Tapi bagaimana jika ternyata, filsafat
bisa datang dalam bentuk dongeng cerita, tokoh-tokoh sederhana, atau pertanyaan
anak-anak? Di tangan Jostein Gaarder, begitulah filsafat, receh, renyah, dan sederhana.
Gaarder seperti tahu satu rahasia sederhana, manusia sebenarnya senang berpikir tentang hal-hal besar, hanya saja sering takut dengan cara filsafat membicarakannya. Maka ia mengambil filsafat dari rak buku yang tinggi, menurunkannya ke lantai, lalu mengajak kita duduk bersamanya.
Membaca Dunia Sophie (Sophie's World) misalnya, rasanya seperti membaca novel biasa, sampai tiba-tiba kita disodori pertanyaan, Siapa sebenarnya kita? Dari mana dunia berasal? Mengapa sesuatu ada? Pertanyaan-pertanyaan yang dalam buku filsafat mungkin terasa seperti batu besar, oleh Gaarder dilemparkan seperti kerikil ke dalam kolam. Kecil, ringan, tetapi riaknya ke mana-mana.
Bukan receh dalam arti dangkal. Tapi sebaliknya, Ia membuat pertanyaan besar terdengar sederhana. Membuat filsafat seperti obrolan yang muncul ketika kita sedang menikmati kopi, lalu tiba-tiba percakapan itu membawa kita kepada sederet filsuf dengan segala pemikirannya.
Dalam Dunia Sophie, seorang gadis remaja belajar sejarah filsafat melalui surat-surat misterius. Tidak ada mimbar akademik yang kaku.
Gaarder memainkan cara yang sama dalam Dunia Anna. Di buku ini filsafat tidak hanya bertanya tentang manusia, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan alam.
Kemudian ada Dunia Cecilia, yang menghadirkan kematian, kehidupan, dan pertanyaan tentang keberadaan melalui kisah seorang anak perempuan. Tema yang biasanya terasa berat itu justru disampaikan dengan kelembutan.
Yang paling apik menurut saya adalah buku The Solitaire Mystery. Bagaimana Gaarder menyisip filsafat ke dalam lebar-lembar kartu yang sering kita mainkan di sela-sela kesibukan kita. Atau misalnya dalam The Christmas Mystery, pertanyaan tentang waktu, takdir, iman, dan keberadaan bergerak melalui kisah yang menyerupai dongeng.
Mungkin memang begitulah filsafat seharusnya dimulai, bukan dari hafalan, istilah-istilah rumit, tetapi sesuatu yang sederhana dan hidup di sekitar. Di situlah kelihaian Gaarder. Ia tidak membuat filsafat menjadi lebih tinggi. Ia justru membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih filosofis.
Secangkir kopi bisa menjadi pertanyaan tentang keberadaan. Seorang anak bisa menjadi pintu menuju metafisika. Kematian bisa menjadi jalan untuk memahami arti kehidupan. Bahkan selembar surat dapat membawa kita berkelana dari dunia sehari-hari menuju pertanyaan yang selama ribuan tahun menghantui manusia.
Gaarder barangkali bukan filsuf dalam pengertian buku-buku tebal. Ia seperti pedagang keliling yang membawa filsafat dari satu rumah ke rumah lain, mengetuk pintu pembaca dengan cerita.
Ia tidak berkata “ayo belajar filsafat”, ia hanya berkata, “coba kita pikirkan sebentar”, dan kalimat sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang menjalar di kepala kita.
Setelah selesai membaca buku Gaarder, kita mungkin mulai memandang dunia dengan sedikit berbeda. Langit tidak lagi sekadar langit. Waktu tidak lagi sekadar angka pada jam. Kematian bukan hanya akhir. Dan pertanyaan seorang anak yang terdengar “receh” bisa ternyata lebih serius daripada jawaban orang dewasa yang merasa sudah mengetahui segalanya.
Mungkin itulah keistimewaan Jostein Gaarder, Ia membuat filsafat tidak terasa seperti filsafat. Filsafat menjadi cerita. Menjadi permainan. Menjadi rasa ingin tahu. Menjadi kegelisahan dan dongeng kecil sebelum tidur.
Dan ketika kita sadar bahwa kita sedang berfilsafat, semuanya sudah terlambat. Kita sudah terlanjur berpikir. Imajinasi kita sudah jauh melampaui batas.
Penulis: La Said Sabiq
.webp)
