Saya membaca beberapa tulisan dialektis bertemakan Sains, Agama, dan Filsafat, yang melibatkan Goenawan Muhamad, Ulil Absar Abdallah, A.S. Laksana, Eka Kurniawan di platform facebook belakangan ini.

Sebuah tulisan menarik tetiba muncul dalam perdebatan. Ialah goresan Gus Ulil bertajuk "Berani Memasak Gagasan Sendiri". Sedikit keluar dari tema pembahasan, Ia menyoal tentang kemampuan menulis para akademisi kita.

Keluhan saya pada dunia akademis sekarangbanyak sarjana kita yang tidak bisa menulis dengan bahasa akademis yang tetap indah dan memikat”. Katanya.

Barangkali Ulil melihat tulisan dialektis Goenawan dkk. yang panjang dan rumit, hanya menarik bagi kalangan pembaca tertentu. Mereka yang sedang haus-hausnya belajar filsafat, dan pembahasan panjang tentang agama vs sains.

Ia juga menyoal kebiasaan kita yang cenderung lebih sering mengutip pandangan filsuf barat ketimbang filsuf timur atau pandangan-pandangan tokoh nasional. Bagi Ulil, hal itu satu persoalan lain yang cukup mengganggu.

Menurut Ulil, harus ada usaha dari para dosen untuk mengingatkan para mahasiswa soal bahasa. Tentang pentingnya menulis dengan bahasa yang tertib dan memikat.

Satu sisi keresahan Gus Ulil serupa momok bagi kita yang ingin belajar menulis. Mengemas tulisan menjadi menarik adalah beban psikologis berbobot berat. Hantu yang mengintai dan mengusik kekhusyukan kontemplasi penulis.

Sisi yang lain, kita bisa memaknainya sebagai muhasabah diri untuk berbenah.

Minat Baca vs Daya Baca

Fakta bahwa masyarakat kita memiliki minat baca yang tergolong rendah, sedikit-banyak ikut memengaruhi cara kita dalam memaksimalkan keindahan diksi tulisan.

Membaca adalah ladang, lumbung kata-kata yang digunakan dalam tulisan berasal dari luasnya ladang bacaan. Ia ruh material. Menjadi pusat yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis, kata Stephen King.

Meski belum ada data terbaru yang merilis tentang tingkat minat baca masyarakat Indonesia, tetapi penelitian terakhir Central Connecticut State University (CCSU) bertema World's Most Literate Nations pada Maret 2016 lalu, merilis hasil yang mengecewakan. Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara yang menjadi sampel.

Kita boleh berbeda pendapat soal metode, sampling respondent, dan margin error riset CCSU, tetapi kesimpulan survei tersebut sedikit membuka mata para pemerhati literasi, bahwa ada pekerjaan rumah yang sedikit rumit untuk segera diselesaikan.

Barangkali ini relevan untuk dibahas. Sebab sepiawai apa pun seseorang dalam memilih kata untuk memperindah tulisan, tidak akan berarti apa-apa jika menghadapi pembaca yang memiliki minat baca rendah.

Belum lagi jika tulisan itu mengulas sesuatu yang rumit, seperti perdebatan Goenawan Muhamad dkk. soal sains dan agama tersebut.

Ranah itu tidak hanya soal minat baca lagi, tetapi meningkat ke arah Daya Baca.
Minat baca serupa ketertarikan, keinginan, kesenangan, dan dorongan seseorang untuk melakukan aktivitas membaca. Ia ada pada ranah afektif dan motivasional. Sedangkan daya baca, soal kemampuan, kapasitas, ketahanan, dan kedalaman seseorang dalam membaca serta memahami suatu bahan bacaan.

Dengan demikian, persoalan literasi kita bukan hanya soal minat baca. Jika masyarakat sudah memiliki keinginan membaca tetapi tidak memiliki daya baca yang memadai, kita tetap dapat mengalami kesulitan memahami teks yang panjang, akademik, ilmiah, atau argumentatif.

Minat baca dan tulisan baik, seperti lingkaran yang saling mendahului. Membaca untuk bisa menulis dengan baik atau menulis dengan baik agar bisa menarik minat baca. Mana yang mendahului yang mana?

Kita punya banyak masalah yang harus diselesaikan, dan sampai di sini, saya sepakat dengan pandangan Gus Ulil, embrio masalah ini harus dibedah mulai dari sekolah atau kampus.

***
Gus Ulil ingin mengatakan "beranilah masak gagasan sendiri". Olahlah gagasan-gagasan rumit itu menjadi sajian sederhana agar bisa dinikmati oleh banyak pembaca kalangan mana pun.

Menemukan gaya tulisan untuk mengakomodir pembaca dari kalangan mana pun, tidak hanya membutuhkan keindahan bahasa dan kata. Jauh dari itu, ia membutuhkan ramuan yang khas dan identik dengan suasana kebatinan pembaca.

Hal ini setidaknya menjadi jawaban sederhana untuk mentaktisi daya baca yang masih tergolong rendah.

Bukan tidak mungkin melakukan itu, kita punya penulis hebat seperti Pramoedya Ananta Toer yang mendeskripsi sejarah dalam sebuah novel, bahkan mengemas tulisan berat bertema filsafat, sains, atau agama dalam bahasa yang sederhana tapi tetap indah dan menarik.

Penulis: La Said Sabiq

https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5