Saya membaca beberapa tulisan dialektis bertemakan Sains, Agama, dan Filsafat, yang melibatkan Goenawan Muhamad, Ulil Absar Abdallah, A.S. Laksana, Eka Kurniawan di platform facebook belakangan ini.

Sebuah tulisan menarik tetiba muncul dalam perdebatan. Ialah goresan Gus Ulil bertajuk "Berani Memasak Gagasan Sendiri". Sedikit keluar dari tema pembahasan, Ia menyoal tentang kemampuan menulis para akademisi kita.

Keluhan saya pada dunia akademis sekarangbanyak sarjana kita yang tidak bisa menulis dengan bahasa akademis yang tetap indah dan memikat”. Katanya.

Barangkali Ulil melihat tulisan dialektis Goenawan dkk. yang panjang dan rumit, hanya menarik bagi kalangan pembaca tertentu. Mereka yang sedang haus-hausnya belajar filsafat, dan pembahasan panjang tentang agama vs sains.

Ia juga menyoal kebiasaan kita yang cenderung lebih sering mengutip pandangan filsuf barat ketimbang filsuf timur atau pandangan-pandangan tokoh nasional. Bagi Ulil, hal itu satu persoalan lain yang cukup mengganggu.

Menurut Ulil, harus ada usaha dari para dosen untuk mengingatkan para mahasiswa soal bahasa. Tentang pentingnya menulis dengan bahasa yang tertib dan memikat.

Satu sisi keresahan Gus Ulil serupa momok bagi kita yang ingin belajar menulis. Mengemas tulisan menjadi menarik adalah beban psikologis berbobot berat. Hantu yang mengintai dan mengusik kekhusyukan kontemplasi penulis.

Sisi yang lain, kita bisa memaknainya sebagai muhasabah diri untuk berbenah.

Minat Baca vs Daya Baca

Fakta bahwa masyarakat kita memiliki minat baca yang tergolong rendah, sedikit-banyak ikut memengaruhi cara kita dalam memaksimalkan keindahan diksi tulisan.

Membaca adalah ladang, lumbung kata-kata yang digunakan dalam tulisan berasal dari luasnya ladang bacaan. Ia ruh material. Menjadi pusat yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis, kata Stephen King.

Meski belum ada data terbaru yang merilis tentang tingkat minat baca masyarakat Indonesia, tetapi penelitian terakhir Central Connecticut State University (CCSU) bertema World's Most Literate Nations pada Maret 2016 lalu, merilis hasil yang mengecewakan. Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara yang menjadi sampel.

Kita boleh berbeda pendapat soal metode, sampling respondent, dan margin error riset CCSU, tetapi kesimpulan survei tersebut sedikit membuka mata para pemerhati literasi, bahwa ada pekerjaan rumah yang sedikit rumit untuk segera diselesaikan.

Barangkali ini relevan untuk dibahas. Sebab sepiawai apa pun seseorang dalam memilih kata untuk memperindah tulisan, tidak akan berarti apa-apa jika menghadapi pembaca yang memiliki minat baca rendah.

Belum lagi jika tulisan itu mengulas sesuatu yang rumit, seperti perdebatan Goenawan Muhamad dkk. soal sains dan agama tersebut.

Ranah itu tidak hanya soal minat baca lagi, tetapi meningkat ke arah Daya Baca.
Minat baca serupa ketertarikan, keinginan, kesenangan, dan dorongan seseorang untuk melakukan aktivitas membaca. Ia ada pada ranah afektif dan motivasional. Sedangkan daya baca, soal kemampuan, kapasitas, ketahanan, dan kedalaman seseorang dalam membaca serta memahami suatu bahan bacaan.

Dengan demikian, persoalan literasi kita bukan hanya soal minat baca. Jika masyarakat sudah memiliki keinginan membaca tetapi tidak memiliki daya baca yang memadai, kita tetap dapat mengalami kesulitan memahami teks yang panjang, akademik, ilmiah, atau argumentatif.

Minat baca dan tulisan baik, seperti lingkaran yang saling mendahului. Membaca untuk bisa menulis dengan baik atau menulis dengan baik agar bisa menarik minat baca. Mana yang mendahului yang mana?

Kita punya banyak masalah yang harus diselesaikan, dan sampai di sini, saya sepakat dengan pandangan Gus Ulil, embrio masalah ini harus dibedah mulai dari sekolah atau kampus.

***
Gus Ulil ingin mengatakan "beranilah masak gagasan sendiri". Olahlah gagasan-gagasan rumit itu menjadi sajian sederhana agar bisa dinikmati oleh banyak pembaca kalangan mana pun.

Menemukan gaya tulisan untuk mengakomodir pembaca dari kalangan mana pun, tidak hanya membutuhkan keindahan bahasa dan kata. Jauh dari itu, ia membutuhkan ramuan yang khas dan identik dengan suasana kebatinan pembaca.

Hal ini setidaknya menjadi jawaban sederhana untuk mentaktisi daya baca yang masih tergolong rendah.

Bukan tidak mungkin melakukan itu, kita punya penulis hebat seperti Pramoedya Ananta Toer yang mendeskripsi sejarah dalam sebuah novel, bahkan mengemas tulisan berat bertema filsafat, sains, atau agama dalam bahasa yang sederhana tapi tetap indah dan menarik.

Penulis: La Said Sabiq


Buku ini berjudul asli The Broker, karya cemerlang novelis John Grisham. Diterbitkan kembali oleh Gramedia Pustaka Utama (2007) dengan versi terjemahan berjudul Sang Broker. Seperti kebiasaan Grisham, buku ini bergenre novel, dengan tebal buku 440 halaman.

Grisham memang dikenal luas sebagai penulis novel, biasanya berlatar hukum. Buku-bukunya seperti oase bagi insan hukum yang lingu-kelimpungan di tengah bahasa hukum yang cukup berat.

Lex dura sed tamen scripta; hukum itu keras dan begitulah bunyinya atau keadaannya, demi kepastian dan penegakannya.

Meskipun begitu, Grisham tidak sama sekali mengubah teori atau asas hukum baku seenak hati. Ia tetap menjaga kemurnian bahasa hukum, tetap pada asas kepastian dan teori-teori hukum.

Pada buku Sang Broker ini, Grisham kembali mengulik persoalan hukum. Tepatnya konsep hukum dan hubungan internasional. Prinsip-prinsip itu dijelaskan secara berserakan dalam beberapa sekuel cerita buku ini.

Negara dan Konspirasi

Meski analisisnya lebih kepada aktivitas intelijen, tetapi sedikit banyak memberikan gambaran tentang konsep berhukum dan hubungan negara-negara adikuasa dan segala konspirasinya dalam memperlakukan negara berkembang atau negara dunia ketiga.

Analisis peta geopolitik global yang dipadu dengan sentilan-sentilan kecil tentang hukum.

Tokoh utama dalam buku ini dijuluki “the broker”. Nama aslinya Joel Backman, dengan banyak nama samaran dalam pelariannya sebagai buronan beberapa negara besar. Marco lazzeri (Itali), Simon Wilson McAvoy (Australia), Ian Rex Hatterboro (Kanada), Giovanni Vero (Bologna), dan Mayor Herzog (Agen Itali untuk Kanada).

Backman bukan agen intelijen atau seorang ahli penyamaran. Dia hanya seorang pengacara yang berkantor di Washinton D.C. Ia jelas bukan pengacara kacangan.
Oval Office dan Pentagon seperti warung kopi baginya. Presiden Amerika adalah teman ngopi sekaligus rekanan dalam beberapa bisnis. Backman juga lah yang mendanai kampanye Mr. Presiden.

Joel Backman diburu karena ulahnya melakukan kejahatan yang berkaitan dengan rahasia negara. Israel, Rusia, China, Arab Saudi, dan Amerika, siap menggelontorkan uang banyak demi operasi pembunuhan Sang Broker.

Ia harus melakukan pelarian di beberapa negara setelah mendekam dalam penjara selama 6 tahun. Sejak awal, ia memilih penjara, itu bukan skenario buruk. Baginya, tak ada tempat paling aman di dunia saat menjadi buronan negara-negara besar selain ruang penjara federasi Amerika.

Atas “pengakuan” kejahatan lain, ia dituntut oleh Jaksa dan dinyatakan bersalah oleh Juri pada pengadilan Amerika dengan vonis 14 tahun penjara.

Mendapat pembebasan tanpa syarat saat setengah masa hukuman sudah dijalani, menjadi suatu yang menghawatirkan baginya, dan tentu menjadi headline koran-koran besar Amerika.

Untuk seorang berpengaruh seperti Backman, menjadi headline dalam pemberitaan koran The New York Times dapat membuat negara ini macet, lalu dengan cepat menenggelamkan isu apa pun. Bahkan skandal yang baru bersemi sekalipun. Kasus Backman memang disiapkan untuk itu, menyembunyikan banyak cerita miring yang harus disingkirkan oleh negara.

Tampaknya, equality before the law tidak sepenuhnya berlaku di sini. Demi kepentingan negara atau kekuasaan, hukum bisa dibuat menjadi tameng. Betapa sederhana konspirasi yang bisa direncanakan oleh negara untuk meloloskan kepentingan para elitenya.

Pembebasan Sang Broker dari penjara, tidak lain adalah usaha negara untuk mengurai benang merah kejahatannya terkait dengan rahasia negara.

Peta Kuasa Negara

Petaka Backman dimulai saat Ia mengetahui China mengorbitkan satelit canggih yang bisa mengalahkan peralatan hebat negara mana pun. Satelit ini diberi nama Neptunus.

Hanya Backman yang mengetahui, bahkan negaranya, Amerika, tidak tahu pemilik asli Neptunus.

China menyadari kelemahannya pada kelengkapan peralatan senjata konvensional dibanding Amerika atau negara-negara lain. Karenanya, mereka mengupayakan jalur teknologi rahasia berbasis satelit pengintai super canggih.

Neptunus memiliki kemampuan memotret gambar sampai pada ketinggian 35 ribu Mdpl, mendengar percakapan dua tentara di camp-camp perbatasan, mengintip gudang penyimpanan amunisi, atau bahkan merekam adegan saat Presiden negara mana saja bercinta dengan gadis yang diseludupkan di ruang kerjanya.

Neptunus pertama kali ditemukan tanpa sengaja oleh tiga mahasiswa Afganistan yang iseng melakukan hack pada satelit-satelit milik Amerika yang mengitari langit India. Mereka menemukan salah satu satelit yang sedikit berbeda dari kawanannya. Mengutak-atik lalu memanipulasi dan membuat sistemnya hanya bisa dioperasikan oleh mereka.

Neptunus ternyata tidak hanya digunakan China untuk mengintai aktivitas Amerika, tetapi juga untuk hampir setiap belahan bumi. Dengan kecanggihannya yang nyaris sempurna, hanya butuh satu Neptunus untuk melakukan tugas-tugas senyap itu.

Tiga mahasiswa ini berniat menjual hasil temuannya pada pihak Amerika, sekaligus meminta perlindungan. Naas, setelah bertemu dengan Backman untuk menyerahkan kepingan chip monitor Neptunus, mereka ditemukan tewas di tempat berbeda-beda. Kini “objek buruan” berpindah pada Backman.

Alasan inilah yang membuatnya berpikir untuk memilih penjara. Di luar skenario, ia dibebaskan di waktu yang tidak tepat.

Ia harus berpindah negara dengan senyap, namun mustahil melakukan itu tanpa batuan. Negaranya lah yang menyediakan setiap kebutuhan yang diperlukan Backman dalam upaya pelarian.

Ia tentu berterima kasih, tapi satu hal yang tidak diketahui oleh Backman, negaranya melakukan itu bukan tanpa alasan. Pihak Amerika yang dipimpin oleh Presiden baru, menjadikannya tikus umpan. Amerika memonitoring negara mana saja yang memburu tikus umpan ini. Dengan begitu, mereka akan mengetahui pemilik Neptunus.

Di luar dari itu, hukum Amerika memang mengharamkan membunuh warganya di atas tanah territorialnya sendiri.

***
Grisham, dalam buku ini sedikitnya memberi kita dua hal:

Pertama, satelit dengan segala kecanggihannya ternyata dapat diretas oleh sekelompok mahasiswa yang ‘iseng’. Selalu ada kerapuhan dalam kecanggihan teknologi.

Kedua, negara dengan kondisi yang sederhana bisa menjadikan kita korban dari kepentingannya. Kita hanya seekor tikus tak berdaya yang bisa digunakan oleh negara dengan segala relasi kuasanya.

Dari sini ia kemudian mengulas relasi kuasa antar negara. Meski bukunya bergenre novel yang tentu tidak bisa menjadi rujukan ilmiah, tetapi ulasannya memberikan gambaran yang relevan dengan kondisi dan hubungan negara-negara besar sampai saat ini.

Tercatat daftar negara besar yang terlibat dalam upaya pembunuhan Backman yaitu, Arab Saudi, Israel, Rusia, China, dan juga tentu Amerika.

Arab Saudi digambarkan memiliki hubungan yang baik dengan Amerika. Ini terlihat dalam damainya komunikasi intelijen pihak Amerika dan Saudi dalam upaya pembunuhan Backman. Meski secara bargaining, Saudi tidak merasa terancam, selain bahwa data pengoperasian satelit Neptunus yang ada di tangan Backman digunakan China untuk mengintai aktivitas politik Saudi.

Saudi biasa menyewa agen lepas, ini kebiasaannya. Mereka cenderung tidak ingin mengotori tangan secara langsung dalam aktivitas pembunuhan yang melibatkan agen intelijen.

Israel mengincar Neptunus dan rela mengeluarkan uang sebanyak yang dibutuhkan hanya agar satelit super canggih itu bisa dioperasikan. Tentu demi mengintai semua gerak politik musuh negaranya, khususnya Palestina dan Persia.
Israel membutuhkan waktu biasanya seminggu, caranya kadang brutal dan sadis, penuh drama barang bukti, tetapi tidak pernah mampu dipecahkan oleh pihak keamanan negara di mana operasi berjalan. Agennya terlatih dalam upaya membersihkan diri.

Satu hal, Israel selalu melakukan kontak rahasia dengan agen intelijen Amerika. Mereka digambarkan sedikit mesra dalam beberapa sekuel cerita buku ini.

Rusia sebaliknya, mereka menghawatirkan pengoperasian satelit super canggih itu dikuasai oleh CIA, yang tentu menjadi ancaman nyata bagi negaranya. Rusia membutuhkan waktu satu minggu dengan agen paling terlatih dan tidak meninggalkan satu jejak pun. Ini yang membedakannya dengan cara Israel.

China biasa lebih lambat, mereka negara yang cukup berhati-hati dan penuh perhitungan dalam melakukan operasi-operasi intelijen dalam dan luar negeri. Ciri ini melekat pada negara Tirai Bambu dalam segala hal.

Satu hal, semua negara tersebut membenarkan secara hukum segala operasi intelijen pembunuhan satu manusia, atas nama dan kepentingan negara.

***
Grisham setidaknya memberikan prediksi menarik perihal perang dingin antara Amerika dan China yang selalu terjadi belakangan ini, Koalisi beberapa negara seperti keakraban Amerika-Saudi, juga Amerika-Israel, dan kekukuhan Rusia yang berdiri sendiri.

Meski penulisnya pada lembar terakhir menjelaskan backgroundnya sebagai seorang novelis hukum, bukan ahli satelit atau spionase, buku ini bisa menjadi acuan subjektif tentang hubungan negara-negara yang disebutkannya.

Membaca buku ini, saya teringat ulasan salah seorang tokoh politik negeri yang memberikan gambaran perang masa depan dari sebuah buku berjudul Ghost Fleet karya P. W. Singer dan August Cole.
_________
Joel Backman akhirnya mampu bertahan hidup dan kembali ke negara asalnya tanpa cacat sedikit pun. Ia terlatih dan terbiasa menyesuaikan diri pada aktivitas intelijen.

  • Judul Buku: The Broker (Sang Broker)
  • Penulis: John Grisham
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007
  • Tebal Buku: 440 Halaman
Penulis: La Said Sabiq


Semua sepakat, belajar filsafat terasa seperti duduk di ruang kuliah yang serius, penuh istilah, dan kadang membuat kita sibuk mengangguk meski diam-diam tidak mengerti.

Tapi bagaimana jika ternyata, filsafat bisa datang dalam bentuk dongeng cerita, tokoh-tokoh sederhana, atau pertanyaan anak-anak? Di tangan Jostein Gaarder, begitulah filsafat, receh, renyah, dan sederhana.

Gaarder seperti tahu satu rahasia sederhana, manusia sebenarnya senang berpikir tentang hal-hal besar, hanya saja sering takut dengan cara filsafat membicarakannya. Maka ia mengambil filsafat dari rak buku yang tinggi, menurunkannya ke lantai, lalu mengajak kita duduk bersamanya.

Membaca Dunia Sophie (Sophie's World) misalnya, rasanya seperti membaca novel biasa, sampai tiba-tiba kita disodori pertanyaan, Siapa sebenarnya kita? Dari mana dunia berasal? Mengapa sesuatu ada? Pertanyaan-pertanyaan yang dalam buku filsafat mungkin terasa seperti batu besar, oleh Gaarder dilemparkan seperti kerikil ke dalam kolam. Kecil, ringan, tetapi riaknya ke mana-mana.

Bukan receh dalam arti dangkal. Tapi sebaliknya, Ia membuat pertanyaan besar terdengar sederhana. Membuat filsafat seperti obrolan yang muncul ketika kita sedang menikmati kopi, lalu tiba-tiba percakapan itu membawa kita kepada sederet filsuf dengan segala pemikirannya.

Dalam Dunia Sophie, seorang gadis remaja belajar sejarah filsafat melalui surat-surat misterius. Tidak ada mimbar akademik yang kaku.

Gaarder memainkan cara yang sama dalam Dunia Anna. Di buku ini filsafat tidak hanya bertanya tentang manusia, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan alam.

Kemudian ada Dunia Cecilia, yang menghadirkan kematian, kehidupan, dan pertanyaan tentang keberadaan melalui kisah seorang anak perempuan. Tema yang biasanya terasa berat itu justru disampaikan dengan kelembutan.

Yang paling apik menurut saya adalah buku The Solitaire Mystery. Bagaimana Gaarder menyisip filsafat ke dalam lebar-lembar kartu yang sering kita mainkan di sela-sela kesibukan kita. Atau misalnya dalam The Christmas Mystery, pertanyaan tentang waktu, takdir, iman, dan keberadaan bergerak melalui kisah yang menyerupai dongeng.

Mungkin memang begitulah filsafat seharusnya dimulai, bukan dari hafalan, istilah-istilah rumit, tetapi sesuatu yang sederhana dan hidup di sekitar. Di situlah kelihaian Gaarder. Ia tidak membuat filsafat menjadi lebih tinggi. Ia justru membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih filosofis.

Secangkir kopi bisa menjadi pertanyaan tentang keberadaan. Seorang anak bisa menjadi pintu menuju metafisika. Kematian bisa menjadi jalan untuk memahami arti kehidupan. Bahkan selembar surat dapat membawa kita berkelana dari dunia sehari-hari menuju pertanyaan yang selama ribuan tahun menghantui manusia.

Gaarder barangkali bukan filsuf dalam pengertian buku-buku tebal. Ia seperti pedagang keliling yang membawa filsafat dari satu rumah ke rumah lain, mengetuk pintu pembaca dengan cerita.

Ia tidak berkata “ayo belajar filsafat”, ia hanya berkata, “coba kita pikirkan sebentar”, dan kalimat sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang menjalar di kepala kita.

Setelah selesai membaca buku Gaarder, kita mungkin mulai memandang dunia dengan sedikit berbeda. Langit tidak lagi sekadar langit. Waktu tidak lagi sekadar angka pada jam. Kematian bukan hanya akhir. Dan pertanyaan seorang anak yang terdengar “receh” bisa ternyata lebih serius daripada jawaban orang dewasa yang merasa sudah mengetahui segalanya.

Mungkin itulah keistimewaan Jostein Gaarder, Ia membuat filsafat tidak terasa seperti filsafat. Filsafat menjadi cerita. Menjadi permainan. Menjadi rasa ingin tahu. Menjadi kegelisahan dan dongeng kecil sebelum tidur.

Dan ketika kita sadar bahwa kita sedang berfilsafat, semuanya sudah terlambat. Kita sudah terlanjur berpikir. Imajinasi kita sudah jauh melampaui batas.

Penulis: La Said Sabiq


Ada sebuah kutipan dialog pada salah satu scenes film. Katanya begini "...Science never sleep. Your heart maybe, but science will never".

Film itu menceritakan tentang sepasang kekasih yang sangat menggilai perkembangan sains dalam semangat untuk menyelamatkan umat manusia dari kebodohan. Mereka memiliki semangat yang sama dalam upaya mencerdaskan kehidupan umat manusia. Hubungan mereka tumbuh di antara itu, subur dalam upaya filantropis.

Cukup mendambakan, memiliki pasangan yang secara emosional ikut tertarik pada hal-hal yang kita gemari.

Kita bisa menghabiskan waktu bersama, membahas dan mempersiapkan segalanya secara sederhana. Toh kegemaran kita identik, tanpa penjelasan panjang-lebar, cukup bermain semiotik, kita sudah mengerti banyak hal satu sama lain.

Kita akan merasakan banyak hal dengan bercerita tentang segala hal di luar kita, yang “bukan tentang kita” kata Payung Teduh. Hakikat kebersamaan, jika boleh memberi istilah.

Dalam sebuah analisis sederhana, Muhammad Taqi Mishbah Yazdi (1934), memberi penjelasan bahwa sifat lahiriah manusia (insan) untuk mencari dan berkumpul dengan insan lain yang serupa. 

Bukan mengeliminasi kemampuan adaptasi manusia, tetapi lebih lanjut, M.T. Mishbah Yazdi memberikan penjelasan, proses pencarian dan sampai pada kesimpulan untuk berkumpul dengan yang serupa adalah kemampuan insan yang mendahului sifat adaptasinya.

***
Meski saya belum termasuk kategori seorang pemakan buku, mengoleksi buku-buku sampai bertumpuk-tumpuk adalah salah satu kegemaranku.

Dalam sebuah tulisan, saya menjelaskan bahwa kegemaran itulah yang menjadi obat mujarab penyakit insomnia yang saya derita di masa menjadi mahasiswa dulu. Saya selalu membayangkan mencari pasangan yang memiliki kecintaan terhadap buku, melebihi kecintaannya pada hubungan kami. Sederhana.

Akan menjadi kebahagiaan tersendiri jika dalam romansa diselingi dengan intrik bertengkaran yang berbobot. Perihal jenis buku apa yang harus didahulukan untuk dibeli atau dibaca.

Mendiskusikan proyeksi masa depan berbekal analisis matang para filsuf dan diskusi tentang konten buku yang baru selesai dilahap. Menghabiskan waktu bersama tidak seperti pasangan pada umumnya.

Tulisan ini dilatarbelakangi kenangan masa lalu. Tentang seseorang ‘di luar’ saya yang memiliki kegemaran mirip denganku; membaca, diskusi, dan mengoleksi buku.

Dia pecandu sang sastrawan, Si Binatang Jalang Chairil Anwar. Dalam beberapa kesempatan, kami banyak mendiskusikan tentang sang penyair di sela diskusi berat tentang para tokoh filsuf Yunani kuno.

Sepanjang masa, kami selalu memiliki orang ketiga, kalau bukan Plato, Rene Descartes, diselingi Immanuel Kant atau kadang menyusup tokoh Islam sekelas Ayatullah Murtadha Muthahhari sampai Sayid Muhammad Baqir Al-Shadr. Begitu jauh dan berat pembahasan.

Kadang-kadang, dalam pembahasan yang begitu jauh dan cukup berat itu, Chairil Anwar selalu kembali mencairkan suasana dengan penggalan frase mesranya “sekali berarti, sesudah itu mati”. Kalimat ini kami retas dalam metafora rasa, bahwa menyayangi sekali (sangat menyayangi), sesudah itu mati.

Kami memiliki semangat belajar yang menggebu, semangatnya tidak terlalu berbeda dengan sepasang kekasih dalam film yang diilustrasikan pada paragraf pertama di atas.

Meski kualitasnya masih belum menyentuh tataran semangat filantropis, tetapi masing-masing dari kami berusaha berguna untuk orang lain, seminimalnya untuk satu sama lain di antara kami.

Tentu sangat wajar jika terbesit dalam pikiran untuk berlaku seperti pasangan normal dalam beberapa bagian, ‘sayangnya’ selalu saja mengalami patahan karena godaan orang ketiga.

Para filsuf tidak memberi kami jeda untuk membuang waktu yang begitu berarti. Daripada bermalam mingguan berdua, kami lebih memilih untuk keluar mengisi diskusi atau kajian yang diadakan di tempat yang berbeda.

Berkunjung ke tempat-tempat mainstream seperti pasangan lain, bagi kami, hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan tentu saja uang. Aktivitas tidak produktif itu kami ganti dengan berhadap-hadapan saling berusaha memusatkan tatapan di sela-sela teori Sigmund Freud atau kerangka logika para pengusung feminisme.

Hanya saja, jangan berpikir bahwa hubungan ini bebas dari persoalan, terlalu berlebihan dan sempurna suatu hubungan tanpa percekcokan yang wajar.

Untuk berdamai pada pertengkaran kecil, Adam Smith menjembatani kami dengan konsep invisible hand-nya. Pertanda-pertanda sederhana yang bisa menyatukan kembali frekuensi tanpa perdebatan yang panjang. Tangan-tangan tak terlihat merangkul kami untuk kembali duduk bersila meretas persoalan.

Kami percaya, selain rasa, ada hal-hal prinsip yang perlu dibangun dalam sebuah hubungan. Setidaknya, yang bisa menjadi legitimasi kuat bagi kami untuk menemukan alasan sampai berani mengurusi hidup anak orang. Menurutnya, hal prinsipiil ini yang mengikat hubungan, menghalau rasa bosan yang datang cepat, tepat dan mematikan.

Pada bagian ini, para tokoh itu gagal mendamaikan kami. Kami yang akhirnya menyerah pada kehadiran para orang ketiga sebagai pendamai. Frekuensi Si Binatang Jalang hilang entah ke mana.

Akhirnya, dalam bagian lain buku Jagat Diri milik M.T. Mishba Yazdi tersebut, juga menjelaskan tentang sifat lahiriah manusia yang terus mengalami perubahan.

Bahwa manusia terus melakukan upaya untuk mengevaluasi gerakan substansialnya sebagai upaya mengikuti perkembangan dimensi kehidupan.
Memiliki kebiasaan dan hobi yang baru, mengganti atau mengevaluasi kegemaran yang lama sebagai bagian dari sifat adaptifnya.

Kini kami memiliki kegemaran yang berbeda, entah Chairil Anwar akan kembali hidup menjadi pendamai dan merevisi frasa dalam puisinya, atau Adam Smith kembali melakukan intervensi lewat tangan-tangan tak terlihatnya. Hanya para pecinta buku baru yang tahu.

Penulis: La Said Sabiq
https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5