Kota kecil ini sedikit-banyak mirip dengan kota kelahiran saya, Raha, Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara. Topografi wilayah, tipologi masyarakat, karakteristik penduduk, sampai mata pencaharian masyarakatnya juga tidak begitu berbeda. Kota Bantaeng.

Salah satu Kabupaten dari 24 Kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayahnya hanya mencapai angka 395 sekian-sekian kilometer persegi, dengan populasi 176.699 Jiwa dan kepadatan penduduk berkisar 446 jiwa per kilometer perseginya.

Kota ini relatif kecil jika dibanding dengan kota kabupaten lain yang ada di jazirah Sulawesi Selatan. Hanya terbagi dalam 8 kecamatan yang terdiri dari 67 desa dan kelurahan. Sehari keliling Kabupaten, kita sudah sampai di semua titik dan kembali ke titik semula.

Kota kecil ini yang memperlihatkan kepada saya bahwa, benar ada sebuah pemandangan yang menjadi "imajinasi bersama" semua anak sekolah dasar dulu, tentang gambar pemandangan, Laut, seekor ikan berenang di sekitar kail nelayan, nelayan yang sedang duduk asyik memancing di atas perahu, berseberangan dengan sawah dan berlatar bukit dengan tambahan sepotong entah matahari terbit (sunrise) atau terbenam (sunset).

Di Bantaeng pemandangan itu benar-benar ada. Sawah yang tetap dialiri air tawar di bibir pantai, Sunrise yang terkikis oleh lekukan anak gunung Bawakaraeng, dan beberapa nelayan yang sedang bersampan mengawasi ladang rumput lautnya. Sayang, pantainya terlalu keruh untuk melihat kasat mata ikan yang berkeliaran di sekitar kail.

Hal lain yang identik dengan kampung saya, masyarakat Bantaeng, sebagian besar "bermata pencaharian" pegawai negeri sipil (PNS).

Masyarakatnya, seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, berlomba untuk menjadi PNS, sebagian besarnya lagi adalah tenaga honorer yang tersebar di beberapa instansi, persis seperti Kabupaten Muna.

Berinteraksi dengan masyarakat sekitar, tidak ubahnya berinteraksi dengan tetangga rumah, hanya dengan bahasa (lokal) yang berbeda.

Waktu yang cukup singkat untuk membuka diri, memahami dan mengamini, betapa sangat beragam masyarakat Indonesia. Berbineka Tunggal Ika.

Di Bantaeng, di tanah rantau, untuk pertama kalinya selama delapan tahun di Sulawesi Selatan, saya merasakan wangi Petrichor pertama kali yang begitu menyengat. Wangi yang terakhir kali sebelumnya hanya tercium di tanah pekarangan rumah sendiri.

Angin kemarau pagi khas pedesaan kampung halaman, saya dapatkan setiap bangun pagi di sudut kota kecil ini, pun aktivitas pagi masyarakatnya selalu mengingatkan sanak keluarga di kampung halaman yang jauh di sana.

Begitu menyengat, begitu menggelisahkan, begitu meresahkan dan menyesakkan dada. Tidak ada istilah lain yang sepadan, kecuali Rindu.

Meski di luar ekspektasi, tetapi tidak cukup mengagetkan saya, bertemu dengan orang Muna yang juga sedang menikmati asyiknya perantauan di Bantaeng.

Masyarakat Muna memang bisa dibilang ada di mana-mana di tanah rantau, jiwa itu mengalir dalam nadir setiap masyarakat Muna, jiwa penjelajah, jiwa pengelana.

Meski beberapa orang yang saya temui sudah cukup jarang kembali ke tanah kelahiran, tetapi satu hal yang membuat kami begitu akrab, satu hal itu yang selalu kami sepakati untuk disebut "Rindu kampung halaman".

Istilah itu menemukan makna sejatinya di sini, di tanah rantau, di tanah kelana. 
Benar apa yang dibilang oleh para tetua, "Merantaulah, mengelanalah, jika ingin merasakan betapa damainya kampung sendiri". Bahwa sebaik-baik tempat kembali adalah rumah.

Penulis: La Said Sabiq
Bantaeng, 29 Oktober 2018, Pukul: 6.20 Wita.

Gadis Jeruk itu Bernama Cecilia.

Akhirnya Gaarder mendengar keluhanku, kali ini gadis kecil bernama Cecilia yang diajaknya berselancar dalam samudra pengetahuan. Tidak lagi menggunakan surat, Gaarder kali ini mengirim seorang malaikat mungil.

Malaikat kecil itu bernama Ariel. Tak bersayap, tak berbulu rambut, alis dan segala tetek-bengek penduduk bumi kebanyakan.

Dibalik tubuh halusnya, dia memiliki badan yang kokoh seperti baja, tetapi tidak memiliki massa, dia bahkan tidak menggunakan alas kaki. Dia lembut seperti sutra, wajahnya teduh dan menentramkan di balik jubah putih yang menutupinya.

Ariel hadir untuk mengurai pengetahuan surgawi, dengan syarat Cecilia bersedia menceritakan sedikit pengetahuannya tentang duniawi. Iya, sedikit, terlalu berat jika ingin menceritakan semua alam semesta, toh juga kita manusia hanya mengetahui sedikit, samar-samar.

Akhirnya perjanjian tentang pertukaran pengetahuan surga dan dunia terjadi lewat kaitan jari kelingking mungil Ariel dan gadis kecil Cecilia.

"Apa yang bisa diperbuat oleh tubuh fana dari darah dan daging ini", Kata Ariel.

"Kita (manusia) tak berdaya tanpa penghuni surga di dalam diri. Dia-lah yang abadi, dia yang bertahta dalam Jagad diri, mengusahakan keseimbangan antara jiwa dan raga. Ruh, Dia-lah yang Ilahiah, satu-satunya hal yang menyerupakan kita dengan penduduk surgawi" lanjutnya.

Cecilia bertanya pada Malaikat Ariel, mengapa dia begitu penasaran pada kehidupan Dunia yang fana, sedang dia memiliki keabadian. Ariel dengan santun menjawab, "karena kalian di dunia ini berpotensi memiliki keduanya, yang fana dan abadi".

Ini terdengar familier, seperti apa yang pernah ditanyakan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), "kita manusia ini, apakah penduduk surga yang sedang bertamasya ke bumi, atau sebaliknya. Kita, apakah makhluk abadi yang sedang bertamasya pada kefanaan?" begitu hebat manusia.

***
"Gaarder, Cecilia sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya, mengapa?" tanyaku. Ini pertemuan ke-dua kami setelah merayakan kemerdekaan ke-73 Agustus kemarin.

"perbedaan itu permainan dunia, pangkalnya adalah 'rasa' sebagai pembanding, medianya adalah panca Indra. Seandainya saja Kamu bisa memaksimalkan Indranya, maka perbedaannya akan terberai. Dengan begitu, kita akan menjadi lebih mengenali diri, menyatui jiwa dan menyibak fenomena dan kefanaan. Begitu kira-kira". Jawab Gaarder.

Sabar, saya tidak paham. "Itu berarti indra adalah pengekang?" tanyaku.

Setelah menyeruput kopi, Gaarder melanjutkan, "Simak ketika Malaikat Ariel menembus dinding dan kaca jendela, lalu Cecilia tercengang, Ariel menjawab tanpa terlihat bangga, "tutup matamu dan bayangkan engkau terbang melintasi tembok dan kaca itu. Jika bisa, maka tidak ada yang tidak bisa, jika itu dalam pikiranmu". Iya, saya ingat sambungku.

Mengerutkan dahi, Gaarder melanjutkan, "bagaimana caramu mengingat, dan seperti apa kamu ketika lupa? di mana posisi pengetahuan ketika lupa, lalu datang dari sebelah mana ketika kita kembali mengingat?"

"Oh iya, saya sedikit paham, indra bukan pengekang, saya memicu ingatan lewat panca Indra" kataku.

"iya, ingatan ada di dalam diri, dia abadi di sana, kita hanya butuh stimulus untuk kembali mengingatnya" kata Gaarder.

Ini terdengar seperti penemuan besar Plato, alam Ide yang purna, tetapi kefanaan meliputi semua, sehingga kita butuh berbuat kebajikan untuk menyibak tirai hitam kefanaan. Pengetahuan menyebutnya "dejavu".

Saya mengingat-ingat, dalam penggalan puisi kosmologi Mahabbah karya Ustadz A.M Safwan mengatakan, "Tidak ada pertemuan selain di Alam..., mulailah dari alam". Bukan begitu? Tanyaku.

Gaarder melanjutkan tanpa menjawab pertanyaanku. "Alam adalah sumber, semua tersedia di sana, baik yang terindrai maupun yang tidak, begitu kira-kira para Materialisme menjelaskan dengan bangga, mereka tidak lupa kalau kita menggunakan indra sebagai media, tetapi sekali lagi dengan bangga mereka menampik keberadaannya, pun dengan apa yang terjadi setelah semua alam terindrai, proses pengolahan sumber, mereka menafikannya, seolah pengetahuan itu mandiri".

Iya saya paham soal ini, timpahku, apa yang istimewa?

"Itulah penyakit dunia, samar-samar dan parsial. Bukan dunia jika purnah, itu juga penyakit manusia, apa yang kamu pahami?" Tanya Gaarder.

Dengan bangga saya mengambil posisi untuk menjelaskan, "Disposesi Muhammad Baqir Ash-Shadr, bahwa pengetahuan itu relasi dari segalanya, ada konsepsi primer dan sekunder. Para Materialisme Feuerbach benar pada posisinya, Idealisme Plato, Rasionalisme Descartes, dan Empirisme John Locke, Hume, dan buku-buku, kitab, benar sebagai sumber pengetahuan, tetapi relasi, hubungan dari kesemuanya-lah yang menghasilkan pengetahuan". Bukan begitu?

"Saya sepakat pada sebagiannya", Kata Gaarder.

"Karena jika keseluruhan, maka tidak akan ada sisa dialektika malam ini, pun jika semua, maka kita seharusnya berada di surga, bukan dunia, karena kebenaran itu abadi, sedang dunia tidak mengenal keabadian". lanjutnya.

Tunggu dulu, saya ingat Anda menyinggung soal indra keenam lewat perumpamaan 2 (dua) ekor burung gagak Dewa Odin, Hugin dan Munin, yang dalam tafsir bahasa berarti "pikiran" dan "daya pikir"?

Ingatanmu cukup bagus kata Gaarder. Begini, sembari memperbaiki posisi duduk, Gaarder menjelaskan, "Dewa Odin akan mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bumi tanpa beranjak dari singgasananya, dia cukup menggunakan mata burung gagaknya".

"Dia seperti ada dimana-mana dalam waktu yang singkat, apa kamu tidak merasa kita seperti Hugin dan Munin, berlaku seperti mata-mata untuk Tuhan?" Gaarder bertanya.

Saya menjawab tegas "TIDAK, Tuhan tentu tidak butuh kita untuk mengetahui segala ciptaan-Nya, dia Maha Agung dengan segala Ciptaan-Nya".

Benar, sambung Gaarder. "Tetapi berpikir dan daya pikir dititip pada kita untuk mengetahui ketunggalan-Nya, di situ posisi keabadian ruh, Nur Muhammad, dari sana kita diciptakan. Ini penting untuk dipahami agar kita mampu memosisikan diri pada semesta, pada sesama manusia, pada hewan, juga tumbuhan. Semua dari keabadian Nur Muhammad".

Sembari menyeruput sisa kopinya, Gaarder mengagetkanku, "Tentukan saja pilihanmu lengkap dengan alasan-alasannya, lalu ujilah alasan pilihan orang lain dengan argumentasi logis, bukan dengan sentimen [RG].

Penulis: La Said Sabiq


Saya menyebutnya kemandirian imajinasi. Penulis yang hebat adalah pembaca ulung, pemakan buku istilahnya. Imajinasinya terkontrol dengan baik, meski melesat ke mana-mana.

"Jostein Gaarder, mengapa Anda suka sekali bermain surat, padahal peradaban kita punya banyak media?" Dia tersenyum tanpa menjawab.

Semula saya menemukan Sophie sibuk dengan surat ayahnya, lalu Nova kaget dengan segala penjelasan neneknya yang bernama Anna dari surat-surat yang dituliskannya 70 tahun lalu. Meski lebih modern, Anna tetap saja menggunakan surat.

Kali ini giliran anak yang bernama Georg Roed. Dia baru berusia 15 tahun. Di Tengah kesibukannya belajar biola, dia disuguhi oleh sang nenek surat-surat peninggalan almarhum ayahnya yang bercerita tentang gadis jeruk yang tidak lain ternyata ibunya sendiri.

Hal yang menarik, semua penulis surat tahu kondisi pembacanya ketika itu. Seolah suratnya hadir untuk menjawab setiap keresahan pembacanya.
Sophie dengan semua keresahannya dengan pengetahuan, Nova dengan segala kondisi Bumi yang mengenaskan, Georg dengan segala kecanggihan teknologi teleskopnya.

Jika dirunut, maka konsepnya epistemologi, eksistensialis Kosmos, dan teknologi postmodernism.

"Tunggu, jangan-jangan Anda ini seorang tukang pos Gaarder?" lanjutku membuyarkan lamunan.

Dia menoleh, kali ini sembari menjawab. "Tidak ada yang lebih romantis dari cara surat menyampaikan hasratnya, dia lebih indah dari yang dibayangkan, coba saja!" saya mengangguk kehilangan kata.

Sembari berjalan Gaarder melanjutkan.

"Hanya surat yang abadi, pembacanya fana. Anda bisa berkali-kali mencicipi romansanya, berkali-kali, tanpa bosan. Dia tidak bisa di-delete, apalagi di-resend. Anda bisa membacanya kembali dilain saat jika merasa telah kehilangan gairah, itu kuatnya surat, itu kekuatan tulisan. Dia juga bisa menghadirkan makna yang tersembunyi, sekaligus menyembunyikan makna. Begitu dahsyat surat, ajaib".

Dalam hati saya menggumam, "Surat. Betapa beruntung generasi pendahuluku, menikmati 'romansa yang hidup' dalam bait-bait teks pada secarik kertas. Apa tidak kolot jika saya menggunakannya?"

Gaarder membuyarkan lamunanku, "kita berpisah di sini, oh iya, jangan lupa datang di karnaval perayaan kemerdekaan besok, ini perayaan yang ke-73".

Benar, saya hampir lupa kalau ini Agustus, dan 2019 sebentar lagi. sembari menjabat tanganku, dia memberiku secarik surat dan berkata “Bacalah, Dengan (Menyebut) Nama Tuhanmu Yang Menciptakan” (QS: Al-Alaq).

Penulis: La Said Sabiq

Sejak masuk perguruan tinggi, saya memiliki kebiasaan mengoleksi buku. Gendre bukunya acak, sosial, politik, filsafat sampai novel, menjadi buku incaran saya untuk menambah koleksi. Tidak kurang dari 750 buah buku berserakan di ruang pribadi saya.

Untuk seorang yang baru menemukan hobi bacanya saat menginjakkan kaki di dunia kampus, saya tergolong orang yang memiliki buku cukup banyak dibanding teman-teman lain.

Kebiasaan ini bermula saat saya bergabung di salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang Pers beberapa tahun silam. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Universitas Hasanuddin namanya.

Sampai saat ini, kebiasaan baik ini masih saya jalani. Bagi saya, memiliki banyak buku punya rasa tersendiri. Di samping dapat memicu gairah membaca, mengoleksi buku juga membuat saya merasa hidup.

Meski belum terkategori sebagai pembaca yang ulung, atau banyak pembaca mengistilahkannya “pemakan buku”, saya tetap merasa “kenyang” hanya dengan melihat jejeran koleksi buku yang ¼-nya sudah kusam oleh ulah pensil, stabilo, jari dan mata saya.

Kolektor, pembaca, lalu menjadi penulis.

Sejak awal, saya ingin mengoleksinya, memandangnya sampai bosan, lanjut membacanya, kemudian menuliskan inti sarinya.

Ini yang mendasari adagium yang selalu saya ucapkan pada teman diskusi gazebo fakultas saat kuliah dulu. "Bahwa jika membaca adalah cahaya, maka menulis adalah prismanya. Kedua aktivitas itu akan mengabadikan pelangi".

Di samping itu, bagi saya, ada hal terselubung lain di balik alasan-alasan sederhana mengoleksi buku. Seorang mahasiswa aktif, menikmati kopi dan diskusi di seperempat malam adalah aktivitas lumrah.

Penyakit laten mahasiswa di luar maag adalah insomnia. Tidak jarang penyakit ini terbawa sampai kita jauh tahun menyelesaikan kuliah. Bukulah yang menyelamatkan saya.

Obat Tidur Itu Bernama Buku

Beberapa tahun semenjak bergelar sarjana, kebiasaan tidur setelah azan subuh berkumandang masih saja terus “terpelihara”.

Ritus kehidupan seperti ini tentu sangat tidak baik, bukan hanya untuk kesehatan, tetapi juga untuk kehidupan sosial. Tidak jarang kita ketinggalan menikmati manisnya interaksi pagi saat mood kebanyakan orang sedang hangat-hangatnya.

Hingga pada suatu kesempatan saya menemukan penawar menarik yang selama ini berserakan di sekitar. Ya, buku yang menarik perhatian di sela-sela upaya saya memejamkan mata.

Ada kebiasaan lain yang selalu saya lakukan saat ingin membaca sebuah buku, yang ini mungkin tidak dilakukan oleh mereka para “pemakan buku”. Pola membaca saya terstruktur, ini disebabkan kemampuan terbatas saya dalam menganalisis isi bacaan dan konten tulisan yang akan saya buat.

Jika saya mulai membaca buku berlabel sosial, maka dalam seminggu sampai saya menamatkan tulisan yang berbau sosial, buku bacaannya berkutat seputar teori sosial. Begitu pula jika saya membaca buku berlabel lain. 

Begitu seterusnya, dengan asumsi; ketika duduk membaca, maka niatan membaca sudah tertancap dalam. Tidak ada aktivitas lain. Ini sedikit kaku bagi mereka yang terbiasa membaca dan dapat membaca kapan dan di mana saja mereka mau.

Pada suatu waktu luang yang tidak ada agenda membaca, saya memerhatikan susunan koleksi buku sembari mengidentifikasi buku apa saja yang dipinjam dan belum dikembalikan.

Maklum saja, saya lahir dan penganut garis keras konsep Prof. Achmad Ali, salah satu dosen yang selalu mengatakan, “Hanya orang bodoh yang meminjamkan buku, tetapi lebih bodoh lagi mereka yang meminjam dan mengembalikannya.”

***
Di sela hitungan dan (masih) dalam kondisi mengidap penyakit insomnia, tiba-tiba mata berat untuk berkedip. Semakin memerhatikan judul-judul buku, mata semakin sayu dengan rasa kantuk menghampiri.

Benar saja, saya tertidur beberapa menit setelahnya, dan terbangun beberapa menit saat azan subuh telah dikumandangkan.

Insiden ini tidak mendapat perhatian lebih. Hanya saja, berhasil membuat saya penasaran.

Hingga malam selanjutnya saya kembali mengidentifikasi koleksi saya, meski dengan kesadaran penuh bahwa belum ada buku yang dikembalikan sejak terakhir kali saya berhitung.

Dan berhasil, saya kembali terlelap. Kini Insomnia itu terobati dan koleksi buku adalah obatnya.

Penulis: La Said Sabiq
https://www.profitableratecpmnetwork.com/w91fvdmmz?key=3f01fabbe34d4c573d51ea8981b9cdf5