah salah satu pilihan untuk menghegemoni hasrat masyarakat, budaya konsumtif direproduksi lewat ide-ide, bukan lagi pada banyaknya barang yang diproduksi. Produksi tidak lagi menciptakan materi sebagai objek eksternal, produksi menciptakan materi sebagai kode-kode yang menstimulasi kebutuhan atau hasrat sebagai objek internal konsumsi.
[3] Konsumenarisme meniscayakan hiperealitas.[4] Makna objek melebihi realitas objektifnya. Produk yang sebenarnya tidak terlalu bernilai jual tinggi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, dikemas menarik dalam bahasa pasar kapitalisme lewat media massa menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan.
Hal tersebut tentu akan membawa dampak negatif dalam keberlansungan perkembangan budaya dalam masyarakat untuk generasi selanjutnya, terasing dalam budaya bangsanya sendiri, bukan hanya membuat mereka tampak terlihat seperti bukan dirinya dimasyarakat (Subjek), tepai bisa berdampak pada pudar dan hilangnya eksistensi kebudayaan yang ada pada masyarakat itu sendiri (Objek).

Makalah syarat Screning LK II Unhas


[1] Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran kontemporer, hlm 185
[2] Murtadha Muthahhari, Masyarakat dan sejarah, hlm 5
[3] Jean Baudrillard, Marxime dan Agama, hlm 5
[4] kecenderungan membesarkan sebagian fakta dan sekaligus menyembunyikan fakta lain


Share: