Analisis Solusi Konsumerisme


Sebagai sebuah fenomena sosial, konsumerisme menunjuk kepada gaya hidup yang mengukur kebahagiaan dari sisi kepemilikan barang tertentu, gaya hidup hedonis membentuk pola hidup yang aktivitasnya lebih cenderung untuk mencari kesenangan hidup seperti senang membeli barang mahal yang disenanginya, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian, mental seperti ini akan membentuk paradigma konsumtif dan pragmatis.

Akibatnya segala sesuatu yang serba instan menjadi sasaran yang paling digemari. Dalam ranah masyarakat konsumer, hasrat direproduksi lewat ide-ide yang terbentuk lewat proses sosial. Jean Baudrillard (1929-1990) misalnya melihat bahwa struktur nilai yang tercipta secara diskursif menentukan kehadiran hasrat. Struktur nilai dalam realitas masyarakat konsumer ini menurutnya mengejawantah dalam kode-kode. Produksi tidak lagi menciptakan materi sebagai objek eksternal, produksi menciptakan materi sebagai kode-kode yang menstimulasi kebutuhan atau hasrat sebagai objek internal konsumsi.

Dalam pandangan Sigmund Freud 1856-1939) hasrat untuk mengonsumsi secara mendasar adalah sesuatu yang bersifat instingtual. Ia berada dalam fase pertama perkembangan struktur psikis manusia: yaitu Oral (id). Pada fase id ini semua tindakan mengacu atau didasari oleh prinsip kesenangan-kesenangan yang bersifat spontan. Adalah jelas bahwa tindakan untuk mencapai kepuasan dan kesenangan spontan ini dalam fase id bersifat irasional. Mengonsumsi pada awalnya terkait dengan tindakan menggapai kepuasan secara irasional, spontan dan temporal.

Pandangan lainnya terkait dengan bagaimana hegemoni media massa mempengaruhi paradigma, Menurut Thomas Kuhn (1922-1996) konsep  paradigma adalah hasil konstruksi sosial. Teori atau kerangka konseptual ikut andil dalam pembentukan semesta. Keadaan yang menjadi objek dan kerangka berpikir manusia yang menjadi subjek dalam perkembangan budaya dengan gampang dikonstruksi oleh media menuju bentuk yang memastikan masyarakat menjadi konsumtif.

Apabila kita perhatikan bagaimana mekanisme promosi kapitalistik ini, bahwa dasarnya adalah penyempitan wawasan kita pada satu nilai, yaitu pemenuhan hasrat diri yang tak berujung. Industry menyugestikan bahwa kita berhak atas perasaan yang well, berhak atas kebahagiaan pribadi, lalu kita di manipulasi menjadi egosentris, bahkan egois.

Dari analisis di atas dapat dikatakan bahwa, perubahan kebudayaan tidak hanya berbicara masalah subjek (Masyarakat) semata, tetapi juga objek yang menjadi ladang tumbuh dan berkembangnya subjek. Berangkat dari pemikiran ini, maka penulis menganggap solusi harus hadir dalam dua dimensi tersebut. Pada dimensi subjek, dalam hal ini masyarakat yaitu:

Simpul kesadaran tentang sebuah prinsip paradigma Intelektual. Manusia (Subjek) adalah satu-satunya makhluk yang mampu mengambil jarak dengan stimulan-stimulan yang sifatnya fisik dan mengolahnya dalam susbtratum simbolik untuk kemudian menghasilkan simbol-simbol baru. Semestinya masyarakat tidak menjadi subjek yang gamblang untuk terprovokasi oleh media, masyarakat sebagai animal simbolicum (Makhluk simbolik) seharusnya memiliki konsep mandiri untuk menentang konsep lain yang mendeterminasinya lewat daya atau stimulan eksternal. Tentu simpul kesadaran intelektual adalah hal dibutuhkan, agar dapat mengolah kebutuhan hidup dan menyikapi hasrat yang tidak berlebihan.

Persoalan hasrat, manusia jelas dan pasti dapat mengetahui keberadaan dirinya, bahwa berdasarkan fitrahnya, ia menginginkan kenikmatan dan kesenangan (kelezatan), kedamaian dan kebahagiaan. Berusa menghindari kesengsaraan dan kegetiran. Konsumerisme mengarahkan hasrat kenikmatan pada barang-barang mewah hasil produksi (Fisik-Materi). Hasrat yang lahir berdasarkan persepsi indrawi adalah hasrat yang tidak hakiki, persepsi yang ada pada diri manusia masih mempunyai kekurangan dan belum cukup untuk memuaskan tendensi fitri dan instingtif dalam mengenali dan menyingkap beragam hakikat.

Pertama, hasrat ini hanya berkaitan dengan dari fenomena objek yang terindrai dan perkara yang hanya merupakan aksiden dan tidak dapat meliputi semua kualitas. Kedua, bidang kerja indrawi hanya terbatas pada kondisi tertentu, akibatnya tidak dapat menghadirkan makna objek secara sempurna.

Oleh karena itu selayaknya kita memfokuskan perhatian pada hasrat-hasrat dan tendensi dengan penuh ketelitian, daya kritis yang tinggi, kesabaran dan ketabahan dengan merenungkan dan menghindarkan diri penghukuman “asal jadi”, sehingga tidak memunculkan pandangan tergesa-gesa yang pada gilirannya mengarahkan kita pada kenikmatan yang manipulatif, karena pada dasarnya hasrat yang terbentuk dari materi yang terbatas hanya akan melahirkan hasrat kenikmatan partikular yang tidak akan ada habisnya serta tidak hakiki. seperti kenikmatan yang dihadirkan oleh paham Konsumerisme.

Penulis: La Said Sabiq

Referensi:

  • Jean Baudrillard, Marxime dan Agama. Halaman 5
  • Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kotemporer. Halaman 10
  • Thomas Kuhn, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan, Paradigma Konstruktivisme. Halaman 143
  • Ernst Cassirer, Percik pemikiran kontemporer, filsafat budaya. Halaman 186
  • M.T. Mishbah Yazdi, Jagad Diri. Halaman 49



0 comments:

Posting Komentar

https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5