Semua sepakat, belajar filsafat terasa seperti duduk di ruang kuliah yang serius, penuh istilah, dan kadang membuat kita sibuk mengangguk meski diam-diam tidak mengerti.

Tapi bagaimana jika ternyata, filsafat bisa datang dalam bentuk dongeng cerita, tokoh-tokoh sederhana, atau pertanyaan anak-anak? Di tangan Jostein Gaarder, begitulah filsafat, receh, renyah, dan sederhana.

Gaarder seperti tahu satu rahasia sederhana, manusia sebenarnya senang berpikir tentang hal-hal besar, hanya saja sering takut dengan cara filsafat membicarakannya. Maka ia mengambil filsafat dari rak buku yang tinggi, menurunkannya ke lantai, lalu mengajak kita duduk bersamanya.

Membaca Dunia Sophie (Sophie's World) misalnya, rasanya seperti membaca novel biasa, sampai tiba-tiba kita disodori pertanyaan, Siapa sebenarnya kita? Dari mana dunia berasal? Mengapa sesuatu ada? Pertanyaan-pertanyaan yang dalam buku filsafat mungkin terasa seperti batu besar, oleh Gaarder dilemparkan seperti kerikil ke dalam kolam. Kecil, ringan, tetapi riaknya ke mana-mana.

Bukan receh dalam arti dangkal. Tapi sebaliknya, Ia membuat pertanyaan besar terdengar sederhana. Membuat filsafat seperti obrolan yang muncul ketika kita sedang menikmati kopi, lalu tiba-tiba percakapan itu membawa kita kepada sederet filsuf dengan segala pemikirannya.

Dalam Dunia Sophie, seorang gadis remaja belajar sejarah filsafat melalui surat-surat misterius. Tidak ada mimbar akademik yang kaku.

Gaarder memainkan cara yang sama dalam Dunia Anna. Di buku ini filsafat tidak hanya bertanya tentang manusia, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan alam.

Kemudian ada Dunia Cecilia, yang menghadirkan kematian, kehidupan, dan pertanyaan tentang keberadaan melalui kisah seorang anak perempuan. Tema yang biasanya terasa berat itu justru disampaikan dengan kelembutan.

Yang paling apik menurut saya adalah buku The Solitaire Mystery. Bagaimana Gaarder menyisip filsafat ke dalam lebar-lembar kartu yang sering kita mainkan di sela-sela kesibukan kita. Atau misalnya dalam The Christmas Mystery, pertanyaan tentang waktu, takdir, iman, dan keberadaan bergerak melalui kisah yang menyerupai dongeng.

Mungkin memang begitulah filsafat seharusnya dimulai, bukan dari hafalan, istilah-istilah rumit, tetapi sesuatu yang sederhana dan hidup di sekitar. Di situlah kelihaian Gaarder. Ia tidak membuat filsafat menjadi lebih tinggi. Ia justru membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih filosofis.

Secangkir kopi bisa menjadi pertanyaan tentang keberadaan. Seorang anak bisa menjadi pintu menuju metafisika. Kematian bisa menjadi jalan untuk memahami arti kehidupan. Bahkan selembar surat dapat membawa kita berkelana dari dunia sehari-hari menuju pertanyaan yang selama ribuan tahun menghantui manusia.

Gaarder barangkali bukan filsuf dalam pengertian buku-buku tebal. Ia seperti pedagang keliling yang membawa filsafat dari satu rumah ke rumah lain, mengetuk pintu pembaca dengan cerita.

Ia tidak berkata “ayo belajar filsafat”, ia hanya berkata, “coba kita pikirkan sebentar”, dan kalimat sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang menjalar di kepala kita.

Setelah selesai membaca buku Gaarder, kita mungkin mulai memandang dunia dengan sedikit berbeda. Langit tidak lagi sekadar langit. Waktu tidak lagi sekadar angka pada jam. Kematian bukan hanya akhir. Dan pertanyaan seorang anak yang terdengar “receh” bisa ternyata lebih serius daripada jawaban orang dewasa yang merasa sudah mengetahui segalanya.

Mungkin itulah keistimewaan Jostein Gaarder, Ia membuat filsafat tidak terasa seperti filsafat. Filsafat menjadi cerita. Menjadi permainan. Menjadi rasa ingin tahu. Menjadi kegelisahan dan dongeng kecil sebelum tidur.

Dan ketika kita sadar bahwa kita sedang berfilsafat, semuanya sudah terlambat. Kita sudah terlanjur berpikir. Imajinasi kita sudah jauh melampaui batas.

Penulis: La Said Sabiq


Ada sebuah kutipan dialog pada salah satu scenes film. Katanya begini "...Science never sleep. Your heart maybe, but science will never".

Film itu menceritakan tentang sepasang kekasih yang sangat menggilai perkembangan sains dalam semangat untuk menyelamatkan umat manusia dari kebodohan. Mereka memiliki semangat yang sama dalam upaya mencerdaskan kehidupan umat manusia. Hubungan mereka tumbuh di antara itu, subur dalam upaya filantropis.

Cukup mendambakan, memiliki pasangan yang secara emosional ikut tertarik pada hal-hal yang kita gemari.

Kita bisa menghabiskan waktu bersama, membahas dan mempersiapkan segalanya secara sederhana. Toh kegemaran kita identik, tanpa penjelasan panjang-lebar, cukup bermain semiotik, kita sudah mengerti banyak hal satu sama lain.

Kita akan merasakan banyak hal dengan bercerita tentang segala hal di luar kita, yang “bukan tentang kita” kata Payung Teduh. Hakikat kebersamaan, jika boleh memberi istilah.

Dalam sebuah analisis sederhana, Muhammad Taqi Mishbah Yazdi (1934), memberi penjelasan bahwa sifat lahiriah manusia (insan) untuk mencari dan berkumpul dengan insan lain yang serupa. 

Bukan mengeliminasi kemampuan adaptasi manusia, tetapi lebih lanjut, M.T. Mishbah Yazdi memberikan penjelasan, proses pencarian dan sampai pada kesimpulan untuk berkumpul dengan yang serupa adalah kemampuan insan yang mendahului sifat adaptasinya.

***
Meski saya belum termasuk kategori seorang pemakan buku, mengoleksi buku-buku sampai bertumpuk-tumpuk adalah salah satu kegemaranku.

Dalam sebuah tulisan, saya menjelaskan bahwa kegemaran itulah yang menjadi obat mujarab penyakit insomnia yang saya derita di masa menjadi mahasiswa dulu. Saya selalu membayangkan mencari pasangan yang memiliki kecintaan terhadap buku, melebihi kecintaannya pada hubungan kami. Sederhana.

Akan menjadi kebahagiaan tersendiri jika dalam romansa diselingi dengan intrik bertengkaran yang berbobot. Perihal jenis buku apa yang harus didahulukan untuk dibeli atau dibaca.

Mendiskusikan proyeksi masa depan berbekal analisis matang para filsuf dan diskusi tentang konten buku yang baru selesai dilahap. Menghabiskan waktu bersama tidak seperti pasangan pada umumnya.

Tulisan ini dilatarbelakangi kenangan masa lalu. Tentang seseorang ‘di luar’ saya yang memiliki kegemaran mirip denganku; membaca, diskusi, dan mengoleksi buku.

Dia pecandu sang sastrawan, Si Binatang Jalang Chairil Anwar. Dalam beberapa kesempatan, kami banyak mendiskusikan tentang sang penyair di sela diskusi berat tentang para tokoh filsuf Yunani kuno.

Sepanjang masa, kami selalu memiliki orang ketiga, kalau bukan Plato, Rene Descartes, diselingi Immanuel Kant atau kadang menyusup tokoh Islam sekelas Ayatullah Murtadha Muthahhari sampai Sayid Muhammad Baqir Al-Shadr. Begitu jauh dan berat pembahasan.

Kadang-kadang, dalam pembahasan yang begitu jauh dan cukup berat itu, Chairil Anwar selalu kembali mencairkan suasana dengan penggalan frase mesranya “sekali berarti, sesudah itu mati”. Kalimat ini kami retas dalam metafora rasa, bahwa menyayangi sekali (sangat menyayangi), sesudah itu mati.

Kami memiliki semangat belajar yang menggebu, semangatnya tidak terlalu berbeda dengan sepasang kekasih dalam film yang diilustrasikan pada paragraf pertama di atas.

Meski kualitasnya masih belum menyentuh tataran semangat filantropis, tetapi masing-masing dari kami berusaha berguna untuk orang lain, seminimalnya untuk satu sama lain di antara kami.

Tentu sangat wajar jika terbesit dalam pikiran untuk berlaku seperti pasangan normal dalam beberapa bagian, ‘sayangnya’ selalu saja mengalami patahan karena godaan orang ketiga.

Para filsuf tidak memberi kami jeda untuk membuang waktu yang begitu berarti. Daripada bermalam mingguan berdua, kami lebih memilih untuk keluar mengisi diskusi atau kajian yang diadakan di tempat yang berbeda.

Berkunjung ke tempat-tempat mainstream seperti pasangan lain, bagi kami, hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan tentu saja uang. Aktivitas tidak produktif itu kami ganti dengan berhadap-hadapan saling berusaha memusatkan tatapan di sela-sela teori Sigmund Freud atau kerangka logika para pengusung feminisme.

Hanya saja, jangan berpikir bahwa hubungan ini bebas dari persoalan, terlalu berlebihan dan sempurna suatu hubungan tanpa percekcokan yang wajar.

Untuk berdamai pada pertengkaran kecil, Adam Smith menjembatani kami dengan konsep invisible hand-nya. Pertanda-pertanda sederhana yang bisa menyatukan kembali frekuensi tanpa perdebatan yang panjang. Tangan-tangan tak terlihat merangkul kami untuk kembali duduk bersila meretas persoalan.

Kami percaya, selain rasa, ada hal-hal prinsip yang perlu dibangun dalam sebuah hubungan. Setidaknya, yang bisa menjadi legitimasi kuat bagi kami untuk menemukan alasan sampai berani mengurusi hidup anak orang. Menurutnya, hal prinsipiil ini yang mengikat hubungan, menghalau rasa bosan yang datang cepat, tepat dan mematikan.

Pada bagian ini, para tokoh itu gagal mendamaikan kami. Kami yang akhirnya menyerah pada kehadiran para orang ketiga sebagai pendamai. Frekuensi Si Binatang Jalang hilang entah ke mana.

Akhirnya, dalam bagian lain buku Jagat Diri milik M.T. Mishba Yazdi tersebut, juga menjelaskan tentang sifat lahiriah manusia yang terus mengalami perubahan.

Bahwa manusia terus melakukan upaya untuk mengevaluasi gerakan substansialnya sebagai upaya mengikuti perkembangan dimensi kehidupan.
Memiliki kebiasaan dan hobi yang baru, mengganti atau mengevaluasi kegemaran yang lama sebagai bagian dari sifat adaptifnya.

Kini kami memiliki kegemaran yang berbeda, entah Chairil Anwar akan kembali hidup menjadi pendamai dan merevisi frasa dalam puisinya, atau Adam Smith kembali melakukan intervensi lewat tangan-tangan tak terlihatnya. Hanya para pecinta buku baru yang tahu.

Penulis: La Said Sabiq

Hanya anak-anak yang mampu bersikap bebas, percaya bahwa mereka bisa melakukan apa saja. Mereka tidak kenal takut. Secara naluri, mereka percaya pada kekuatan sendiri. Itulah mengapa kadang mereka selalu mendapatkan apa yang diinginkan, dengan cara apa pun.

Ketika tumbuh dewasa, mereka sadar tidak sekuat apa yang mereka kira. Kesadaran lain tumbuh, sadar bahwa mereka membutuhkan orang lain. Konsep ini, menurut Freud, adalah fase ketidaksadaran (superego).

Ketidaksadaran ini berisi insting, impuls, dan drives yang bisa jadi bawaan lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatik, biasanya terjadi pada masa anak-anak, yang ditekan oleh kesadaran (ego) lalu pindah ke daerah tak sadar (superego).

Pengaruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat kuat namun tetap tidak disadari.

Perilaku Generasi Pendahulu (X-Y)

Analisisnya tidak serumit psikoanalisis Sigmund Freud.

Kematangan berpikir pada anak banyak ditentukan oleh asupan pengetahuan dari madrasah pertamanya (keluarga). Sedang proses pengolahan informasi primer yang diterimanya dicerna berdasarkan analisis Freud (salah satunya). Dirunut dari Sadar (Id), Prasadar (Ego), dan ketidaksadaran (Superego).

Ini merupakan gambaran bahwa segala bentuk pengetahuan tidak mandiri, selalu dibutuhkan sumber pengetahuan lain untuk melengkapinya. Yang mandiri hanya pengetahuan itu sendiri.

Pada seorang anak, alam bawah sadar memproduksi sisi matching mirroring dengan sangat dominan. Tidak heran jika mereka dikategori sebagai peniru yang hebat.

Apa yang diperolehnya tercermin kembali pada sikap mereka selanjutnya. Tanpa sadar, tanpa pertanyaan, tanpa daya kritis, segala informasi yang mereka terima kemudian kembali diperagakan tanpa pertimbangan kecocokan atau risiko yang akan ditimbulkannya.

Gambaran fase sederhananya kira-kira seperti ini:
Sadar (id), memerhatikan hal-hal yang dicermati tetapi hanya sepintas lalu atau hanya untuk waktu tertentu; kemudian, Prasadar (ego), penengah dari Sadar (id) dan Ketidaksadaran (superego), ingatan yang tersimpan di fase sadar (id), akan ditekan oleh pengamatan Sadar (id) yang baru ke fase Prasadar (ego); Ketidaksadaran (superego), fase di mana ingatan Prasadar (ego) kembali ditekan ke bawah dan akan tersimpan baik, sampai ada stimulus untuk mengangkatnya kembali dalam keadaan (biasanya) tidak sadar.

Sampai di sini, tidak elok rasanya membebankan kesalahan pada si anak akan perilaku-perilaku menyimpang yang mereka lakukan. Ini merupakan perilaku psikologis yang semua orang merasakannya, tidak pandang bulu, dia ada pada fase generasi mana saja.

Perihal sepele yang orang dewasa lakukan akan membawa dampak tidak sepele bagi anak. Sebut saja, misalnya, upaya pembagian generasi, Generasi X, Generasi Y (milenial), Generasi Z, dan Generasi Alpha.

Sepintas lalu, pembagian generasi ini bertujuan untuk pemetaan kebutuhan pengetahuan. Erat kaitannya dengan penyesuaian perkembangan peradaban. Arahnya adalah padanan perkembangan industri 1.0 sampai 4.0, tentang generasi mana yang ada pada fase industri mana.

Konstruksi ini memang dibutuhkan sebagai upaya sinkronisasi kebutuhan dan upaya adaptasi.

Teori Generasi ini pertama kali dicetuskan di Amerika oleh William Strauss dan Neil Howe atau lebih dikenal dengan teori generasi Strauss-Howe dalam bukunya yang berjudul Generations.

Pemetaan sederhananya berdasar pada tahun kelahiran generasi. Baby Boomer (lahir tahun 1946-1964), Generasi X (lahir tahun 1965-1980), Generasi Y (lahir tahun 1981-1994), Generasi Z (lahir tahun 1995-2010), Generasi Alpha (lahir tahun 2011-2025).

Tetapi, tanpa sadar, kita membuat meta perilaku baru bagi anak. Mereka merasa benar atau setidak-tidaknya tidak merasa bersalah ketika melakukan perilaku yang menyimpang bagi generasi X atau Y, tetapi dilakukan secara massal oleh semua generasi Z atau Alpha. Pada tahap ini, matching mirroring masih berlaku.

Kasus di atas, dalam teori, dikenal dengan kesadaran massa. Kesadaran individu yang masih tanda tanya (?), tetapi terkonfirmasi secara massal, sehingga tidak penting lagi untuk dipertanyakan. Kesadaran kita terbawa oleh riuh suasana massa (pelaku) yang banyak.

Konteks teori ini sangat mudah kita temui di kerumunan massa yang sedang menyaksikan pertandingan sepak bola di stadion, nonton konser musik di ruang terbuka, atau kerumunan massa aksi demonstrasi. Kita merasa asing jika tidak bereaksi layaknya kerumunan massa beraksi.

Ada banyak contoh kasus yang viral di lini masa, mulai dari video, foto, sampai pada penggalan kalimat caci dan maki. Semua ramai dilakukan oleh anak yang seharusnya sibuk bermain dan mengembangkan imajinasi, karena melihat banyak contoh yang dipertontonkan oleh generasi X maupun Y.

Saya merasa perlu merekomendasikan pada diri kita semua untuk memeriksa jejak digital atau perilaku apa saja yang pernah kita pertontonkan pada mereka.

Sebagian dari kita yang mengaku berada pada fase generasi milenial (Y) ini turut mencicipi perkembangan teknologi yang menyerbu generasi Z dan Alpha. Kita ramai bertindak dan tampil bagai hero, memberi contoh yang sangat tidak patut dicontoh oleh para generasi Z dan Alpha.

Perhatikan isian dari aplikasi berbasis phone, mulai dari tiktok, bigolive, beetalk, bahkan facebook, Instagram dan twitter, sudah menjadi media utama bagi generasi Z dan Aplha untuk melihat apa saja yang dilakukan oleh orang dewasa.

Soal konten, kita semua paham apa yang ada di dalam aplikasi yang saya sebutkan tadi. Toh ternyata semua pelakunya adalah kita. Sampai di sini, siapa yang patut menyalahkan siapa?

Kita, para generasi pendahulu, gagal menjadi supervisi bagi anak yang sudah dikategori sebagai generasi Z maupun Alpha. Kita seperti para kritikus yang tidak menghadirkan solusi. Sibuk mencari kesalahan dan beramai-ramai menghakimi mereka, para anak-anak Z dan Alpha.

Sikap kita yang mengutuk dan menjadikan semua aktivitas mereka viral di media massa adalah salah satu tujuan mereka (eksistensi). Tidak heran jika semua itu malah membuat aktivitas serupa menjamur, bukan malah berkurang. Kita yang katanya milenial, gagal mengurai persoalan dan tanpa sadar semakin menjerumuskan para–Z dan Alpha ke hal yang kita kutuk ramai.

Peran Madrasah Pertama (Keluarga)

Kita lalu berdalil bahwa semua hal itu tergantung pada asupan nutrisi pengetahuan dari rumah. Dengan sangat percaya diri menyodorkan beberapa bukti akan generasi baik dari keluarga baik.

Penanganan generasi kita samakan dengan penanganan riset data. Sibuk bermain akrobatik angka, statistik, diagram, dan tabel-tabel persentase. Membaca dan menganalisis data-data minor dan mayor, lalu menarik konklusi pasif. Kita lupa bahwa satu dari sepuluh generasi yang tidak baik akan mengancam keberlangsungan generasi berikutnya. Berapa pun sedikitnya.

Hal yang sekali lagi luput dari perhatian kita bersama bahwa generasi Z maupun Alpha merupakan anak-anak yang lahir dari rahim generasi Y (milenial). Mempertanyakan madrasah pertama para-Z adalah mempertanyakan diri sendiri.

Kita, yang harusnya hadir sebagai solusi, baik sebagai orang tua maupun sebagai generasi pendahulu, sebagai bentuk pertanggungjawaban dari sikap yang membuat pemisahan dan pemetaan generasi.

Anak tidak memiliki konsep kematangan hidup, tidak memiliki gambaran capaian, tidak memiliki konsep objektivikasi persoalan. Mereka memiliki dunianya sendiri, dunia imajinasi paket komplit tanpa embel yang berupa-rupa. Kitalah yang patut mengevaluasi diri. Sudah pantaskah kita menjadi madrasah yang kuat dan kokoh untuk menghasilkan generasi yang berkualitas?


Tugas suci para-Nabi tidak hanya berkutat pada kitab agama yang kaku dan konvensional. Mereka membawa perubahan fundamental, menyentuh pelbagai sendi kehidupan, terutama tentang Ilmu pengetahuan. Tugas mulia untuk Mencerahkan.

***
Di masanya, dalam upaya pelariannya, Nabi Elia (Ilyas a.s.), menerima Wahyu untuk bermukim di sebuah negeri bernama Akbar, negeri yang kemudian berubah menjadi salah satu kota di Lebanon, yang saat ini lebih dikenal dengan kota Byblos. Dalam sejarah, konon di sanalah Byblos pertama kali ditemukan dan berkembang pesat.

Byblos, sebuah seni menggoreskan kuas dan tinta (menulis).

Menggoreskan segala peristiwa dalam lempengan tanah liat yang dipadatkan lewat proses pembakaran (keramik). Keramik tanah liat ini menjadi pilihan untuk mengabadikan setiap Byblos (tulisan). Dianggap dapat bertahan lama dan juga memiliki nilai estetika yang apik ketika disusun rapi pada rak-rak ruangan yang saat itu belum disebut perpustakaan.

Istilah perpustakaan memang identik dengan kumpulan buku, bukan kumpulan keramik bertulis. Meski arti konvensional perpustakaan adalah kumpulan referensi atau gudang literatur, tetapi muasal kata Perpustakaan adalah Library (Inggris) yang berakar dari kata Liber (Yunani) yang berarti buku-buku, bukan keramik.

Tidak ada gambaran untuk membentuk perpustakaan seperti saat ini. Instrumen terbatas. Pun penulis atau yang berhak mempelajari Byblos bukan sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang sudah dipilih oleh para–Dewan Agung atau penasihat kerajaan.

Para dewan agung tahu, kekuatan Byblos mampu memusnahkan satu generasi bangsa tanpa perang. Hanya dengan sebuah gagasan, satu bangsa dapat dihancurkan tak tersisa, tanpa pertumpahan darah atau kerugian ekonomi yang banyak.

Oleh karenanya para penulis harus tetap dalam kontrol para dewan agung, pengetahuan atau tentang apa-apa yang harus dituliskan hanya seputar apa yang dikatakan oleh para dewan agung. Pengetahuan dimonopoli.

Pada kondisi ini, otentifikasi Byblos tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Sebab, hanya mereka yang diizinkanlah yang dapat mengemukakan pendapat dalam Byblos. Otentik, terjaga.

Tidak ada percetakan keramik saat itu, satu keramik hanya cukup untuk satu tulisan dengan gaya menulis yang itu-itu saja. Tidak ada plagiat atau penjiplakan, karena jika ada upaya menuliskannya kembali, dia akan menjadi keramik yang berbeda. Otentik.

Di belahan dunia lainnya, Yunani, sistem penulisan Byblos ini kemudian dicomot dan berganti sebutan menjadi Alfabet. Dengan penambahan jenis huruf yang belakangan kita kenal dengan istilah huruf Vokal (a, i, u, e, o). Mereka, Yunani, bangsa yang sangat cepat dan kuat beradaptasi perihal pengetahuan, di sanalah banyak lahir para pemikir hampir setiap generasi.

Konsep: lihat, cermati, lalu modifikasi adalah tipe masyarakat Yunani yang haus pengetahuan, mawas diri, tetapi dilain sisi membuka ruang dikursus yang memadai. Padat wacana dan memiliki semangat juang yang tajam perihal pengetahuan. Belum ada di abad ini yang mampu menyamai konsep mereka, para tokoh Yunani. Mereka generasi "penggiat" literasi.

***
Nabi Ilyas a.s., memerhatikan budaya ini lalu ikut mempelajari. Dia setuju untuk otentifikasi keramik Byblos ini, tetapi mengkhawatirkan banyak hal.

Jika buah pemikiran yang telah terukir rapi itu dimusnahkan dan para pemikirnya telah tiada, maka musnahlah sudah.

Nabi Ilyas a.s. memandang perlu sebuah upaya unifikasi gagasan sembari mengupayakan kodifikasi dalam bentuk lain. Alat dan bahan yang bisa; tetap otentik, tidak kehilangan estetika dan tidak gampang untuk dimusnahkan.

Oleh karena masa perang terus meletus dimana-mana, tidak menutup kemungkinan susunan keramik ikut menjadi sasaran buta para musuh atau penyerang.

Sang penerima wahyu kemudian merekomendasi untuk dituliskan pada bahan yang tidak berat dibawa-bawa atau dipindah tempatkan sewaktu-waktu, jika terjadi perang atau bepergian. Tidak perlu lagi membawa beban berat seperti keramik, tetapi dapat bertahan untuk waktu lama seperti halnya keramik.

Kulit pohon yang bernama Papyrus-lah yang menjadi pilihannya. Tumbuhan Papyrus ini biasa tumbuh di sekitar sungai atau daerah yang cukup lembab.

Dari beberapa referensi disebutkan, cara membuat kulit pohon Papyrus menjadi bahan yang bisa ditulisi cukup mudah. Kulit pohon terluar diiris dan dipisahkan dan kulit dalamnya. Kulit dalam inilah yang tiriskan atau di press untuk mengurangi kandungan air, lalu dikeringkan agar dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat tulisan.

Salah satu kelebihan dari Papyrus ini yaitu sifatnya yang tahan terhadap air/waterproof. Digadang-gadang kulit ini dapat bertahan hingga ribuan tahun.
Beberapa naskah terkenal yang menggunakan kulit Papyrus yaitu Rhind Papyrus (papirus rhind), Turin Papyrus (papirus turin), naskah ini tersimpan di museum Mesir di Turin Italia.

Kitab lain, Ebers Papyrus (Papirus ebers), merupakan salah satu teks medis yang terkenal di dunia, Papyrus ini berisi tentang resep obat tradisional bangsa Mesir kuno, di dalamnya terdapat pengetahuan tentang pembuluh darah.

Dari nama jenis pohon inilah kemudian muasal kata kertas digunakan. Papirus, paper, papiere, papiros yang dalam arti bahasa inggris kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Kertas (Paper).

Seiring dengan perjalanan sejarah dan perkembangan teknologi, informasi primer (dalam segala hal) seperti halnya muasal kertas ini kemudian dikawinkan dengan perkembangan peradaban lalu dapat menghasilkan "perubahan-perubahan fundamental".

Poinnya bahwa, tidak hanya Nabi Ilyas a.s., generasi Nabi pendahulunya, pun para-Nabi dan Rasul setelahnya, telah membuka tabir, menghadirkan informasi primer (lain) yang kemudian menjadi sandaran perkembangan peradaban kita saat ini.

Mereka, para-Nabi tidak hanya berkutat pada kitab agama yang kaku dan konvensional. Mereka membawa perubahan fundamental, menyentuh pelbagai sendi kehidupan, terutama tentang Ilmu pengetahuan. Tugas mulia untuk Mencerahkan.

Penulis: La Said Sabiq

Referensi:

  • Paulo Coelho, Gunung Kelima (The Fifth Mountain), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2005.

https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5