Kaghombo; Ruang Pembentukan Identitas dan Solidaritas


Ada cara yang khas dalam kebudayaan Muna untuk menyampaikan bahwa seorang perempuan sedang memasuki fase baru dalam hidupnya. Bukan melalui seremoni yang hingar-bingar, bukan pula melalui pengumuman formal, melainkan melalui sebuah ruang yang hening dan penuh makna.

Masyarakat Muna menyebutnya Kaghombo.

Dalam bahasa Muna, kaghombo berasal dari kata ghombo yang berarti memeram atau memingit. Dalam tradisi Karia, seorang gadis yang memasuki masa transisi menuju kedewasaan akan ditempatkan sementara di dalam songi (ruang tertutup).

Dari luar, praktik ini sering tampak sebagai bentuk pembatasan ruang gerak. Namun bagi pandangan masyarakat Muna, kaghombo justru dimaknai sebagai proses pematangan, seperti buah yang diperam agar mencapai rasa terbaiknya. Ia bukan sekadar “dikurung”, tetapi dipersiapkan.

Di sinilah Kaghombo mulai memperlihatkan kedalamannya. Ia adalah ruang pembentukan identitas.

Biasanya, Kaghombo berlangsung selama 4 hari 4 malam. Durasi ini merupakan bentuk yang paling sering disebut dalam literatur akademik.

Penelitian antropologi bahkan mencatat, dahulu masa Kaghombo berlangsung 40 hari 40 malam, kemudian dipersingkat menjadi 4 hari 4 malam karena pertimbangan praktis, dengan tetap mempertahankan makna simboliknya.

Seorang gadis tidak hanya diberi label “dewasa”, tetapi dibimbing untuk memahami apa arti kedewasaan itu sendiri.

Dalam ruang songi yang tertutup itu, ia menerima nasihat, menjalani pantangan, mempelajari simbol, serta mengikuti berbagai praktik yang mengajarkan pengendalian diri, kebersihan, etika sosial, dan tanggung jawab.

Sejumlah kajian etnografi menunjukkan bahwa Kaghombo, berfungsi sebagai media pendidikan nilai yang mencakup aspek keluarga, sosial, hingga moralitas publik (Lestariwati et al., 2020).

Dengan demikian, Kaghombo bukan ruang kosong. Ia adalah ruang pengetahuan yang hidup.

Menariknya, pengetahuan yang hadir di dalamnya tidak selalu berbentuk instruksi verbal. Banyak hal justru dipelajari melalui pengalaman tubuh, bagaimana menahan diri, bagaimana bersikap dalam keterbatasan, bagaimana mendengarkan, dan bagaimana memahami makna simbol yang mengitari proses tersebut.

Jika dihubungkan dengan teori pengetahuan kontemporer, ini dapat dipahami melalui konsep embodied knowledge (pengetahuan yang terwujud dalam tubuh), di mana belajar tidak hanya terjadi di ranah kognitif, tetapi juga melalui pengalaman fisik dan emosional (Merleau-Ponty, 1945; Csordas, 1990).

Artinya, Kaghombo mengajarkan sesuatu yang sering diabaikan dalam pendidikan modern, bahwa tidak semua pengetahuan bisa ditransfer melalui kata-kata. Karena terkadang, pengetahuan yang bisa diliat kasat mata lebih gampang terserap dan dimengerti.

Lebih jauh, Kaghombo juga membentuk identitas sosial perempuan Muna. Dalam kerangka social identity theory, identitas seseorang terbentuk melalui keanggotaannya dalam kelompok sosial (Tajfel & Turner, 1979).

Seorang gadis tidak hanya menjadi individu yang “tahu dirinya”, tetapi juga diposisikan sebagai bagian dari struktur sosial yang lebih luas, keluarga, komunitas, dan budaya di mana dia menjalankan hidup.

Di sinilah Kaghombo bekerja sebagai mekanisme sosial yang halus namun kuat. Ia menegaskan bahwa menjadi perempuan Muna bukan hanya soal biologis, tetapi juga soal menjadi bagian dari sistem nilai bersama.

Namun, yang membuat Kaghombo semakin menarik adalah dimensi solidaritasnya.

Proses ini tidak pernah bersifat individual. Keluarga, tetua adat, dan masyarakat terlibat dalam berbagai tahapannya. Persiapan, pelaksanaan, hingga nasihat yang diberikan merupakan hasil kerja kolektif.

Bagi orang Muna, kedewasaan seorang perempuan tidak dipahami sebagai pencapaian pribadi semata, tetapi sebagai peristiwa sosial yang melibatkan banyak pihak.

Dalam konsep social learning theory (Bandura, 1977), individu belajar melalui observasi, interaksi, dan keterlibatan dalam lingkungan sosialnya. Kaghombo menjadi ruang di mana pembelajaran itu berlangsung secara nyata, masyarakat tidak hanya mengajarkan nilai, tetapi mempraktikkannya bersama.

Tentu, tidak dapat diabaikan bahwa Kaghombo lahir dari konteks sosial yang memiliki struktur gender tertentu. Nilai dalam Kaghombo terlihat seperti pembentukan peran perempuan dalam ranah sosial tradisional.

Tetapi di sinilah pentingnya pendekatan kebudayaan yang reflektif, melihat nilai yang dilahirkan, bukan bentuknya. Lewat Kaghombo, masyarakat Muna justru memuliakan Perempuan, memberi pengetahuan khusus, dan fitrahwih.

Pada akhirnya, Kaghombo mengajarkan satu hal yang sederhana namun mendalam, soal kedewasaan bukan hanya tentang waktu, tetapi tentang pembentukan diri dalam relasi dengan orang lain.

Dan mungkin, di balik ruang kecil bernama songi, tersimpan pelajaran besar tentang manusia, bahwa identitas tidak pernah lahir sendirian, melainkan selalu dibentuk oleh komunitas, pengalaman, dan waktu.

Penulis: La Said Sabiq
Masyarakat Muna

Referensi:
  • Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.
  • Bayu, W. C. (2024). Studi fenomenologi dinamika psikologis remaja wanita dalam tradisi Karia. Jurnal Psikologi Wijaya Putra.
  • Lestariwati, N. S., Akifah, & lainnya. (2020). Nilai pendidikan kesehatan reproduksi pada tradisi Karia. ETNOREFLIKA.
  • Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict.

0 comments:

Posting Komentar

https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5