Gadis Jeruk Gaarder


Saya menyebutnya kemandirian imajinasi. Penulis yang hebat adalah pembaca ulung, pemakan buku istilahnya. Imajinasinya terkontrol dengan baik, meski melesat ke mana-mana.

"Jostein Gaarder, mengapa Anda suka sekali bermain surat, padahal peradaban kita punya banyak media?" Dia tersenyum tanpa menjawab.

Semula saya menemukan Sophie sibuk dengan surat ayahnya, lalu Nova kaget dengan segala penjelasan neneknya yang bernama Anna dari surat-surat yang dituliskannya 70 tahun lalu. Meski lebih modern, Anna tetap saja menggunakan surat.

Kali ini giliran anak yang bernama Georg Roed. Dia baru berusia 15 tahun. Di Tengah kesibukannya belajar biola, dia disuguhi oleh sang nenek surat-surat peninggalan almarhum ayahnya yang bercerita tentang gadis jeruk yang tidak lain ternyata ibunya sendiri.

Hal yang menarik, semua penulis surat tahu kondisi pembacanya ketika itu. Seolah suratnya hadir untuk menjawab setiap keresahan pembacanya.
Sophie dengan semua keresahannya dengan pengetahuan, Nova dengan segala kondisi Bumi yang mengenaskan, Georg dengan segala kecanggihan teknologi teleskopnya.

Jika dirunut, maka konsepnya epistemologi, eksistensialis Kosmos, dan teknologi postmodernism.

"Tunggu, jangan-jangan Anda ini seorang tukang pos Gaarder?" lanjutku membuyarkan lamunan.

Dia menoleh, kali ini sembari menjawab. "Tidak ada yang lebih romantis dari cara surat menyampaikan hasratnya, dia lebih indah dari yang dibayangkan, coba saja!" saya mengangguk kehilangan kata.

Sembari berjalan Gaarder melanjutkan.

"Hanya surat yang abadi, pembacanya fana. Anda bisa berkali-kali mencicipi romansanya, berkali-kali, tanpa bosan. Dia tidak bisa di-delete, apalagi di-resend. Anda bisa membacanya kembali dilain saat jika merasa telah kehilangan gairah, itu kuatnya surat, itu kekuatan tulisan. Dia juga bisa menghadirkan makna yang tersembunyi, sekaligus menyembunyikan makna. Begitu dahsyat surat, ajaib".

Dalam hati saya menggumam, "Surat. Betapa beruntung generasi pendahuluku, menikmati 'romansa yang hidup' dalam bait-bait teks pada secarik kertas. Apa tidak kolot jika saya menggunakannya?"

Gaarder membuyarkan lamunanku, "kita berpisah di sini, oh iya, jangan lupa datang di karnaval perayaan kemerdekaan besok, ini perayaan yang ke-73".

Benar, saya hampir lupa kalau ini Agustus, dan 2019 sebentar lagi. sembari menjabat tanganku, dia memberiku secarik surat dan berkata “Bacalah, Dengan (Menyebut) Nama Tuhanmu Yang Menciptakan” (QS: Al-Alaq).

Penulis: La Said Sabiq

0 comments:

Posting Komentar

https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5