Hanya anak-anak yang mampu bersikap bebas, percaya bahwa mereka bisa melakukan apa saja. Mereka tidak kenal takut. Secara naluri, mereka percaya pada kekuatan sendiri. Itulah mengapa kadang mereka selalu mendapatkan apa yang diinginkan, dengan cara apa pun.

Ketika tumbuh dewasa, mereka sadar tidak sekuat apa yang mereka kira. Kesadaran lain tumbuh, sadar bahwa mereka membutuhkan orang lain. Konsep ini, menurut Freud, adalah fase ketidaksadaran (superego).

Ketidaksadaran ini berisi insting, impuls, dan drives yang bisa jadi bawaan lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatik, biasanya terjadi pada masa anak-anak, yang ditekan oleh kesadaran (ego) lalu pindah ke daerah tak sadar (superego).

Pengaruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat kuat namun tetap tidak disadari.

Perilaku Generasi Pendahulu (X-Y)

Analisisnya tidak serumit psikoanalisis Sigmund Freud.

Kematangan berpikir pada anak banyak ditentukan oleh asupan pengetahuan dari madrasah pertamanya (keluarga). Sedang proses pengolahan informasi primer yang diterimanya dicerna berdasarkan analisis Freud (salah satunya). Dirunut dari Sadar (Id), Prasadar (Ego), dan ketidaksadaran (Superego).

Ini merupakan gambaran bahwa segala bentuk pengetahuan tidak mandiri, selalu dibutuhkan sumber pengetahuan lain untuk melengkapinya. Yang mandiri hanya pengetahuan itu sendiri.

Pada seorang anak, alam bawah sadar memproduksi sisi matching mirroring dengan sangat dominan. Tidak heran jika mereka dikategori sebagai peniru yang hebat.

Apa yang diperolehnya tercermin kembali pada sikap mereka selanjutnya. Tanpa sadar, tanpa pertanyaan, tanpa daya kritis, segala informasi yang mereka terima kemudian kembali diperagakan tanpa pertimbangan kecocokan atau risiko yang akan ditimbulkannya.

Gambaran fase sederhananya kira-kira seperti ini:
Sadar (id), memerhatikan hal-hal yang dicermati tetapi hanya sepintas lalu atau hanya untuk waktu tertentu; kemudian, Prasadar (ego), penengah dari Sadar (id) dan Ketidaksadaran (superego), ingatan yang tersimpan di fase sadar (id), akan ditekan oleh pengamatan Sadar (id) yang baru ke fase Prasadar (ego); Ketidaksadaran (superego), fase di mana ingatan Prasadar (ego) kembali ditekan ke bawah dan akan tersimpan baik, sampai ada stimulus untuk mengangkatnya kembali dalam keadaan (biasanya) tidak sadar.

Sampai di sini, tidak elok rasanya membebankan kesalahan pada si anak akan perilaku-perilaku menyimpang yang mereka lakukan. Ini merupakan perilaku psikologis yang semua orang merasakannya, tidak pandang bulu, dia ada pada fase generasi mana saja.

Perihal sepele yang orang dewasa lakukan akan membawa dampak tidak sepele bagi anak. Sebut saja, misalnya, upaya pembagian generasi, Generasi X, Generasi Y (milenial), Generasi Z, dan Generasi Alpha.

Sepintas lalu, pembagian generasi ini bertujuan untuk pemetaan kebutuhan pengetahuan. Erat kaitannya dengan penyesuaian perkembangan peradaban. Arahnya adalah padanan perkembangan industri 1.0 sampai 4.0, tentang generasi mana yang ada pada fase industri mana.

Konstruksi ini memang dibutuhkan sebagai upaya sinkronisasi kebutuhan dan upaya adaptasi.

Teori Generasi ini pertama kali dicetuskan di Amerika oleh William Strauss dan Neil Howe atau lebih dikenal dengan teori generasi Strauss-Howe dalam bukunya yang berjudul Generations.

Pemetaan sederhananya berdasar pada tahun kelahiran generasi. Baby Boomer (lahir tahun 1946-1964), Generasi X (lahir tahun 1965-1980), Generasi Y (lahir tahun 1981-1994), Generasi Z (lahir tahun 1995-2010), Generasi Alpha (lahir tahun 2011-2025).

Tetapi, tanpa sadar, kita membuat meta perilaku baru bagi anak. Mereka merasa benar atau setidak-tidaknya tidak merasa bersalah ketika melakukan perilaku yang menyimpang bagi generasi X atau Y, tetapi dilakukan secara massal oleh semua generasi Z atau Alpha. Pada tahap ini, matching mirroring masih berlaku.

Kasus di atas, dalam teori, dikenal dengan kesadaran massa. Kesadaran individu yang masih tanda tanya (?), tetapi terkonfirmasi secara massal, sehingga tidak penting lagi untuk dipertanyakan. Kesadaran kita terbawa oleh riuh suasana massa (pelaku) yang banyak.

Konteks teori ini sangat mudah kita temui di kerumunan massa yang sedang menyaksikan pertandingan sepak bola di stadion, nonton konser musik di ruang terbuka, atau kerumunan massa aksi demonstrasi. Kita merasa asing jika tidak bereaksi layaknya kerumunan massa beraksi.

Ada banyak contoh kasus yang viral di lini masa, mulai dari video, foto, sampai pada penggalan kalimat caci dan maki. Semua ramai dilakukan oleh anak yang seharusnya sibuk bermain dan mengembangkan imajinasi, karena melihat banyak contoh yang dipertontonkan oleh generasi X maupun Y.

Saya merasa perlu merekomendasikan pada diri kita semua untuk memeriksa jejak digital atau perilaku apa saja yang pernah kita pertontonkan pada mereka.

Sebagian dari kita yang mengaku berada pada fase generasi milenial (Y) ini turut mencicipi perkembangan teknologi yang menyerbu generasi Z dan Alpha. Kita ramai bertindak dan tampil bagai hero, memberi contoh yang sangat tidak patut dicontoh oleh para generasi Z dan Alpha.

Perhatikan isian dari aplikasi berbasis phone, mulai dari tiktok, bigolive, beetalk, bahkan facebook, Instagram dan twitter, sudah menjadi media utama bagi generasi Z dan Aplha untuk melihat apa saja yang dilakukan oleh orang dewasa.

Soal konten, kita semua paham apa yang ada di dalam aplikasi yang saya sebutkan tadi. Toh ternyata semua pelakunya adalah kita. Sampai di sini, siapa yang patut menyalahkan siapa?

Kita, para generasi pendahulu, gagal menjadi supervisi bagi anak yang sudah dikategori sebagai generasi Z maupun Alpha. Kita seperti para kritikus yang tidak menghadirkan solusi. Sibuk mencari kesalahan dan beramai-ramai menghakimi mereka, para anak-anak Z dan Alpha.

Sikap kita yang mengutuk dan menjadikan semua aktivitas mereka viral di media massa adalah salah satu tujuan mereka (eksistensi). Tidak heran jika semua itu malah membuat aktivitas serupa menjamur, bukan malah berkurang. Kita yang katanya milenial, gagal mengurai persoalan dan tanpa sadar semakin menjerumuskan para–Z dan Alpha ke hal yang kita kutuk ramai.

Peran Madrasah Pertama (Keluarga)

Kita lalu berdalil bahwa semua hal itu tergantung pada asupan nutrisi pengetahuan dari rumah. Dengan sangat percaya diri menyodorkan beberapa bukti akan generasi baik dari keluarga baik.

Penanganan generasi kita samakan dengan penanganan riset data. Sibuk bermain akrobatik angka, statistik, diagram, dan tabel-tabel persentase. Membaca dan menganalisis data-data minor dan mayor, lalu menarik konklusi pasif. Kita lupa bahwa satu dari sepuluh generasi yang tidak baik akan mengancam keberlangsungan generasi berikutnya. Berapa pun sedikitnya.

Hal yang sekali lagi luput dari perhatian kita bersama bahwa generasi Z maupun Alpha merupakan anak-anak yang lahir dari rahim generasi Y (milenial). Mempertanyakan madrasah pertama para-Z adalah mempertanyakan diri sendiri.

Kita, yang harusnya hadir sebagai solusi, baik sebagai orang tua maupun sebagai generasi pendahulu, sebagai bentuk pertanggungjawaban dari sikap yang membuat pemisahan dan pemetaan generasi.

Anak tidak memiliki konsep kematangan hidup, tidak memiliki gambaran capaian, tidak memiliki konsep objektivikasi persoalan. Mereka memiliki dunianya sendiri, dunia imajinasi paket komplit tanpa embel yang berupa-rupa. Kitalah yang patut mengevaluasi diri. Sudah pantaskah kita menjadi madrasah yang kuat dan kokoh untuk menghasilkan generasi yang berkualitas?


Tugas suci para-Nabi tidak hanya berkutat pada kitab agama yang kaku dan konvensional. Mereka membawa perubahan fundamental, menyentuh pelbagai sendi kehidupan, terutama tentang Ilmu pengetahuan. Tugas mulia untuk Mencerahkan.

***
Di masanya, dalam upaya pelariannya, Nabi Elia (Ilyas a.s.), menerima Wahyu untuk bermukim di sebuah negeri bernama Akbar, negeri yang kemudian berubah menjadi salah satu kota di Lebanon, yang saat ini lebih dikenal dengan kota Byblos. Dalam sejarah, konon di sanalah Byblos pertama kali ditemukan dan berkembang pesat.

Byblos, sebuah seni menggoreskan kuas dan tinta (menulis).

Menggoreskan segala peristiwa dalam lempengan tanah liat yang dipadatkan lewat proses pembakaran (keramik). Keramik tanah liat ini menjadi pilihan untuk mengabadikan setiap Byblos (tulisan). Dianggap dapat bertahan lama dan juga memiliki nilai estetika yang apik ketika disusun rapi pada rak-rak ruangan yang saat itu belum disebut perpustakaan.

Istilah perpustakaan memang identik dengan kumpulan buku, bukan kumpulan keramik bertulis. Meski arti konvensional perpustakaan adalah kumpulan referensi atau gudang literatur, tetapi muasal kata Perpustakaan adalah Library (Inggris) yang berakar dari kata Liber (Yunani) yang berarti buku-buku, bukan keramik.

Tidak ada gambaran untuk membentuk perpustakaan seperti saat ini. Instrumen terbatas. Pun penulis atau yang berhak mempelajari Byblos bukan sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang sudah dipilih oleh para–Dewan Agung atau penasihat kerajaan.

Para dewan agung tahu, kekuatan Byblos mampu memusnahkan satu generasi bangsa tanpa perang. Hanya dengan sebuah gagasan, satu bangsa dapat dihancurkan tak tersisa, tanpa pertumpahan darah atau kerugian ekonomi yang banyak.

Oleh karenanya para penulis harus tetap dalam kontrol para dewan agung, pengetahuan atau tentang apa-apa yang harus dituliskan hanya seputar apa yang dikatakan oleh para dewan agung. Pengetahuan dimonopoli.

Pada kondisi ini, otentifikasi Byblos tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Sebab, hanya mereka yang diizinkanlah yang dapat mengemukakan pendapat dalam Byblos. Otentik, terjaga.

Tidak ada percetakan keramik saat itu, satu keramik hanya cukup untuk satu tulisan dengan gaya menulis yang itu-itu saja. Tidak ada plagiat atau penjiplakan, karena jika ada upaya menuliskannya kembali, dia akan menjadi keramik yang berbeda. Otentik.

Di belahan dunia lainnya, Yunani, sistem penulisan Byblos ini kemudian dicomot dan berganti sebutan menjadi Alfabet. Dengan penambahan jenis huruf yang belakangan kita kenal dengan istilah huruf Vokal (a, i, u, e, o). Mereka, Yunani, bangsa yang sangat cepat dan kuat beradaptasi perihal pengetahuan, di sanalah banyak lahir para pemikir hampir setiap generasi.

Konsep: lihat, cermati, lalu modifikasi adalah tipe masyarakat Yunani yang haus pengetahuan, mawas diri, tetapi dilain sisi membuka ruang dikursus yang memadai. Padat wacana dan memiliki semangat juang yang tajam perihal pengetahuan. Belum ada di abad ini yang mampu menyamai konsep mereka, para tokoh Yunani. Mereka generasi "penggiat" literasi.

***
Nabi Ilyas a.s., memerhatikan budaya ini lalu ikut mempelajari. Dia setuju untuk otentifikasi keramik Byblos ini, tetapi mengkhawatirkan banyak hal.

Jika buah pemikiran yang telah terukir rapi itu dimusnahkan dan para pemikirnya telah tiada, maka musnahlah sudah.

Nabi Ilyas a.s. memandang perlu sebuah upaya unifikasi gagasan sembari mengupayakan kodifikasi dalam bentuk lain. Alat dan bahan yang bisa; tetap otentik, tidak kehilangan estetika dan tidak gampang untuk dimusnahkan.

Oleh karena masa perang terus meletus dimana-mana, tidak menutup kemungkinan susunan keramik ikut menjadi sasaran buta para musuh atau penyerang.

Sang penerima wahyu kemudian merekomendasi untuk dituliskan pada bahan yang tidak berat dibawa-bawa atau dipindah tempatkan sewaktu-waktu, jika terjadi perang atau bepergian. Tidak perlu lagi membawa beban berat seperti keramik, tetapi dapat bertahan untuk waktu lama seperti halnya keramik.

Kulit pohon yang bernama Papyrus-lah yang menjadi pilihannya. Tumbuhan Papyrus ini biasa tumbuh di sekitar sungai atau daerah yang cukup lembab.

Dari beberapa referensi disebutkan, cara membuat kulit pohon Papyrus menjadi bahan yang bisa ditulisi cukup mudah. Kulit pohon terluar diiris dan dipisahkan dan kulit dalamnya. Kulit dalam inilah yang tiriskan atau di press untuk mengurangi kandungan air, lalu dikeringkan agar dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat tulisan.

Salah satu kelebihan dari Papyrus ini yaitu sifatnya yang tahan terhadap air/waterproof. Digadang-gadang kulit ini dapat bertahan hingga ribuan tahun.
Beberapa naskah terkenal yang menggunakan kulit Papyrus yaitu Rhind Papyrus (papirus rhind), Turin Papyrus (papirus turin), naskah ini tersimpan di museum Mesir di Turin Italia.

Kitab lain, Ebers Papyrus (Papirus ebers), merupakan salah satu teks medis yang terkenal di dunia, Papyrus ini berisi tentang resep obat tradisional bangsa Mesir kuno, di dalamnya terdapat pengetahuan tentang pembuluh darah.

Dari nama jenis pohon inilah kemudian muasal kata kertas digunakan. Papirus, paper, papiere, papiros yang dalam arti bahasa inggris kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Kertas (Paper).

Seiring dengan perjalanan sejarah dan perkembangan teknologi, informasi primer (dalam segala hal) seperti halnya muasal kertas ini kemudian dikawinkan dengan perkembangan peradaban lalu dapat menghasilkan "perubahan-perubahan fundamental".

Poinnya bahwa, tidak hanya Nabi Ilyas a.s., generasi Nabi pendahulunya, pun para-Nabi dan Rasul setelahnya, telah membuka tabir, menghadirkan informasi primer (lain) yang kemudian menjadi sandaran perkembangan peradaban kita saat ini.

Mereka, para-Nabi tidak hanya berkutat pada kitab agama yang kaku dan konvensional. Mereka membawa perubahan fundamental, menyentuh pelbagai sendi kehidupan, terutama tentang Ilmu pengetahuan. Tugas mulia untuk Mencerahkan.

Penulis: La Said Sabiq

Referensi:

  • Paulo Coelho, Gunung Kelima (The Fifth Mountain), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2005.

Saya punya kebiasaan baru sejak awal tahun, tidak tahu persis waktu mulainya, sesingkat yang diingat, sekitar Januari 2018 lalu.

Menunggu pagi, cek Facebook untuk masuk dalam group Dahlan Iskan (DahlanIs) dan membaca Opini beliau yang terbit setiap hari antara pukul 6.20-6.58 Wita, meninggalkan jejak komentar atau sekadar hanyut dalam bacaan.

Banyak hal menarik yang disuguhkan oleh mantan menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini dalam setiap opini-opini paginya. Segala hal diceritakan secara mendetail, sedetail-detailnya sampai seolah kita masuk "terjerumus" dalam alur tulisan. Kalimat-kalimatnya hidup, bergerak dan berdialog.

Kita seperti sedang menyaksikan sebuah video, bukan sedang membaca tulisan. Hebat!

Salah satu khas tulisan yang tertangkap kasat mata adalah tanda baca "titik". Hampir setiap jadah kalimat menggunakan titik, khas, ala DahlanIs.

Pernah dalam beberapa kesempatan saya membagikan tulisan beliau, beberapa teman bertanya soal 'titik' itu. Saya bercanda menjawab, mungkin beliau sudah cukup tua, tidak hanya dalam beraktivitas tubuh jasmani, dalam menulis pun beliau kelelahan, akhirnya banyak berhentinya, seperti orang berjalan kaki.

Adagium yang saya selalu dengar, kembali menemukan padanannya. Bahwa penulis hebat adalah seorang pembaca yang ulung.

Siapa yang tidak kenal seorang DahlanIs, siapa yang tidak pernah mendengar sepak terjang karier beliau dalam dunia tulis-menulis dan jurnalistik.

Tokoh yang oleh penggemarnya biasa disapa dengan panggilan akrab "Abah" ini adalah mantan CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group yang bermarkas di Surabaya.

Kariernya dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur pada tahun 1975. Setahun kemudian, Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo, hingga akhirnya di tahun 1982, DahlanIs memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang. 

Bapak kelahiran 17 Agustus 1951 ini, memiliki nama lengkap Prof. Dr (H.C.) Dahlan Iskan, lahir di Magetan, Jawa Timur, saat ini berusia 67 tahun. Masih "sangat muda" menurut beliau dalam sela-sela bait tulisannya.

Saya jatuh cinta. Gaya menulisnya, semangat menulisnya, dan tentu saja isi tulisannya.

Tidak semua orang bisa menulis setiap hari dengan materi tulisan yang baik dan menarik. Informatif dan berbobot.

Semua hal bisa menjadi tulisan, tapi sangat jarang seorang penulis dapat mengemas suatu peristiwa dalam bentuk naskah yang apik. DahlanIs jagonya.

Facebook semakin bernilai saat saya diizinkan bergabung dalam group DahlanIs.
Isu-isu politik dunia, perkembangan ekonomi, sosial, budaya global, sampai persoalan remeh-temeh dikemas dalam tulisan yang mengalir dan asyik di baca oleh DahlanIs. Pun persoalan dalam negeri, tidak luput jadi santapan sarapan "tulisan pagi" seorang Dahlan.

Ciri lain dalam tulisan DahlanIs adalah penyertaan nama salah satu penyanyi dangdut pendatang baru asal Surabaya, Via Vallen namanya.

Saya tidak tahu persis mengapa DahlanIs sering menyelipkan nama penyanyi dangdut tersebut dalam beberapa tulisannya. Yang pasti, selipan nama itu selalu menambah riuh renyah tulisannya. Hiasan yang bermakna dan tentu tidak mengurangi nilai tulisan.

Dalam tulisan-tulisan DahlanIs lah saya mendapati informasi primer yang berimbang terkait dengan isu politik, ekonomi, kebudayaan dalam dan luar negeri. Informasi yang semakin hari semakin sulit ditemukan di media mainstream Nasional. Poin lebihnya lainnya, DahlanIs selalu berhasil mengulas peristiwa-peristiwa tersebut satu hari lebih cepat dari media lain. Hebat!

Di sela tulisan yang mengulas hal atau peristiwa besar yang menyita perhatian publik, DahlanIs juga selalu menyajikan tulisan ringan seperti cacatan perjalanan atau tempat-tempat menarik yang dikunjunginya.

Seperti halnya tulisan terkait politik, catatan perjalanan ini berlatar dalam dan luar negeri. Membacanya, kita seperti berada di luar sana dan melewati setiap perihal yang dijabarkannya dalam bait tulisan. Tulisan yang benar-benar hidup dan inspiratif.

Benar. Sekali lagi, benar, ungkapan bahwa, para penulis menemukan keabadian. Abadilah Disway.id.

Akhirnya, saya berharap semoga akan banyak DahlanIs-DahlanIs lain dalam negeri Via Vallen ini, agar keabadian menyertai.

Kota kecil ini sedikit-banyak mirip dengan kota kelahiran saya, Raha, Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara. Topografi wilayah, tipologi masyarakat, karakteristik penduduk, sampai mata pencaharian masyarakatnya juga tidak begitu berbeda. Kota Bantaeng.

Salah satu Kabupaten dari 24 Kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayahnya hanya mencapai angka 395 sekian-sekian kilometer persegi, dengan populasi 176.699 Jiwa dan kepadatan penduduk berkisar 446 jiwa per kilometer perseginya.

Kota ini relatif kecil jika dibanding dengan kota kabupaten lain yang ada di jazirah Sulawesi Selatan. Hanya terbagi dalam 8 kecamatan yang terdiri dari 67 desa dan kelurahan. Sehari keliling Kabupaten, kita sudah sampai di semua titik dan kembali ke titik semula.

Kota kecil ini yang memperlihatkan kepada saya bahwa, benar ada sebuah pemandangan yang menjadi "imajinasi bersama" semua anak sekolah dasar dulu, tentang gambar pemandangan, Laut, seekor ikan berenang di sekitar kail nelayan, nelayan yang sedang duduk asyik memancing di atas perahu, berseberangan dengan sawah dan berlatar bukit dengan tambahan sepotong entah matahari terbit (sunrise) atau terbenam (sunset).

Di Bantaeng pemandangan itu benar-benar ada. Sawah yang tetap dialiri air tawar di bibir pantai, Sunrise yang terkikis oleh lekukan anak gunung Bawakaraeng, dan beberapa nelayan yang sedang bersampan mengawasi ladang rumput lautnya. Sayang, pantainya terlalu keruh untuk melihat kasat mata ikan yang berkeliaran di sekitar kail.

Hal lain yang identik dengan kampung saya, masyarakat Bantaeng, sebagian besar "bermata pencaharian" pegawai negeri sipil (PNS).

Masyarakatnya, seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, berlomba untuk menjadi PNS, sebagian besarnya lagi adalah tenaga honorer yang tersebar di beberapa instansi, persis seperti Kabupaten Muna.

Berinteraksi dengan masyarakat sekitar, tidak ubahnya berinteraksi dengan tetangga rumah, hanya dengan bahasa (lokal) yang berbeda.

Waktu yang cukup singkat untuk membuka diri, memahami dan mengamini, betapa sangat beragam masyarakat Indonesia. Berbineka Tunggal Ika.

Di Bantaeng, di tanah rantau, untuk pertama kalinya selama delapan tahun di Sulawesi Selatan, saya merasakan wangi Petrichor pertama kali yang begitu menyengat. Wangi yang terakhir kali sebelumnya hanya tercium di tanah pekarangan rumah sendiri.

Angin kemarau pagi khas pedesaan kampung halaman, saya dapatkan setiap bangun pagi di sudut kota kecil ini, pun aktivitas pagi masyarakatnya selalu mengingatkan sanak keluarga di kampung halaman yang jauh di sana.

Begitu menyengat, begitu menggelisahkan, begitu meresahkan dan menyesakkan dada. Tidak ada istilah lain yang sepadan, kecuali Rindu.

Meski di luar ekspektasi, tetapi tidak cukup mengagetkan saya, bertemu dengan orang Muna yang juga sedang menikmati asyiknya perantauan di Bantaeng.

Masyarakat Muna memang bisa dibilang ada di mana-mana di tanah rantau, jiwa itu mengalir dalam nadir setiap masyarakat Muna, jiwa penjelajah, jiwa pengelana.

Meski beberapa orang yang saya temui sudah cukup jarang kembali ke tanah kelahiran, tetapi satu hal yang membuat kami begitu akrab, satu hal itu yang selalu kami sepakati untuk disebut "Rindu kampung halaman".

Istilah itu menemukan makna sejatinya di sini, di tanah rantau, di tanah kelana. 
Benar apa yang dibilang oleh para tetua, "Merantaulah, mengelanalah, jika ingin merasakan betapa damainya kampung sendiri". Bahwa sebaik-baik tempat kembali adalah rumah.

Penulis: La Said Sabiq
Bantaeng, 29 Oktober 2018, Pukul: 6.20 Wita.
https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5