10-11-45 Dalam Sejarah
Pilihan itu harga mati !
Ketika Jepang menyerah terhadap
sekutu karena jatuhnya bom atom di 2 wilayah
strategis yang dimiliki jepang, sekutu kemudian mencoba menggantikan kembali
Jepang untuk mencoba melakukan
aktivitas penjajahannya secara licik nan pasif. Tetapi kemerdekaan Negara Indonesia yang sudah dideklarasikan menjadi
salah satu hal yang sangat dan layak untuk terus dipertahankan. Perjuangan
mempertahankan kemerdekaan terus terjadi, sampai pada puncak konflik disalah satu
daerah di Nusantara (Surabaya) yaitu terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby,
pimpinan tentara Inggris untuk wilayah Jawa Timur pada tanggal 30 Oktober. Membuat pemerintah
inggris mengeluarkan ultimatum yang mengatakan: bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia
yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang
ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas
ultimatum adalah jam 6 pagi tanggal 10 November 1945.
10-11-45 Dalam Perspektif
Peralatan seadanya membuat para
pendahulu kita tidak dapat menunda kekalahan lebih lama. Perjuangan panjang
yang menguras tenaga, jiwa dan materi harus ditangisi dengan reruntuhan kota
yang menuai kekalahan. Gambaran yang sangat layak untuk diapresiasi menjadi
sebuah peristiwa besar yang harus terus dikenang agar menjadi sebuah pelajaran
berarti untuk generasi Nusantara selanjutnya.
Ada hal menarik yang dikemukakan oleh beberapa sejarawan dan negarawan menanggapi peristiwa bersejarah ini, banyak di antara mereka berpendapat bahwa kebesaran Perang Surabaya yang kemudian dikukuhkan menjadi hari Pahlawan tersebut bukan semata karena banyaknya penduduk/pejuang kota yang meninggal saat pertempuran, atau gigihnya pejuang yang mampu menahan imbang para penjajah sampai waktu yang tak diduga oleh penjajah. Perjuangan saat itu lebih dari itu, perang itu telah menggugah kebersatuan Nusantara, perjuangan itu telah menggugah semangat patriotisme yang lintas-suku, lintas-agama, lintas-keturunan ras, dan lintas-aliran politik. Dengan semangat itu juga lah rakyat Indonesia kemudian meneruskan perjuangan antara tahun 1945 sampai 1949 melawan Belanda dalam agresi Militer setelah tentara Sekutu (Inggris) meninggalkan Indonesia. Sekali lagi titik fokus dari semuanya adalah kesadaran tentang kebersatuan dalam menghadapi penjajah.
Berlandas dari beberapa pendapat para sejarawan tentang beberapa alasan 10 November dikukuhkan sebagai Hari Pahlawan, saya ingin menelisik kondisi bangsa kekinian. Tidak terlalu radikal dan sistematis, hanya ingin menanggapi kondisi yang terjadi di sekitar kita. Ketika Hari 10 November berlalu begitu saja tanpa ada makna yang semestinya terjerat, ketika celotehan tentang Pluralitas menjadi kicauan semata, ketika persatuan dan kesatuan Nusantara hanya menjadi sesuatu yang tidak ubahnya potongan daun pohon kering yang tergeletak di jalan raya. bersatu dan berkumpul ketika jatuh dan terbang tercerah berai ketika dilewati oleh sesuatu. Masih segar dalam ingatan sederet kejadian yang menodai nuansa kebangsaan kita kekinian, pelanggaran HAM dan perang/bentrok Ras/Golongan, Agama (Peristiwa Monas 1 Juni 2008) yang masih saja sungkan dilakukan dalam janji pluralitas. Ada apa dengan bangsa ini, ada apa dengan generasi bangsa ini, barani berdiri dan berteriak lantang dengan suara yang secara terang tidak lagi sejalan dengan semangat perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kita.
Ketimpangan ini semakin menjadi, entah lah faktor apa yang menjadi pelaku utamanya. Mungkin bisa dibilang krisis multi dimensi sedang melanda negeri, degradasi nilai-nilai kultural dalam masyarakat semakin masif terjadi, hingga tidak jarang dalam lingkungan sekitar, kita menemukan ketimpangan yang sudah dihapus dalam daftar dosa dan pelanggaran.
Ini bukan bentuk keputusasaan, anda, mereka dan semuanya memiliki cara yang lebih kreatif untuk memaknai hari-hari yang sengaja dibuat dan dihadirkan untuk menjadi seorang guruh buat kita untuk menjadi lebih baik dalam memaknai hidup dan kehidupan. Terus berkarya dalam nuansa nilai-nilai kemanusiaan akan menjaga kita terus menjadi pribadi yang setidaknya lebih baik dari kita yang sebelumnya.
Sesungguhnya "Ketika Kemarin Kita Mampu
Melangkah Dua Langkah dan Hari Ini Kita Masih Tetap Mempertahankan Dua Langkah Kita
Tersebut, Maka Pada Prinsipnya Kita Telah Ketinggalan Empat Langkah ".


0 comments:
Posting Komentar