Lirik Lagu Hymne Kabupaten Muna

Mari bersatu menyusun kekuatan
Menyatukan Langkah untuk Muna kita
Muna Kabupaten termasyhur
Dikagumi sejak leluhur kita

Semua orang mengagumi Muna
Dengan Kebanggaan bangsa dan negara
Kita wajib memeliharanya
Saling menghormati dan menghargai

Reff:

Lestarikan budaya alam sekitarnya
Jauhkan anarkis dan perpecahan
Untuk kesinambungan generasi bangsa
Agar tetap jaya sepanjang masa
Masyarakat sejahtera, aman sentosa
Muna tercinta, abadi selamanya



Lirik Lagu Kalambe Wuna

Kalambe Ntiarasino
Nepake Bhia Salenda (2x)

***

Kalambe Wuna
Nengkoadhati, Pake Bhe Feelino
Kantiarasihanomo (2x)

Kalambe Ntiarasino/Ntiriasino
Nomooru, Nopsintuwu
Pande Nearasi Mata
Nekofeeli Nemokesahano

***

Kalambe Wuna
Nepake Kutango Bhe Tano Mbia-bisa
Kathiarasi Hanomo. (2x)



Berbicara tentang kesalahan berpikir, ada banyak literatur yang bisa dibilang telah mengupas tuntas pembahasan tentang kesalahan berpikir yang pertama kali dikemukakan oleh Jalaluddin Rakmat dalam bukunya Rekayasa Sosial.

Kang Jalal mencoba membahas tentang dinamika dalam perkembangan sosial yang ada. Hal menarik yang secara gamblang dapat kita pahami tentunya adalah perubahan sosial akan sangat terhambat jika dalam dinamikanya masih diselimuti oleh pemikiran masyarakat yang masih tergolong dalam Kesalahan Berfikir (intellectual cul-de-sac).

Alasan kemudian yang membuat saya menginformasikannya kembali adalah bahwa pada kenyataannya kesalahan yang telah dikemukakan oleh Kang Jalal sangat sering terjadi di kehidupan sekitar kita yang menjadi pelaku utama dalam menghambat tumbuh dan kembangnya kehidupan sosial dilingkungan kita.

Memahami untuk mencegahnya adalah salah satu upaya kita untuk menyelesaikan tanggung jawab keilmuan (meskipun masih belia) yang kita miliki.

Secara umum, intellectual cul-de-sac terbagi atas beberapa jenis, yaitu :

1. Fallacy of Dramatical Instance.
Kesalahan berpikir ini berawal dari kecenderungan orang untuk melakukan over-generalitation, yaitu penggunaan satu atau dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum.

kerancuan semacam ini sangat banyak di temui di masyarakat, dan biasanya over generalized di ambil dari satu kasus atau dua kasus sebagai rujukan yang diambil dari pengalaman pribadi seseorang.

Contoh yang sangat konkret yang terjadi: "wanita itu di sakiti oleh pria sebanyak 3 kali dalam hidupnya, lalu di berkesimpulan bahwa semua laki2 itu brengsek", itulah contoh konkret yang sering di temui dari fallacy of Dramatical Instance.

2. Fallacy of Retrospective Determinism.
Istilah panjang ini sebenarnya untuk menjelaskan kebiasaan orang yang menganggap masalah yang ada yang sekarang terjadi sebagai sesuatu yang secara historis memang selalu ada, tidak bisa dihindari, dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang.

Misalnya: "mengapa pelacuran itu harus dibasmi?, karena sepanjang sejarah pelacuran, mereka tetap ada, dan tidak bisa dibasmi, oleh karena itu yang harus kita lakukan merelokasikan agar tidak ada dampak2 yang tidak diinginkan."singkatnya Determinisme retrospektif adalah upaya kembali pada sesuatu yang seolah - olah sudah ditentukan oleh sejarah.

3. Post Hoc Ergo Propter Hoc.
Istilah ini berasal dari bahasa latin, Post = sesudah, Hoc = Demikian, Ergo = karena itu, Propter = disebabkan Hoc = demikian. intinya: sesudah itu - karena itu - oleh sebab itu. Memang sulit apabila diterjemahkan secara terminologi, tetapi kata-kata yang panjang dan sulit dipahami ini intinya bahwa akibat yang dihasilkan tidak sesuai dengan sebabnya, akan tetapi dipercaya bahwa penyebabnya tidak sesuai itu.

Contoh konkretnya: "orang tua lebih menyayangi seorang anak dibandingkan anak lainnya hanya karena orang tua itu naik pangkat, keadaan ekonominya yang baik setelah mempunyai anak kesayangannya itu. dulu orang tua ini sengsara dan yang kena getah anak pertamanya dan berkata "anak pertama ini membawa sial, zaman anak ini kami sengsara, nah anak yang bungsu ini yang membawa keberuntungan.

4. Fallacy Of Misplaced Concretness.
Intinya, kerancuan ini adalah mengkonkretkan sesuatu yang pada hakikatnya abstrak, misalnya: "mengapa Negara A miskin? karena sudah menjadi takdirnya negara A miskin, Takdir merupakan sesuatu yang abstrak, jika jawabannya seperti itu maka Negara A tidak bisa diubah lagi menjadi negara yang sejahtera.

5. Argumentum Ad Verecundiam.
Intinya, Berargumen dengan menggunakan Otoritas, padahal otoritas itu sendiri tidak relevan dan ambigu, otoritas itu sesuatu yang sudah diterima kebenarannya secara mutlak.

6. Fallacy Of Composition.
Misalnya, dikampung saya, ada orang yang membudidayakan jamur, sehingga menjadi perusahaan besar dan mendatangkan uang yang banyak pada orang tersebut. lalu melihat itu, seluruh penduduk menjual kebunnya untuk dijadikan modal berbisnis jamur. akibatnya semua penduduk kampung saya bangkrut karena merosotnya permintaan dan membludaknya pasokan barang. singkatnya, terapi yang berhasil untuk satu orang dianggap berhasil untuk semua orang, inilah Fallacy of composittion.

7. Circular Reasoning.
Pemikiran yang berputar - putar, menggunakan kesimpulan untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk menuju kesimpulan semua, hal ini sangat sering ditemui. ketika saya berdiskusi dengan teman saya, teman saya mengemukakan hipotesis: "apabila organisasi dikembangkan dengan baik maka program transmigrasi akan berjalan lancar." saya tanya: "apa buktinya organisasi itu berjalan lancar?" ia jawab: "kalau programnya berjalan lancar". saya tanya lagi: "Program lancar, artinya?" ia menjawab: "artinya pengembangan organisasinya baik." inilah contoh circular reasoning, ini sama saja membuat hipotesis, "apabila seorang manusia laki-laki, maka dia pasti pria".

***
Selain dari 7 kesalahan di atas dalam buku yang sama, penulis buku juga memaparkan tentang sebuah pemikiran kuno yang bisa dibilang sampai saat ini masih ada dan hidup dalam masyarakat di beberapa wilayah tertentu. Bahasa kelaziman yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk menamai ini adalah Mitos. Penulis membahas dua jenis mitos, yaitu:

1. Mitos Deviant.
Mitos ini berawal dari pandangan bahwa masyarakat itu stabil, statis, dan tidak berubah-ubah. Kalaupun terjadi perubahan, maka perubahan itu adalah penyimpangan dari sesuatu yang stabil. Mitos ini berkembang dari teori ilmu sosial yang disebut structural functionalism (fungsionalisme struktural).

Menurut teori ini, kalau mau melihat perubahan sosial, kita harus mau melihat struktur dan fungsi masyarakat. Jadi kalau ada dinamika sosial, maka harus ada statistika sosial. Analisis fungsional bisa dilakukan, misalnya dalam memandang persoalan kemiskinan. Kemiskinan meskipun ia tidak diinginkan, namun secara fungsional tetap diperlukan. Orang miskin diperlukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berbahaya yang tak mungkin dilakukan orang kaya, orang miskin memberikan pekerjaan kepada LSM yang meneliti prospek kemiskinan di suatu negara, dll.

Jika analisis fungsional ini terus menerus dilakukan dan dijadikan rujukan, kita bisa menjadi pro status quo. Kita melihat perubahan tidak lagi sesuatu yang diharapkan. Misalnya pelacuran, akan dianggap memiliki fungsi untuk mencegah suami-suami yang akan berpoligami.

2. Mitos Trauma.
Perubahan mau tidak mau menimbulkan reaksi. Bisa berbentuk krisis emosional dan stress mental. Perubahan juga berpotensi menimbulkan disintegrasi pada awalnya. Bisa berbentuk disintegrasi sosial dan disintegrasi individual.

Misalnya: ada teori yang dinamakan Cultural Lag (kesenjangan kebudayaan). Perubahan yang terjadi di suatu tempat belum tentu terjadi di tempat lain pada waktu yang bersamaan. Dan apabila kedua ini bersatu, berpotensi menimbulkan “kegamangan”.

Contoh: sebuah perusahaan yang telah dilengkapi peralatan komputer canggih, namun karyawan-karyawannyanya tidak mau atau belum belajar mengoperasikannya. Walhasil, komputer hanya menjadi pajangan untuk memperlihatkan “kelas” dari perusahaan tersebut.

Referensi:
  • Jalaluddin Rakmat. Rekayasa Sosial, Reformasi atau Revolusi? - PT Remaja Rosdakarya Bandung, 1999.


Surat Cinta ke 3 (terakhir) Untuk Sang Presiden
Refleksi Sampang & Hukum Sejarah

Surat cinta ketiga sekaligus yang terakhir ini Insha'Allah akan dihadirkan dalam sebuah buku berjudul: Presiden SBY & Syiah Sampang: Kisah Harapan yang Terbengkalai.

Sebuah kumpulan tulisan catatan atas Lemahnya Negara /Tidak hadirnya negara membela hak pengungsi Sampang Semoga generasi mendatang melihat bagaimana kekuasaan politik telah menggerogoti rasa kemanusiaan yang sangat sensitif jika dirinya disinggung tetapi tampak biasa saja ketika martabat bangsa disadap oleh kepentingan internasional dan kelompok agama yang memaksakan kehendaknya.

Wahai Sang Presiden, tengoklah duka mereka, sebentar lagi duka itu akan membawa pesan pada kehidupan Anda setelah 2014 Semoga sejarah tidak menghukum Anda, karena kami yakin itikad baik Anda, tetapi semua aparatus negara ada dalam kendali Anda, semoga Anda tidak gagal membaca arah dari aparatus Anda yang mungkin bergerak atas arahan Anda tetapi menggunting dalam lipatan, wajahnya tampak utuh di depan Anda tetapi terbelah ketika berada di belakang Anda Karena bisa jadi mereka tahu bahwa arahan Anda TIDAK TERARAH sehingga bisa diarahkan dalam kepentingan aparatus Anda.

Aparat ini wajahnya memang menghadap ke belakang, lisan kebijaksanaan dan kecendekiawanan tidak menjadi jaminan bahwa di situ tidak ada ego dan watak intelektual yang arogan, karena tampaknya intelektual kita adalah semata kesarjanaan yang penuh gelar akademik bukan tradisi yang bercawan kebijakan.

Buku ini bukan ulasan teologis, semata-mata untuk mendokumentasikan kepongahan negara lewat kepemimpinan yang lemah dan jiwa yang tersanjung oleh pujian, tersakiti oleh hinaan yang mungkin tampak hidup dengan hanya urusan menyapa pujian dan mengklarifikasi hinaan.

Wahai Sang Presiden berhentilah sejenak bicara demokrasi yang Anda banggakan, karena kami tidak bisa membanggakan demokrasi Anda tanpa perhatian sepenuhnya untuk menuntaskan masalah kemanusiaan. Ini bukan sunni, bukan Syiah, ini bukan partai D, atau Partai bukan D, ini masalah MANUSIA YANG TERANIAYA, ini MANUSIA YANG TERHINAkan oleh bangsanya sendiri, masih adakah Anda bersama negara yang Anda pimpin...

Penulis: A.M. Safwan (Madrasah Murtadha Muthahhari RausyanFikr Institute)

Referensi:

  • Tulisan ini dicopy pada postingan akun facebook anonym RousyanFikr Institute. Dengan tidak bermaksud untuk mengklaim atau semacamnya, hanya ingin berbagi tulisan yang baik untuk diketahui oleh banyak pihak.

https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5