Gadis Jeruk itu Bernama Cecilia.
Akhirnya Gaarder mendengar keluhanku, kali ini gadis kecil bernama Cecilia yang diajaknya berselancar dalam samudra pengetahuan. Tidak lagi menggunakan surat, Gaarder kali ini mengirim seorang malaikat mungil.
Malaikat kecil itu bernama Ariel. Tak bersayap, tak berbulu rambut, alis dan segala tetek-bengek penduduk bumi kebanyakan.
Dibalik tubuh halusnya, dia memiliki badan yang kokoh seperti baja, tetapi tidak memiliki massa, dia bahkan tidak menggunakan alas kaki. Dia lembut seperti sutra, wajahnya teduh dan menentramkan di balik jubah putih yang menutupinya.
Ariel hadir untuk mengurai pengetahuan surgawi, dengan syarat Cecilia bersedia menceritakan sedikit pengetahuannya tentang duniawi. Iya, sedikit, terlalu berat jika ingin menceritakan semua alam semesta, toh juga kita manusia hanya mengetahui sedikit, samar-samar.
Akhirnya perjanjian tentang pertukaran pengetahuan surga dan dunia terjadi lewat kaitan jari kelingking mungil Ariel dan gadis kecil Cecilia.
"Apa yang bisa diperbuat oleh tubuh fana dari darah dan daging ini", Kata Ariel.
"Kita (manusia) tak berdaya tanpa penghuni surga di dalam diri. Dia-lah yang abadi, dia yang bertahta dalam Jagad diri, mengusahakan keseimbangan antara jiwa dan raga. Ruh, Dia-lah yang Ilahiah, satu-satunya hal yang menyerupakan kita dengan penduduk surgawi" lanjutnya.
Cecilia bertanya pada Malaikat Ariel, mengapa dia begitu penasaran pada kehidupan Dunia yang fana, sedang dia memiliki keabadian. Ariel dengan santun menjawab, "karena kalian di dunia ini berpotensi memiliki keduanya, yang fana dan abadi".
Ini terdengar familier, seperti apa yang pernah ditanyakan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), "kita manusia ini, apakah penduduk surga yang sedang bertamasya ke bumi, atau sebaliknya. Kita, apakah makhluk abadi yang sedang bertamasya pada kefanaan?" begitu hebat manusia.
***
"Gaarder, Cecilia sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya, mengapa?" tanyaku. Ini pertemuan ke-dua kami setelah merayakan kemerdekaan ke-73 Agustus kemarin.
"perbedaan itu permainan dunia, pangkalnya adalah 'rasa' sebagai pembanding, medianya adalah panca Indra. Seandainya saja Kamu bisa memaksimalkan Indranya, maka perbedaannya akan terberai. Dengan begitu, kita akan menjadi lebih mengenali diri, menyatui jiwa dan menyibak fenomena dan kefanaan. Begitu kira-kira". Jawab Gaarder.
Sabar, saya tidak paham. "Itu berarti indra adalah pengekang?" tanyaku.
Setelah menyeruput kopi, Gaarder melanjutkan, "Simak ketika Malaikat Ariel menembus dinding dan kaca jendela, lalu Cecilia tercengang, Ariel menjawab tanpa terlihat bangga, "tutup matamu dan bayangkan engkau terbang melintasi tembok dan kaca itu. Jika bisa, maka tidak ada yang tidak bisa, jika itu dalam pikiranmu". Iya, saya ingat sambungku.
Mengerutkan dahi, Gaarder melanjutkan, "bagaimana caramu mengingat, dan seperti apa kamu ketika lupa? di mana posisi pengetahuan ketika lupa, lalu datang dari sebelah mana ketika kita kembali mengingat?"
"Oh iya, saya sedikit paham, indra bukan pengekang, saya memicu ingatan lewat panca Indra" kataku.
"iya, ingatan ada di dalam diri, dia abadi di sana, kita hanya butuh stimulus untuk kembali mengingatnya" kata Gaarder.
Ini terdengar seperti penemuan besar Plato, alam Ide yang purna, tetapi kefanaan meliputi semua, sehingga kita butuh berbuat kebajikan untuk menyibak tirai hitam kefanaan. Pengetahuan menyebutnya "dejavu".
Saya mengingat-ingat, dalam penggalan puisi kosmologi Mahabbah karya Ustadz A.M Safwan mengatakan, "Tidak ada pertemuan selain di Alam..., mulailah dari alam". Bukan begitu? Tanyaku.
Gaarder melanjutkan tanpa menjawab pertanyaanku. "Alam adalah sumber, semua tersedia di sana, baik yang terindrai maupun yang tidak, begitu kira-kira para Materialisme menjelaskan dengan bangga, mereka tidak lupa kalau kita menggunakan indra sebagai media, tetapi sekali lagi dengan bangga mereka menampik keberadaannya, pun dengan apa yang terjadi setelah semua alam terindrai, proses pengolahan sumber, mereka menafikannya, seolah pengetahuan itu mandiri".
Iya saya paham soal ini, timpahku, apa yang istimewa?
"Itulah penyakit dunia, samar-samar dan parsial. Bukan dunia jika purnah, itu juga penyakit manusia, apa yang kamu pahami?" Tanya Gaarder.
Dengan bangga saya mengambil posisi untuk menjelaskan, "Disposesi Muhammad Baqir Ash-Shadr, bahwa pengetahuan itu relasi dari segalanya, ada konsepsi primer dan sekunder. Para Materialisme Feuerbach benar pada posisinya, Idealisme Plato, Rasionalisme Descartes, dan Empirisme John Locke, Hume, dan buku-buku, kitab, benar sebagai sumber pengetahuan, tetapi relasi, hubungan dari kesemuanya-lah yang menghasilkan pengetahuan". Bukan begitu?
"Saya sepakat pada sebagiannya", Kata Gaarder.
"Karena jika keseluruhan, maka tidak akan ada sisa dialektika malam ini, pun jika semua, maka kita seharusnya berada di surga, bukan dunia, karena kebenaran itu abadi, sedang dunia tidak mengenal keabadian". lanjutnya.
Tunggu dulu, saya ingat Anda menyinggung soal indra keenam lewat perumpamaan 2 (dua) ekor burung gagak Dewa Odin, Hugin dan Munin, yang dalam tafsir bahasa berarti "pikiran" dan "daya pikir"?
Ingatanmu cukup bagus kata Gaarder. Begini, sembari memperbaiki posisi duduk, Gaarder menjelaskan, "Dewa Odin akan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bumi tanpa beranjak dari singgasananya, dia cukup menggunakan mata burung gagaknya".
"Dia seperti ada dimana-mana dalam waktu yang singkat, apa kamu tidak merasa kita seperti Hugin dan Munin, berlaku seperti mata-mata untuk Tuhan?" Gaarder bertanya.
Saya menjawab tegas "TIDAK, Tuhan tentu tidak butuh kita untuk mengetahui segala ciptaan-Nya, dia Maha Agung dengan segala Ciptaan-Nya".
Benar, sambung Gaarder. "Tetapi berpikir dan daya pikir dititip pada kita untuk mengetahui ketunggalan-Nya, di situ posisi keabadian ruh, Nur Muhammad, dari sana kita diciptakan. Ini penting untuk dipahami agar kita mampu memosisikan diri pada semesta, pada sesama manusia, pada hewan, juga tumbuhan. Semua dari keabadian Nur Muhammad".
Sembari menyeruput sisa kopinya, Gaarder mengagetkanku, "Tentukan saja pilihanmu lengkap dengan alasan-alasannya, lalu ujilah alasan pilihan orang lain dengan argumentasi logis, bukan dengan sentimen [RG].
Penulis: La Said Sabiq



