Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Dalam dunia sastra, apalagi literary canon atau karya-karya yang dianggap membentuk tradisi sastra dunia, Paulo Coelho mungkin bukan nama pertama yang akan dikenal-sebut jika dibanding William Shakespeare atau Franz Kafka.

Tapi bagi jutaan pembaca, ia nama yang jauh lebih personal, seorang penulis novel yang pernah datang melalui sebuah buku, lalu meninggalkan sebuah pertanyaan tentang kehidupan.

Bagi saya, rasanya Coelho salah satu penulis yang berhasil membawa sastra keluar dari ruang eksklusif, lalu menjadikannya seperti ruang perenungan tentang hidup, pilihan, kehilangan, cinta, spiritualitas, dan pencarian makna.

Coelho punya kemampuan yang jarang dimiliki sastrawan lain, menyampaikan gagasan besar melalui cerita yang sederhana.

Melalui cerita-cerita kecil itu, ia menyelipkan pertanyaan-pertanyaan yang diam-diam bekerja di kepala kita, “apa sebenarnya yang kita cari? apakah kegagalan benar-benar kegagalan? apakah kehilangan selalu berarti kehancuran? dan, yang paling penting, apakah kita sedang menjalani kehidupan yang kita pilih sendiri atau kehidupan yang dipilihkan keadaan untuk kita?

Karena itu, membaca Coelho sering kali terasa seperti membaca kisah orang lain, tetapi tiba-tiba kita menemukan diri sendiri di dalamnya.

Mungkin karena pernah mengalami perjalanan seperti itu, Coelho mampu menulis tentang pencarian dengan begitu meyakinkan. Ia tidak hanya berbicara kepada pembacanya tentang keberanian mengejar mimpi. Ia pernah mengalami sendiri bagaimana mimpi itu berkali-kali ditinggalkan, ditunda, bahkan mungkin dianggap tidak masuk akal.

Seorang penulis yang kita kenal begitu fasih berbicara tentang perjalanan hidup, pencarian diri, kehilangan, keberanian, dan takdir, ternyata terlebih dahulu harus menjalani semua kegagalan dalam kehidupannya sendiri.

Ya, betul. Seorang Coelho pernah kebingungan, kehilangan arah, berkali-kali berhadapan dengan kegagalan, bahkan sempat meninggalkan impiannya untuk menjadi penulis.

Kehidupan Normal Paulo Coelho

Hari ini namanya dikenal di berbagai penjuru dunia. Buku-bukunya diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dan dibaca oleh jutaan orang.

Karyanya berjudul The Alchemist bahkan dicatat dalam Guinness World Records sebagai buku yang diterjemahkan dalam bahasa asing paling banyak, tidak kurang dari 69 bahasa di seluruh dunia. Menjadikannya salah satu penulis paling dikenal dalam sastra populer dunia.

Tapi sebelum semua itu, Coelho pernah menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari bayangan kita tentang seorang pengarang besar, seorang novelis handal.

Ia bekerja di industri musik, menjadi penulis lirik dan mengejar karier profesional yang secara kasatmata lebih menjanjikan daripada hidup sebagai penulis yang belum dikenal.

Tetapi hidup kadang mempunyai cara yang aneh untuk memisahkan seseorang dari sesuatu yang sebenarnya bukan tujuan akhir hidupnya.

Di suatu hari, 13 Agustus 1979, di tengah terik matahari Brazil, Coelho datang ke kantor CBS dan dipanggil menghadap Juan Truden, presiden CBS Brasil saat itu, hanya untuk mendengar kalimat singkat “My friend, you're fired”.

Bagi Coelho, Pemecatan itu bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Itu seperti tertutupnya sebuah pintu kehidupan. Ia merasa sudah mencapai posisi tinggi yang mungkin ia kejar dalam industri rekaman. Karena perusahaan rekaman besar di Brasil hanya ada sedikit waktu itu, ia merasa hampir tidak mungkin meraih posisi yang sama di perusahaan lain.

Cerita itu digambarkan Coelho dalam salah satu pengantar karyanya berjudul “The Fifth Mountain” berlatar kisah perjalanan hidup dan masa pelarian Nabi Elia (Ilyas as.) dari pembantaian nabi-nabi di Babilonia zaman Raja Ahab.

Ia terpuruk, kebingungan, dan mencoba berbagai hal. Bahkan setelah meninggalkan dunia industri musik, Coelho masih belum sepenuhnya berani memilih kehidupan sebagai penulis. Cita-cita menjadi penulis yang muncul sejak muda itu berulang kali tertunda oleh kebutuhan untuk mencari kehidupan yang dianggap lebih “normal” dan aman.

Karir seorang penulis memang sudah penuh tanda tanya sejak dulu, tidak hanya di Indonesia, kerentanan profesi ini menyeberang lautan dan menyingkirkan peta geografis.

Masa Depan Seorang Penulis

Barangkali apa dihadapi Coelho saat itu serupa momok bagi kebanyakan penulis di dunia sampai saat ini. Di negara dengan industri buku yang jauh lebih matang pun, mayoritas penulis tidak hidup nyaman hanya dari menulis buku.

Data Authors Guild dari survei 5.699 penulis di seluruh dunia tahun 2022, median pendapatan penulis full-time dari buku hanya US$10.000 per tahun. Jika digabung dengan seluruh pekerjaan terkait kepenulisan, misalnya mengajar, berbicara, editing, coaching, jurnalistik, dan sebagainya, mediannya menjadi US$20.000.

Dalam survei itu, terhadap perilaku pembaca di Amerika misalnya, hanya 19% buku teks yang dibaca diperoleh melalui pembelian buku cetak atau ebook baru (royalti paling besar penulis). Selebihnya, berasal dari buku bekas, perpustakaan, koleksi pribadi, pinjaman, atau sumber lain yang tidak bernilai ekonomis langsung kepada Penulis.

Di Indonesia masalahnya jauh lebih unik, struktur pasar, daya beli, budaya membaca, minat dan daya baca, serta kualitas ekosistem industri, ikut memengaruhi tingkat keparahan karir Penulis.


Data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada Mei 2026 menyebut bahwa tiras awal yang dahulu lazim 3.000–5.000 eksemplar, kini 1.500 eksemplar saja sudah dianggap baik, sementara royalti penulis umumnya sekitar 10–12% dari harga buku. Kita bisa hitung sendiri pendapatan Penulis.

IKAPI sendiri menegaskan bahwa rendahnya pendapatan penulis bukan hanya persoalan pajak royalti, tetapi terutama karena rendahnya volume penjualan atau kurangnya pembeli buku.

Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan bahwa minat baca masyarakat kita pada tahun 2025 masih tergolong rendah. Hanya sekitar 20,7% masyarakat rutin membaca tiap hari, sementara 17% responden hanya membaca sekali dan 15,4% lainnya jarang membaca.

Minimnya minat baca ini dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya kurang motivasi, minimnya akses ke bahan bacaan yang berkualitas, dan pengaruh budaya yang cenderung lebih mementingkan hiburan instan seperti media sosial.

Belum lagi jika kita bicara masalah lain, soal system atau lingkungan misalnya.

Dalam Konvensi Penerbit 2026, IKAPI menggambarkan system sektor perbukuan Indonesia seperti “over-regulated, under-supported, and taken for granted”. Penulis berada di awal rantai produksi tetapi sering berada di belakang dalam menikmati nilai ekonominya.

Mereka menyoroti persoalan dukungan pemerintah, promosi, pembajakan, akses buku, budaya baca, belanja buku pemerintah, dan dampak artificial intelligence (AI). IKAPI yakin, Indonesia tidak kekurangan penulis, tapi kekurangan ekosistem yang mampu mengubah karya penulis menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Ketika Sastra Menjadi Jalan Pulang

Memang keraguan Coelho untuk menjadi penulis tidak dijelaskan hanya oleh persoalan ekonomi penulis. Tapi ada bukti bahwa faktor ekonomi, stabilitas pekerjaan, tekanan keluarga, pengalaman kegagalan, dan ketidakpastian masa depan sebagai penulis saling bertemu dalam kehidupannya saat itu.

Coelho remaja sudah ingin menjadi penulis sejak awal. Masalahnya, orang tuanya tidak melihat profesi tersebut sebagai masa depan yang menjanjikan. Mereka menginginkan kehidupan yang lebih konvensional untuknya.

Barangkali, di tengah kenyataan bahwa menulis tidak selalu mampu menjanjikan kehidupan yang mapan, keputusan untuk meninggalkan pena dan memilih pekerjaan yang lebih pasti bukanlah sesuatu yang sulit dipahami.

Banyak orang akhirnya berdamai dengan keadaan, mimpi ditunda, idealisme dinegosiasikan, dan menulis diletakkan sebagai sesuatu yang boleh dicintai tetapi tidak harus dijadikan jalan hidup.

Paulo Coelho pun pernah berada pada persimpangan semacam itu. Ia pernah mencoba mengubur keinginannya menjadi penulis dan memilih karier yang lebih menjanjikan di industri musik.

Namun, ketika jalan yang dianggap lebih aman itu tiba-tiba tertutup, ia justru perlahan menemukan kembali sesuatu yang pernah ditinggalkannya. Sastra, yang dahulu hampir ia tinggalkan demi kehidupan yang lebih pasti, akhirnya menjadi jalan pulang baginya.

Jalan yang membawanya kembali kepada dirinya sendiri, kepada mimpi yang pernah dikuburnya, dan pada akhirnya kepada dunia yang kelak mengenal namanya.

Hari ini, namanya ada dalam daftar salah satu penulis sastra terbaik dunia. Elle Awards Spanyol pada 2008 bahkan memberinya gelar sebagai “Best International Writer”.

Coelho tampaknya memahami bahwa manusia lebih mudah menerima kebijaksanaan ketika kebijaksanaan itu datang sebagai pengalaman, bukan sebagai nasihat.

Ia bukan sekadar penulis yang pandai merangkai kata-kata indah. Ia adalah seorang pengarang yang menjadikan pengalaman hidup sebagai bahan bakar kepengarangannya. Ia mengambil kegelisahan, perjalanan, kegagalan, spiritualitas, cinta dan pencarian makna, lalu mengubah semuanya menjadi cerita.

Coelho tidak datang kepada pembaca sebagai seorang filsuf yang hendak mengajarkan bagaimana manusia harus menjalani hidup. Ia datang sebagai seorang pencerita, membawa kita mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya, membiarkan mereka tersesat, kehilangan, mencintai, berharap, dan menemukan jalan. Kemudian, tanpa terasa, kita menemukan bahwa perjalanan tokoh itu ternyata sedang berbicara tentang perjalanan kita sendiri.

Mungkin karena itu pula tulisan-tulisannya terasa begitu dekat, begitu “menggigit” dalam ceritanya yang ringan dan sederhana.

Pada akhirnya, mungkin Paulo Coelho tidak menjadi penulis karena ia menemukan jalan yang mudah menuju sastra. Ia menjadi penulis karena berkali-kali kehidupan menutup jalan lain di hadapannya. Dan barangkali buku terbaik yang pernah ia tulis sebenarnya adalah kehidupannya sendiri.

Penulis: La Said Sabiq
Penggemar Paulo

Referensi:


Buku ini berjudul asli The Broker, karya cemerlang novelis John Grisham. Diterbitkan kembali oleh Gramedia Pustaka Utama (2007) dengan versi terjemahan berjudul Sang Broker. Seperti kebiasaan Grisham, buku ini bergenre novel, dengan tebal buku 440 halaman.

Grisham memang dikenal luas sebagai penulis novel, biasanya berlatar hukum. Buku-bukunya seperti oase bagi insan hukum yang lingu-kelimpungan di tengah bahasa hukum yang cukup berat.

Lex dura sed tamen scripta; hukum itu keras dan begitulah bunyinya atau keadaannya, demi kepastian dan penegakannya.

Meskipun begitu, Grisham tidak sama sekali mengubah teori atau asas hukum baku seenak hati. Ia tetap menjaga kemurnian bahasa hukum, tetap pada asas kepastian dan teori-teori hukum.

Pada buku Sang Broker ini, Grisham kembali mengulik persoalan hukum. Tepatnya konsep hukum dan hubungan internasional. Prinsip-prinsip itu dijelaskan secara berserakan dalam beberapa sekuel cerita buku ini.

Negara dan Konspirasi

Meski analisisnya lebih kepada aktivitas intelijen, tetapi sedikit banyak memberikan gambaran tentang konsep berhukum dan hubungan negara-negara adikuasa dan segala konspirasinya dalam memperlakukan negara berkembang atau negara dunia ketiga.

Analisis peta geopolitik global yang dipadu dengan sentilan-sentilan kecil tentang hukum.

Tokoh utama dalam buku ini dijuluki “the broker”. Nama aslinya Joel Backman, dengan banyak nama samaran dalam pelariannya sebagai buronan beberapa negara besar. Marco lazzeri (Itali), Simon Wilson McAvoy (Australia), Ian Rex Hatterboro (Kanada), Giovanni Vero (Bologna), dan Mayor Herzog (Agen Itali untuk Kanada).

Backman bukan agen intelijen atau seorang ahli penyamaran. Dia hanya seorang pengacara yang berkantor di Washinton D.C. Ia jelas bukan pengacara kacangan.
Oval Office dan Pentagon seperti warung kopi baginya. Presiden Amerika adalah teman ngopi sekaligus rekanan dalam beberapa bisnis. Backman juga lah yang mendanai kampanye Mr. Presiden.

Joel Backman diburu karena ulahnya melakukan kejahatan yang berkaitan dengan rahasia negara. Israel, Rusia, China, Arab Saudi, dan Amerika, siap menggelontorkan uang banyak demi operasi pembunuhan Sang Broker.

Ia harus melakukan pelarian di beberapa negara setelah mendekam dalam penjara selama 6 tahun. Sejak awal, ia memilih penjara, itu bukan skenario buruk. Baginya, tak ada tempat paling aman di dunia saat menjadi buronan negara-negara besar selain ruang penjara federasi Amerika.

Atas “pengakuan” kejahatan lain, ia dituntut oleh Jaksa dan dinyatakan bersalah oleh Juri pada pengadilan Amerika dengan vonis 14 tahun penjara.

Mendapat pembebasan tanpa syarat saat setengah masa hukuman sudah dijalani, menjadi suatu yang menghawatirkan baginya, dan tentu menjadi headline koran-koran besar Amerika.

Untuk seorang berpengaruh seperti Backman, menjadi headline dalam pemberitaan koran The New York Times dapat membuat negara ini macet, lalu dengan cepat menenggelamkan isu apa pun. Bahkan skandal yang baru bersemi sekalipun. Kasus Backman memang disiapkan untuk itu, menyembunyikan banyak cerita miring yang harus disingkirkan oleh negara.

Tampaknya, equality before the law tidak sepenuhnya berlaku di sini. Demi kepentingan negara atau kekuasaan, hukum bisa dibuat menjadi tameng. Betapa sederhana konspirasi yang bisa direncanakan oleh negara untuk meloloskan kepentingan para elitenya.

Pembebasan Sang Broker dari penjara, tidak lain adalah usaha negara untuk mengurai benang merah kejahatannya terkait dengan rahasia negara.

Peta Kuasa Negara

Petaka Backman dimulai saat Ia mengetahui China mengorbitkan satelit canggih yang bisa mengalahkan peralatan hebat negara mana pun. Satelit ini diberi nama Neptunus.

Hanya Backman yang mengetahui, bahkan negaranya, Amerika, tidak tahu pemilik asli Neptunus.

China menyadari kelemahannya pada kelengkapan peralatan senjata konvensional dibanding Amerika atau negara-negara lain. Karenanya, mereka mengupayakan jalur teknologi rahasia berbasis satelit pengintai super canggih.

Neptunus memiliki kemampuan memotret gambar sampai pada ketinggian 35 ribu Mdpl, mendengar percakapan dua tentara di camp-camp perbatasan, mengintip gudang penyimpanan amunisi, atau bahkan merekam adegan saat Presiden negara mana saja bercinta dengan gadis yang diseludupkan di ruang kerjanya.

Neptunus pertama kali ditemukan tanpa sengaja oleh tiga mahasiswa Afganistan yang iseng melakukan hack pada satelit-satelit milik Amerika yang mengitari langit India. Mereka menemukan salah satu satelit yang sedikit berbeda dari kawanannya. Mengutak-atik lalu memanipulasi dan membuat sistemnya hanya bisa dioperasikan oleh mereka.

Neptunus ternyata tidak hanya digunakan China untuk mengintai aktivitas Amerika, tetapi juga untuk hampir setiap belahan bumi. Dengan kecanggihannya yang nyaris sempurna, hanya butuh satu Neptunus untuk melakukan tugas-tugas senyap itu.

Tiga mahasiswa ini berniat menjual hasil temuannya pada pihak Amerika, sekaligus meminta perlindungan. Naas, setelah bertemu dengan Backman untuk menyerahkan kepingan chip monitor Neptunus, mereka ditemukan tewas di tempat berbeda-beda. Kini “objek buruan” berpindah pada Backman.

Alasan inilah yang membuatnya berpikir untuk memilih penjara. Di luar skenario, ia dibebaskan di waktu yang tidak tepat.

Ia harus berpindah negara dengan senyap, namun mustahil melakukan itu tanpa batuan. Negaranya lah yang menyediakan setiap kebutuhan yang diperlukan Backman dalam upaya pelarian.

Ia tentu berterima kasih, tapi satu hal yang tidak diketahui oleh Backman, negaranya melakukan itu bukan tanpa alasan. Pihak Amerika yang dipimpin oleh Presiden baru, menjadikannya tikus umpan. Amerika memonitoring negara mana saja yang memburu tikus umpan ini. Dengan begitu, mereka akan mengetahui pemilik Neptunus.

Di luar dari itu, hukum Amerika memang mengharamkan membunuh warganya di atas tanah territorialnya sendiri.

***
Grisham, dalam buku ini sedikitnya memberi kita dua hal:

Pertama, satelit dengan segala kecanggihannya ternyata dapat diretas oleh sekelompok mahasiswa yang ‘iseng’. Selalu ada kerapuhan dalam kecanggihan teknologi.

Kedua, negara dengan kondisi yang sederhana bisa menjadikan kita korban dari kepentingannya. Kita hanya seekor tikus tak berdaya yang bisa digunakan oleh negara dengan segala relasi kuasanya.

Dari sini ia kemudian mengulas relasi kuasa antar negara. Meski bukunya bergenre novel yang tentu tidak bisa menjadi rujukan ilmiah, tetapi ulasannya memberikan gambaran yang relevan dengan kondisi dan hubungan negara-negara besar sampai saat ini.

Tercatat daftar negara besar yang terlibat dalam upaya pembunuhan Backman yaitu, Arab Saudi, Israel, Rusia, China, dan juga tentu Amerika.

Arab Saudi digambarkan memiliki hubungan yang baik dengan Amerika. Ini terlihat dalam damainya komunikasi intelijen pihak Amerika dan Saudi dalam upaya pembunuhan Backman. Meski secara bargaining, Saudi tidak merasa terancam, selain bahwa data pengoperasian satelit Neptunus yang ada di tangan Backman digunakan China untuk mengintai aktivitas politik Saudi.

Saudi biasa menyewa agen lepas, ini kebiasaannya. Mereka cenderung tidak ingin mengotori tangan secara langsung dalam aktivitas pembunuhan yang melibatkan agen intelijen.

Israel mengincar Neptunus dan rela mengeluarkan uang sebanyak yang dibutuhkan hanya agar satelit super canggih itu bisa dioperasikan. Tentu demi mengintai semua gerak politik musuh negaranya, khususnya Palestina dan Persia.
Israel membutuhkan waktu biasanya seminggu, caranya kadang brutal dan sadis, penuh drama barang bukti, tetapi tidak pernah mampu dipecahkan oleh pihak keamanan negara di mana operasi berjalan. Agennya terlatih dalam upaya membersihkan diri.

Satu hal, Israel selalu melakukan kontak rahasia dengan agen intelijen Amerika. Mereka digambarkan sedikit mesra dalam beberapa sekuel cerita buku ini.

Rusia sebaliknya, mereka menghawatirkan pengoperasian satelit super canggih itu dikuasai oleh CIA, yang tentu menjadi ancaman nyata bagi negaranya. Rusia membutuhkan waktu satu minggu dengan agen paling terlatih dan tidak meninggalkan satu jejak pun. Ini yang membedakannya dengan cara Israel.

China biasa lebih lambat, mereka negara yang cukup berhati-hati dan penuh perhitungan dalam melakukan operasi-operasi intelijen dalam dan luar negeri. Ciri ini melekat pada negara Tirai Bambu dalam segala hal.

Satu hal, semua negara tersebut membenarkan secara hukum segala operasi intelijen pembunuhan satu manusia, atas nama dan kepentingan negara.

***
Grisham setidaknya memberikan prediksi menarik perihal perang dingin antara Amerika dan China yang selalu terjadi belakangan ini, Koalisi beberapa negara seperti keakraban Amerika-Saudi, juga Amerika-Israel, dan kekukuhan Rusia yang berdiri sendiri.

Meski penulisnya pada lembar terakhir menjelaskan backgroundnya sebagai seorang novelis hukum, bukan ahli satelit atau spionase, buku ini bisa menjadi acuan subjektif tentang hubungan negara-negara yang disebutkannya.

Membaca buku ini, saya teringat ulasan salah seorang tokoh politik negeri yang memberikan gambaran perang masa depan dari sebuah buku berjudul Ghost Fleet karya P. W. Singer dan August Cole.
_________
Joel Backman akhirnya mampu bertahan hidup dan kembali ke negara asalnya tanpa cacat sedikit pun. Ia terlatih dan terbiasa menyesuaikan diri pada aktivitas intelijen.

  • Judul Buku: The Broker (Sang Broker)
  • Penulis: John Grisham
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007
  • Tebal Buku: 440 Halaman
Penulis: La Said Sabiq


Semua sepakat, belajar filsafat terasa seperti duduk di ruang kuliah yang serius, penuh istilah, dan kadang membuat kita sibuk mengangguk meski diam-diam tidak mengerti.

Tapi bagaimana jika ternyata, filsafat bisa datang dalam bentuk dongeng cerita, tokoh-tokoh sederhana, atau pertanyaan anak-anak? Di tangan Jostein Gaarder, begitulah filsafat, receh, renyah, dan sederhana.

Gaarder seperti tahu satu rahasia sederhana, manusia sebenarnya senang berpikir tentang hal-hal besar, hanya saja sering takut dengan cara filsafat membicarakannya. Maka ia mengambil filsafat dari rak buku yang tinggi, menurunkannya ke lantai, lalu mengajak kita duduk bersamanya.

Membaca Dunia Sophie (Sophie's World) misalnya, rasanya seperti membaca novel biasa, sampai tiba-tiba kita disodori pertanyaan, Siapa sebenarnya kita? Dari mana dunia berasal? Mengapa sesuatu ada? Pertanyaan-pertanyaan yang dalam buku filsafat mungkin terasa seperti batu besar, oleh Gaarder dilemparkan seperti kerikil ke dalam kolam. Kecil, ringan, tetapi riaknya ke mana-mana.

Bukan receh dalam arti dangkal. Tapi sebaliknya, Ia membuat pertanyaan besar terdengar sederhana. Membuat filsafat seperti obrolan yang muncul ketika kita sedang menikmati kopi, lalu tiba-tiba percakapan itu membawa kita kepada sederet filsuf dengan segala pemikirannya.

Dalam Dunia Sophie, seorang gadis remaja belajar sejarah filsafat melalui surat-surat misterius. Tidak ada mimbar akademik yang kaku.

Gaarder memainkan cara yang sama dalam Dunia Anna. Di buku ini filsafat tidak hanya bertanya tentang manusia, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan alam.

Kemudian ada Dunia Cecilia, yang menghadirkan kematian, kehidupan, dan pertanyaan tentang keberadaan melalui kisah seorang anak perempuan. Tema yang biasanya terasa berat itu justru disampaikan dengan kelembutan.

Yang paling apik menurut saya adalah buku The Solitaire Mystery. Bagaimana Gaarder menyisip filsafat ke dalam lebar-lembar kartu yang sering kita mainkan di sela-sela kesibukan kita. Atau misalnya dalam The Christmas Mystery, pertanyaan tentang waktu, takdir, iman, dan keberadaan bergerak melalui kisah yang menyerupai dongeng.

Mungkin memang begitulah filsafat seharusnya dimulai, bukan dari hafalan, istilah-istilah rumit, tetapi sesuatu yang sederhana dan hidup di sekitar. Di situlah kelihaian Gaarder. Ia tidak membuat filsafat menjadi lebih tinggi. Ia justru membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih filosofis.

Secangkir kopi bisa menjadi pertanyaan tentang keberadaan. Seorang anak bisa menjadi pintu menuju metafisika. Kematian bisa menjadi jalan untuk memahami arti kehidupan. Bahkan selembar surat dapat membawa kita berkelana dari dunia sehari-hari menuju pertanyaan yang selama ribuan tahun menghantui manusia.

Gaarder barangkali bukan filsuf dalam pengertian buku-buku tebal. Ia seperti pedagang keliling yang membawa filsafat dari satu rumah ke rumah lain, mengetuk pintu pembaca dengan cerita.

Ia tidak berkata “ayo belajar filsafat”, ia hanya berkata, “coba kita pikirkan sebentar”, dan kalimat sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang menjalar di kepala kita.

Setelah selesai membaca buku Gaarder, kita mungkin mulai memandang dunia dengan sedikit berbeda. Langit tidak lagi sekadar langit. Waktu tidak lagi sekadar angka pada jam. Kematian bukan hanya akhir. Dan pertanyaan seorang anak yang terdengar “receh” bisa ternyata lebih serius daripada jawaban orang dewasa yang merasa sudah mengetahui segalanya.

Mungkin itulah keistimewaan Jostein Gaarder, Ia membuat filsafat tidak terasa seperti filsafat. Filsafat menjadi cerita. Menjadi permainan. Menjadi rasa ingin tahu. Menjadi kegelisahan dan dongeng kecil sebelum tidur.

Dan ketika kita sadar bahwa kita sedang berfilsafat, semuanya sudah terlambat. Kita sudah terlanjur berpikir. Imajinasi kita sudah jauh melampaui batas.

Penulis: La Said Sabiq

Gadis Jeruk itu Bernama Cecilia.

Akhirnya Gaarder mendengar keluhanku, kali ini gadis kecil bernama Cecilia yang diajaknya berselancar dalam samudra pengetahuan. Tidak lagi menggunakan surat, Gaarder kali ini mengirim seorang malaikat mungil.

Malaikat kecil itu bernama Ariel. Tak bersayap, tak berbulu rambut, alis dan segala tetek-bengek penduduk bumi kebanyakan.

Dibalik tubuh halusnya, dia memiliki badan yang kokoh seperti baja, tetapi tidak memiliki massa, dia bahkan tidak menggunakan alas kaki. Dia lembut seperti sutra, wajahnya teduh dan menentramkan di balik jubah putih yang menutupinya.

Ariel hadir untuk mengurai pengetahuan surgawi, dengan syarat Cecilia bersedia menceritakan sedikit pengetahuannya tentang duniawi. Iya, sedikit, terlalu berat jika ingin menceritakan semua alam semesta, toh juga kita manusia hanya mengetahui sedikit, samar-samar.

Akhirnya perjanjian tentang pertukaran pengetahuan surga dan dunia terjadi lewat kaitan jari kelingking mungil Ariel dan gadis kecil Cecilia.

"Apa yang bisa diperbuat oleh tubuh fana dari darah dan daging ini", Kata Ariel.

"Kita (manusia) tak berdaya tanpa penghuni surga di dalam diri. Dia-lah yang abadi, dia yang bertahta dalam Jagad diri, mengusahakan keseimbangan antara jiwa dan raga. Ruh, Dia-lah yang Ilahiah, satu-satunya hal yang menyerupakan kita dengan penduduk surgawi" lanjutnya.

Cecilia bertanya pada Malaikat Ariel, mengapa dia begitu penasaran pada kehidupan Dunia yang fana, sedang dia memiliki keabadian. Ariel dengan santun menjawab, "karena kalian di dunia ini berpotensi memiliki keduanya, yang fana dan abadi".

Ini terdengar familier, seperti apa yang pernah ditanyakan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), "kita manusia ini, apakah penduduk surga yang sedang bertamasya ke bumi, atau sebaliknya. Kita, apakah makhluk abadi yang sedang bertamasya pada kefanaan?" begitu hebat manusia.

***
"Gaarder, Cecilia sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya, mengapa?" tanyaku. Ini pertemuan ke-dua kami setelah merayakan kemerdekaan ke-73 Agustus kemarin.

"perbedaan itu permainan dunia, pangkalnya adalah 'rasa' sebagai pembanding, medianya adalah panca Indra. Seandainya saja Kamu bisa memaksimalkan Indranya, maka perbedaannya akan terberai. Dengan begitu, kita akan menjadi lebih mengenali diri, menyatui jiwa dan menyibak fenomena dan kefanaan. Begitu kira-kira". Jawab Gaarder.

Sabar, saya tidak paham. "Itu berarti indra adalah pengekang?" tanyaku.

Setelah menyeruput kopi, Gaarder melanjutkan, "Simak ketika Malaikat Ariel menembus dinding dan kaca jendela, lalu Cecilia tercengang, Ariel menjawab tanpa terlihat bangga, "tutup matamu dan bayangkan engkau terbang melintasi tembok dan kaca itu. Jika bisa, maka tidak ada yang tidak bisa, jika itu dalam pikiranmu". Iya, saya ingat sambungku.

Mengerutkan dahi, Gaarder melanjutkan, "bagaimana caramu mengingat, dan seperti apa kamu ketika lupa? di mana posisi pengetahuan ketika lupa, lalu datang dari sebelah mana ketika kita kembali mengingat?"

"Oh iya, saya sedikit paham, indra bukan pengekang, saya memicu ingatan lewat panca Indra" kataku.

"iya, ingatan ada di dalam diri, dia abadi di sana, kita hanya butuh stimulus untuk kembali mengingatnya" kata Gaarder.

Ini terdengar seperti penemuan besar Plato, alam Ide yang purna, tetapi kefanaan meliputi semua, sehingga kita butuh berbuat kebajikan untuk menyibak tirai hitam kefanaan. Pengetahuan menyebutnya "dejavu".

Saya mengingat-ingat, dalam penggalan puisi kosmologi Mahabbah karya Ustadz A.M Safwan mengatakan, "Tidak ada pertemuan selain di Alam..., mulailah dari alam". Bukan begitu? Tanyaku.

Gaarder melanjutkan tanpa menjawab pertanyaanku. "Alam adalah sumber, semua tersedia di sana, baik yang terindrai maupun yang tidak, begitu kira-kira para Materialisme menjelaskan dengan bangga, mereka tidak lupa kalau kita menggunakan indra sebagai media, tetapi sekali lagi dengan bangga mereka menampik keberadaannya, pun dengan apa yang terjadi setelah semua alam terindrai, proses pengolahan sumber, mereka menafikannya, seolah pengetahuan itu mandiri".

Iya saya paham soal ini, timpahku, apa yang istimewa?

"Itulah penyakit dunia, samar-samar dan parsial. Bukan dunia jika purnah, itu juga penyakit manusia, apa yang kamu pahami?" Tanya Gaarder.

Dengan bangga saya mengambil posisi untuk menjelaskan, "Disposesi Muhammad Baqir Ash-Shadr, bahwa pengetahuan itu relasi dari segalanya, ada konsepsi primer dan sekunder. Para Materialisme Feuerbach benar pada posisinya, Idealisme Plato, Rasionalisme Descartes, dan Empirisme John Locke, Hume, dan buku-buku, kitab, benar sebagai sumber pengetahuan, tetapi relasi, hubungan dari kesemuanya-lah yang menghasilkan pengetahuan". Bukan begitu?

"Saya sepakat pada sebagiannya", Kata Gaarder.

"Karena jika keseluruhan, maka tidak akan ada sisa dialektika malam ini, pun jika semua, maka kita seharusnya berada di surga, bukan dunia, karena kebenaran itu abadi, sedang dunia tidak mengenal keabadian". lanjutnya.

Tunggu dulu, saya ingat Anda menyinggung soal indra keenam lewat perumpamaan 2 (dua) ekor burung gagak Dewa Odin, Hugin dan Munin, yang dalam tafsir bahasa berarti "pikiran" dan "daya pikir"?

Ingatanmu cukup bagus kata Gaarder. Begini, sembari memperbaiki posisi duduk, Gaarder menjelaskan, "Dewa Odin akan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bumi tanpa beranjak dari singgasananya, dia cukup menggunakan mata burung gagaknya".

"Dia seperti ada dimana-mana dalam waktu yang singkat, apa kamu tidak merasa kita seperti Hugin dan Munin, berlaku seperti mata-mata untuk Tuhan?" Gaarder bertanya.

Saya menjawab tegas "TIDAK, Tuhan tentu tidak butuh kita untuk mengetahui segala ciptaan-Nya, dia Maha Agung dengan segala Ciptaan-Nya".

Benar, sambung Gaarder. "Tetapi berpikir dan daya pikir dititip pada kita untuk mengetahui ketunggalan-Nya, di situ posisi keabadian ruh, Nur Muhammad, dari sana kita diciptakan. Ini penting untuk dipahami agar kita mampu memosisikan diri pada semesta, pada sesama manusia, pada hewan, juga tumbuhan. Semua dari keabadian Nur Muhammad".

Sembari menyeruput sisa kopinya, Gaarder mengagetkanku, "Tentukan saja pilihanmu lengkap dengan alasan-alasannya, lalu ujilah alasan pilihan orang lain dengan argumentasi logis, bukan dengan sentimen [RG].

Penulis: La Said Sabiq


Saya menyebutnya kemandirian imajinasi. Penulis yang hebat adalah pembaca ulung, pemakan buku istilahnya. Imajinasinya terkontrol dengan baik, meski melesat ke mana-mana.

"Jostein Gaarder, mengapa Anda suka sekali bermain surat, padahal peradaban kita punya banyak media?" Dia tersenyum tanpa menjawab.

Semula saya menemukan Sophie sibuk dengan surat ayahnya, lalu Nova kaget dengan segala penjelasan neneknya yang bernama Anna dari surat-surat yang dituliskannya 70 tahun lalu. Meski lebih modern, Anna tetap saja menggunakan surat.

Kali ini giliran anak yang bernama Georg Roed. Dia baru berusia 15 tahun. Di Tengah kesibukannya belajar biola, dia disuguhi oleh sang nenek surat-surat peninggalan almarhum ayahnya yang bercerita tentang gadis jeruk yang tidak lain ternyata ibunya sendiri.

Hal yang menarik, semua penulis surat tahu kondisi pembacanya ketika itu. Seolah suratnya hadir untuk menjawab setiap keresahan pembacanya.
Sophie dengan semua keresahannya dengan pengetahuan, Nova dengan segala kondisi Bumi yang mengenaskan, Georg dengan segala kecanggihan teknologi teleskopnya.

Jika dirunut, maka konsepnya epistemologi, eksistensialis Kosmos, dan teknologi postmodernism.

"Tunggu, jangan-jangan Anda ini seorang tukang pos Gaarder?" lanjutku membuyarkan lamunan.

Dia menoleh, kali ini sembari menjawab. "Tidak ada yang lebih romantis dari cara surat menyampaikan hasratnya, dia lebih indah dari yang dibayangkan, coba saja!" saya mengangguk kehilangan kata.

Sembari berjalan Gaarder melanjutkan.

"Hanya surat yang abadi, pembacanya fana. Anda bisa berkali-kali mencicipi romansanya, berkali-kali, tanpa bosan. Dia tidak bisa di-delete, apalagi di-resend. Anda bisa membacanya kembali dilain saat jika merasa telah kehilangan gairah, itu kuatnya surat, itu kekuatan tulisan. Dia juga bisa menghadirkan makna yang tersembunyi, sekaligus menyembunyikan makna. Begitu dahsyat surat, ajaib".

Dalam hati saya menggumam, "Surat. Betapa beruntung generasi pendahuluku, menikmati 'romansa yang hidup' dalam bait-bait teks pada secarik kertas. Apa tidak kolot jika saya menggunakannya?"

Gaarder membuyarkan lamunanku, "kita berpisah di sini, oh iya, jangan lupa datang di karnaval perayaan kemerdekaan besok, ini perayaan yang ke-73".

Benar, saya hampir lupa kalau ini Agustus, dan 2019 sebentar lagi. sembari menjabat tanganku, dia memberiku secarik surat dan berkata “Bacalah, Dengan (Menyebut) Nama Tuhanmu Yang Menciptakan” (QS: Al-Alaq).

Penulis: La Said Sabiq
https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5