Dalam dunia sastra, apalagi literary canon atau karya-karya yang dianggap membentuk tradisi sastra dunia, Paulo Coelho mungkin bukan nama pertama yang akan dikenal-sebut jika dibanding William Shakespeare atau Franz Kafka.

Tapi bagi jutaan pembaca, ia nama yang jauh lebih personal, seorang penulis novel yang pernah datang melalui sebuah buku, lalu meninggalkan sebuah pertanyaan tentang kehidupan.

Bagi saya, rasanya Coelho salah satu penulis yang berhasil membawa sastra keluar dari ruang eksklusif, lalu menjadikannya seperti ruang perenungan tentang hidup, pilihan, kehilangan, cinta, spiritualitas, dan pencarian makna.

Coelho punya kemampuan yang jarang dimiliki sastrawan lain, menyampaikan gagasan besar melalui cerita yang sederhana.

Melalui cerita-cerita kecil itu, ia menyelipkan pertanyaan-pertanyaan yang diam-diam bekerja di kepala kita, “apa sebenarnya yang kita cari? apakah kegagalan benar-benar kegagalan? apakah kehilangan selalu berarti kehancuran? dan, yang paling penting, apakah kita sedang menjalani kehidupan yang kita pilih sendiri atau kehidupan yang dipilihkan keadaan untuk kita?

Karena itu, membaca Coelho sering kali terasa seperti membaca kisah orang lain, tetapi tiba-tiba kita menemukan diri sendiri di dalamnya.

Mungkin karena pernah mengalami perjalanan seperti itu, Coelho mampu menulis tentang pencarian dengan begitu meyakinkan. Ia tidak hanya berbicara kepada pembacanya tentang keberanian mengejar mimpi. Ia pernah mengalami sendiri bagaimana mimpi itu berkali-kali ditinggalkan, ditunda, bahkan mungkin dianggap tidak masuk akal.

Seorang penulis yang kita kenal begitu fasih berbicara tentang perjalanan hidup, pencarian diri, kehilangan, keberanian, dan takdir, ternyata terlebih dahulu harus menjalani semua kegagalan dalam kehidupannya sendiri.

Ya, betul. Seorang Coelho pernah kebingungan, kehilangan arah, berkali-kali berhadapan dengan kegagalan, bahkan sempat meninggalkan impiannya untuk menjadi penulis.

Kehidupan Normal Paulo Coelho

Hari ini namanya dikenal di berbagai penjuru dunia. Buku-bukunya diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dan dibaca oleh jutaan orang.

Karyanya berjudul The Alchemist bahkan dicatat dalam Guinness World Records sebagai buku yang diterjemahkan dalam bahasa asing paling banyak, tidak kurang dari 69 bahasa di seluruh dunia. Menjadikannya salah satu penulis paling dikenal dalam sastra populer dunia.

Tapi sebelum semua itu, Coelho pernah menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari bayangan kita tentang seorang pengarang besar, seorang novelis handal.

Ia bekerja di industri musik, menjadi penulis lirik dan mengejar karier profesional yang secara kasatmata lebih menjanjikan daripada hidup sebagai penulis yang belum dikenal.

Tetapi hidup kadang mempunyai cara yang aneh untuk memisahkan seseorang dari sesuatu yang sebenarnya bukan tujuan akhir hidupnya.

Di suatu hari, 13 Agustus 1979, di tengah terik matahari Brazil, Coelho datang ke kantor CBS dan dipanggil menghadap Juan Truden, presiden CBS Brasil saat itu, hanya untuk mendengar kalimat singkat “My friend, you're fired”.

Bagi Coelho, Pemecatan itu bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Itu seperti tertutupnya sebuah pintu kehidupan. Ia merasa sudah mencapai posisi tinggi yang mungkin ia kejar dalam industri rekaman. Karena perusahaan rekaman besar di Brasil hanya ada sedikit waktu itu, ia merasa hampir tidak mungkin meraih posisi yang sama di perusahaan lain.

Cerita itu digambarkan Coelho dalam salah satu pengantar karyanya berjudul “The Fifth Mountain” berlatar kisah perjalanan hidup dan masa pelarian Nabi Elia (Ilyas as.) dari pembantaian nabi-nabi di Babilonia zaman Raja Ahab.

Ia terpuruk, kebingungan, dan mencoba berbagai hal. Bahkan setelah meninggalkan dunia industri musik, Coelho masih belum sepenuhnya berani memilih kehidupan sebagai penulis. Cita-cita menjadi penulis yang muncul sejak muda itu berulang kali tertunda oleh kebutuhan untuk mencari kehidupan yang dianggap lebih “normal” dan aman.

Karir seorang penulis memang sudah penuh tanda tanya sejak dulu, tidak hanya di Indonesia, kerentanan profesi ini menyeberang lautan dan menyingkirkan peta geografis.

Masa Depan Seorang Penulis

Barangkali apa dihadapi Coelho saat itu serupa momok bagi kebanyakan penulis di dunia sampai saat ini. Di negara dengan industri buku yang jauh lebih matang pun, mayoritas penulis tidak hidup nyaman hanya dari menulis buku.

Data Authors Guild dari survei 5.699 penulis di seluruh dunia tahun 2022, median pendapatan penulis full-time dari buku hanya US$10.000 per tahun. Jika digabung dengan seluruh pekerjaan terkait kepenulisan, misalnya mengajar, berbicara, editing, coaching, jurnalistik, dan sebagainya, mediannya menjadi US$20.000.

Dalam survei itu, terhadap perilaku pembaca di Amerika misalnya, hanya 19% buku teks yang dibaca diperoleh melalui pembelian buku cetak atau ebook baru (royalti paling besar penulis). Selebihnya, berasal dari buku bekas, perpustakaan, koleksi pribadi, pinjaman, atau sumber lain yang tidak bernilai ekonomis langsung kepada Penulis.

Di Indonesia masalahnya jauh lebih unik, struktur pasar, daya beli, budaya membaca, minat dan daya baca, serta kualitas ekosistem industri, ikut memengaruhi tingkat keparahan karir Penulis.


Data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada Mei 2026 menyebut bahwa tiras awal yang dahulu lazim 3.000–5.000 eksemplar, kini 1.500 eksemplar saja sudah dianggap baik, sementara royalti penulis umumnya sekitar 10–12% dari harga buku. Kita bisa hitung sendiri pendapatan Penulis.

IKAPI sendiri menegaskan bahwa rendahnya pendapatan penulis bukan hanya persoalan pajak royalti, tetapi terutama karena rendahnya volume penjualan atau kurangnya pembeli buku.

Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan bahwa minat baca masyarakat kita pada tahun 2025 masih tergolong rendah. Hanya sekitar 20,7% masyarakat rutin membaca tiap hari, sementara 17% responden hanya membaca sekali dan 15,4% lainnya jarang membaca.

Minimnya minat baca ini dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya kurang motivasi, minimnya akses ke bahan bacaan yang berkualitas, dan pengaruh budaya yang cenderung lebih mementingkan hiburan instan seperti media sosial.

Belum lagi jika kita bicara masalah lain, soal system atau lingkungan misalnya.

Dalam Konvensi Penerbit 2026, IKAPI menggambarkan system sektor perbukuan Indonesia seperti “over-regulated, under-supported, and taken for granted”. Penulis berada di awal rantai produksi tetapi sering berada di belakang dalam menikmati nilai ekonominya.

Mereka menyoroti persoalan dukungan pemerintah, promosi, pembajakan, akses buku, budaya baca, belanja buku pemerintah, dan dampak artificial intelligence (AI). IKAPI yakin, Indonesia tidak kekurangan penulis, tapi kekurangan ekosistem yang mampu mengubah karya penulis menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Ketika Sastra Menjadi Jalan Pulang

Memang keraguan Coelho untuk menjadi penulis tidak dijelaskan hanya oleh persoalan ekonomi penulis. Tapi ada bukti bahwa faktor ekonomi, stabilitas pekerjaan, tekanan keluarga, pengalaman kegagalan, dan ketidakpastian masa depan sebagai penulis saling bertemu dalam kehidupannya saat itu.

Coelho remaja sudah ingin menjadi penulis sejak awal. Masalahnya, orang tuanya tidak melihat profesi tersebut sebagai masa depan yang menjanjikan. Mereka menginginkan kehidupan yang lebih konvensional untuknya.

Barangkali, di tengah kenyataan bahwa menulis tidak selalu mampu menjanjikan kehidupan yang mapan, keputusan untuk meninggalkan pena dan memilih pekerjaan yang lebih pasti bukanlah sesuatu yang sulit dipahami.

Banyak orang akhirnya berdamai dengan keadaan, mimpi ditunda, idealisme dinegosiasikan, dan menulis diletakkan sebagai sesuatu yang boleh dicintai tetapi tidak harus dijadikan jalan hidup.

Paulo Coelho pun pernah berada pada persimpangan semacam itu. Ia pernah mencoba mengubur keinginannya menjadi penulis dan memilih karier yang lebih menjanjikan di industri musik.

Namun, ketika jalan yang dianggap lebih aman itu tiba-tiba tertutup, ia justru perlahan menemukan kembali sesuatu yang pernah ditinggalkannya. Sastra, yang dahulu hampir ia tinggalkan demi kehidupan yang lebih pasti, akhirnya menjadi jalan pulang baginya.

Jalan yang membawanya kembali kepada dirinya sendiri, kepada mimpi yang pernah dikuburnya, dan pada akhirnya kepada dunia yang kelak mengenal namanya.

Hari ini, namanya ada dalam daftar salah satu penulis sastra terbaik dunia. Elle Awards Spanyol pada 2008 bahkan memberinya gelar sebagai “Best International Writer”.

Coelho tampaknya memahami bahwa manusia lebih mudah menerima kebijaksanaan ketika kebijaksanaan itu datang sebagai pengalaman, bukan sebagai nasihat.

Ia bukan sekadar penulis yang pandai merangkai kata-kata indah. Ia adalah seorang pengarang yang menjadikan pengalaman hidup sebagai bahan bakar kepengarangannya. Ia mengambil kegelisahan, perjalanan, kegagalan, spiritualitas, cinta dan pencarian makna, lalu mengubah semuanya menjadi cerita.

Coelho tidak datang kepada pembaca sebagai seorang filsuf yang hendak mengajarkan bagaimana manusia harus menjalani hidup. Ia datang sebagai seorang pencerita, membawa kita mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya, membiarkan mereka tersesat, kehilangan, mencintai, berharap, dan menemukan jalan. Kemudian, tanpa terasa, kita menemukan bahwa perjalanan tokoh itu ternyata sedang berbicara tentang perjalanan kita sendiri.

Mungkin karena itu pula tulisan-tulisannya terasa begitu dekat, begitu “menggigit” dalam ceritanya yang ringan dan sederhana.

Pada akhirnya, mungkin Paulo Coelho tidak menjadi penulis karena ia menemukan jalan yang mudah menuju sastra. Ia menjadi penulis karena berkali-kali kehidupan menutup jalan lain di hadapannya. Dan barangkali buku terbaik yang pernah ia tulis sebenarnya adalah kehidupannya sendiri.

Penulis: La Said Sabiq
Penggemar Paulo

Referensi:

Ada cara yang khas dalam kebudayaan Muna untuk menyampaikan bahwa seorang perempuan sedang memasuki fase baru dalam hidupnya. Bukan melalui seremoni yang hingar-bingar, bukan pula melalui pengumuman formal, melainkan melalui sebuah ruang yang hening dan penuh makna.

Masyarakat Muna menyebutnya Kaghombo.

Dalam bahasa Muna, kaghombo berasal dari kata ghombo yang berarti memeram atau memingit. Dalam tradisi Karia, seorang gadis yang memasuki masa transisi menuju kedewasaan akan ditempatkan sementara di dalam songi (ruang tertutup).

Dari luar, praktik ini sering tampak sebagai bentuk pembatasan ruang gerak. Namun bagi pandangan masyarakat Muna, kaghombo justru dimaknai sebagai proses pematangan, seperti buah yang diperam agar mencapai rasa terbaiknya. Ia bukan sekadar “dikurung”, tetapi dipersiapkan.

Di sinilah Kaghombo mulai memperlihatkan kedalamannya. Ia adalah ruang pembentukan identitas.

Biasanya, Kaghombo berlangsung selama 4 hari 4 malam. Durasi ini merupakan bentuk yang paling sering disebut dalam literatur akademik.

Penelitian antropologi bahkan mencatat, dahulu masa Kaghombo berlangsung 40 hari 40 malam, kemudian dipersingkat menjadi 4 hari 4 malam karena pertimbangan praktis, dengan tetap mempertahankan makna simboliknya.

Seorang gadis tidak hanya diberi label “dewasa”, tetapi dibimbing untuk memahami apa arti kedewasaan itu sendiri.

Dalam ruang songi yang tertutup itu, ia menerima nasihat, menjalani pantangan, mempelajari simbol, serta mengikuti berbagai praktik yang mengajarkan pengendalian diri, kebersihan, etika sosial, dan tanggung jawab.

Sejumlah kajian etnografi menunjukkan bahwa Kaghombo, berfungsi sebagai media pendidikan nilai yang mencakup aspek keluarga, sosial, hingga moralitas publik (Lestariwati et al., 2020).

Dengan demikian, Kaghombo bukan ruang kosong. Ia adalah ruang pengetahuan yang hidup.

Menariknya, pengetahuan yang hadir di dalamnya tidak selalu berbentuk instruksi verbal. Banyak hal justru dipelajari melalui pengalaman tubuh, bagaimana menahan diri, bagaimana bersikap dalam keterbatasan, bagaimana mendengarkan, dan bagaimana memahami makna simbol yang mengitari proses tersebut.

Jika dihubungkan dengan teori pengetahuan kontemporer, ini dapat dipahami melalui konsep embodied knowledge (pengetahuan yang terwujud dalam tubuh), di mana belajar tidak hanya terjadi di ranah kognitif, tetapi juga melalui pengalaman fisik dan emosional (Merleau-Ponty, 1945; Csordas, 1990).

Artinya, Kaghombo mengajarkan sesuatu yang sering diabaikan dalam pendidikan modern, bahwa tidak semua pengetahuan bisa ditransfer melalui kata-kata. Karena terkadang, pengetahuan yang bisa diliat kasat mata lebih gampang terserap dan dimengerti.

Lebih jauh, Kaghombo juga membentuk identitas sosial perempuan Muna. Dalam kerangka social identity theory, identitas seseorang terbentuk melalui keanggotaannya dalam kelompok sosial (Tajfel & Turner, 1979).

Seorang gadis tidak hanya menjadi individu yang “tahu dirinya”, tetapi juga diposisikan sebagai bagian dari struktur sosial yang lebih luas, keluarga, komunitas, dan budaya di mana dia menjalankan hidup.

Di sinilah Kaghombo bekerja sebagai mekanisme sosial yang halus namun kuat. Ia menegaskan bahwa menjadi perempuan Muna bukan hanya soal biologis, tetapi juga soal menjadi bagian dari sistem nilai bersama.

Namun, yang membuat Kaghombo semakin menarik adalah dimensi solidaritasnya.

Proses ini tidak pernah bersifat individual. Keluarga, tetua adat, dan masyarakat terlibat dalam berbagai tahapannya. Persiapan, pelaksanaan, hingga nasihat yang diberikan merupakan hasil kerja kolektif.

Bagi orang Muna, kedewasaan seorang perempuan tidak dipahami sebagai pencapaian pribadi semata, tetapi sebagai peristiwa sosial yang melibatkan banyak pihak.

Dalam konsep social learning theory (Bandura, 1977), individu belajar melalui observasi, interaksi, dan keterlibatan dalam lingkungan sosialnya. Kaghombo menjadi ruang di mana pembelajaran itu berlangsung secara nyata, masyarakat tidak hanya mengajarkan nilai, tetapi mempraktikkannya bersama.

Tentu, tidak dapat diabaikan bahwa Kaghombo lahir dari konteks sosial yang memiliki struktur gender tertentu. Nilai dalam Kaghombo terlihat seperti pembentukan peran perempuan dalam ranah sosial tradisional.

Tetapi di sinilah pentingnya pendekatan kebudayaan yang reflektif, melihat nilai yang dilahirkan, bukan bentuknya. Lewat Kaghombo, masyarakat Muna justru memuliakan Perempuan, memberi pengetahuan khusus, dan fitrahwih.

Pada akhirnya, Kaghombo mengajarkan satu hal yang sederhana namun mendalam, soal kedewasaan bukan hanya tentang waktu, tetapi tentang pembentukan diri dalam relasi dengan orang lain.

Dan mungkin, di balik ruang kecil bernama songi, tersimpan pelajaran besar tentang manusia, bahwa identitas tidak pernah lahir sendirian, melainkan selalu dibentuk oleh komunitas, pengalaman, dan waktu.

Penulis: La Said Sabiq
Masyarakat Muna

Referensi:
  • Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.
  • Bayu, W. C. (2024). Studi fenomenologi dinamika psikologis remaja wanita dalam tradisi Karia. Jurnal Psikologi Wijaya Putra.
  • Lestariwati, N. S., Akifah, & lainnya. (2020). Nilai pendidikan kesehatan reproduksi pada tradisi Karia. ETNOREFLIKA.
  • Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict.
https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5