Barangkali terdengar berlebihan, tapi begitulah yang
terjadi. Anak-anak di masyarakat Muna, saat belum mengenal bangku sekolah, sudah
diperkenalkan tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar, tentang “bagaimana
menjadi manusia”.
Namanya Katoba. Sebuah ritual adat, ritus inisiasi
Islam bagi anak-anak Muna, yang umumnya dilaksanakan pada usia sekitar 7-11
tahun.
Asal katanya diserap dari bahasa Arab, taubah, yang
berarti menyesali perbuatan buruk dan berjanji untuk tidak mengulanginya.
Konsep ini lebih dipahami sebagai ritual 'pengucapan toba' (pertobatan) atau
ritual pengislaman.
Secara historis, tradisi ini berkaitan dengan periode awal
Islamisasi Muna pada abad ke-17 (sekitar tahun 1671-1716). Lalu mengalami
proses pelembagaan pada masa pemerintahan La Ode Abdul Rahman atau Sangia La
Tugho (Raja Muna XIII). Sejak itu Katoba menjadi media pengokoh identitas
keislaman masyarakat Muna sejak anak-anak.
Jadi, bisa dibilang Katoba adalah titik temu antara budaya
lokal dan ajaran Islam.
Anak-anak didudukkan berdialog dengan tetua adat (imam), disaksikan
oleh orang tua, keluarga, dan komunitas. Anak mendengar dan menyerap nasihat
tutur, pengajaran, simbol, dan tuntunan moral yang memuat nilai tauhid,
syahadat, penghormatan, kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian
sosial, dan pengendalian diri serta kewajiban menjaga hubungan, baik dengan
sesama manusia maupun alam semesta.
Karena itu, menyebut Katoba sebagai “sekolah kehidupan”
bukanlah metafora yang berlebihan.
Jika sekolah formal mengajarkan anak membaca dunia melalui
buku, Katoba mengajarkan anak “membaca dirinya sendiri”. Sekolah memberi
pengetahuan untuk menjawab pertanyaan “apa yang saya ketahui”, sedangkan
Katoba mengajarkan pertanyaan yang lebih tua dan mendasar, “untuk apa
pengetahuan itu digunakan”.
Katoba hadir sebagai sistem etnopedagogi yang menjawab
pertanyaan filosofis tentang tujuan dan pemanfaatan pengetahuan dalam kehidupan
nyata.
Jika menggunakan teori Psikoanalisis Sigmund Freud, usia 7–11
tahun adalah fase laten (latency stage), periode ketika anak semakin
intens menerima aturan, larangan, nilai, dan norma sosial dari
lingkungan keluarga dan masyarakat.
Ini terlihat masyarakat Muna lebih dulu memahami bahkan
menerapkan konsep Psikoanalisis ketimbang Freud yang baru mengulasnya di akhir
abad ke-19 (sekitar 1895–1899) bersama dengan Josef Breuer.
Kompas Moral Generasi
Yang menarik sebenarnya bukan prosesi Katoba-nya, tetapi apa
yang terjadi di balik ritual tersebut. Ada proses pewarisan pengetahuan, nilai-nilai
moral, agama, dan identitas adat di sana.
Isi nasihat dalam Katoba bekerja seperti kompas moral.
Memberikan arah ketika seorang anak harus menentukan sikap. Ketika kelak
berhadapan dengan pilihan antara jujur atau berbohong, menghormati atau
merendahkan, bertanggung jawab atau menghindar.
Melalui Katoba, anak-anak Muna disiapkan menjadi orang
dewasa yang, berpengetahuan, bermoral dan beradab tinggi. Nasihatnya
disampaikan dengan cara berdialog, sehingga pesannya memiliki kekuatan
psikologis dan emosional yang lebih mendalam dibandingkan sekadar instruksi
atau ceramah.
Pengetahuan-pengetahuan yang disampaikan dalam ritus Katoba
dianggap sebagai “palu” pemecah tembok pembatas antara fase anak-anak menuju
kedewasaan.
Dari sini Katoba menjadi tanda peralihan seorang anak dari
satu tahap kehidupan menuju tahap berikutnya.
Victor Turner dalam kajian ritual
peralihan (rites of passage) menyebut fase peralihan semacam ini sebagai
liminality, ruang antara, tempat seseorang dipersiapkan untuk memasuki
status sosial baru.
Secara tidak langsung, melalui ritus Katoba, masyarakat Muna
ingin mengatakan kepada anak-anaknya bahwa, "setelah prosesi Katoba kamu harus bersikap lebih dewasa".
Pengetahuan (nasihat Katoba)
digunakan untuk melepaskan sifat kekanak-kanakan dan mulai memikul beban moral
atas setiap tindakan di hadapan Tuhan dan masyarakat.
Bisa dibilang, Katoba sebenarnya bukan hanya tentang ritual
adat, atau proses mengislamkan anak, tetapi juga tentang mempersiapkan manusia
untuk hidup di tengah manusia lainnya.
***
Terlepas dari semua cerita, di tengah gempuran modernitas,
muncul “pekerjaan rumah” yang harus dipikirkan bersama. Tantangannya bukan
mempertentangkan Katoba dengan modernitas, melainkan bagaimana nilai Katoba
tetap menjadi pengetahuan yang hidup di tengah perubahan zaman.
Soal, bagaimana seseorang tidak cukup hanya menjadi pintar
secara akademik, tapi harus menjadi manusia yang tahu arah di tengah pendidikan
yang semakin sibuk mengejar prestasi akademik.
Soal, bagaimana Katoba tidak dianggap sebagai penghalang
kemajuan, tapi bentuk kearifan lokal yang menyimpan pengetahuan sosial, moral,
dan spiritual yang penting bagi kehidupan modern.
Dengan begitu, Katoba tidak berakhir dan dipertahankan hanya
sebatas ritual yang nilai spritualitasnya dilupakan. Katoba harus menemukan
maknanya yang paling dalam, menjadi sekolah pertama yang mengajarkan kehidupan,
dan kompas moral generasi masyarakat Muna untuk memahami hidup.
Penulis: La Said Sabiq
Masyarakat Muna
Referensi:
- Ardianto, A., R. Gonibala, Hadirman, and A. Lundeto. “Nilai Pendidikan Karakter Bangsa dalam Tradisi Katoba pada Masyarakat Etnis Muna.” Potret Pemikiran 24, no. 2 (2020): 86–107.
- Sigmund Freud. The Interpretation of Dreams, Wordsworth Editions, 1899.
- Victor Turner. The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Chicago: Aldine, 1969.


.webp)
