Saya punya kebiasaan baru sejak awal tahun, tidak tahu persis waktu mulainya, sesingkat yang diingat, sekitar Januari 2018 lalu.
Menunggu pagi, cek Facebook untuk masuk dalam group Dahlan Iskan (DahlanIs) dan membaca Opini beliau yang terbit setiap hari antara pukul 6.20-6.58 Wita, meninggalkan jejak komentar atau sekadar hanyut dalam bacaan.
Banyak hal menarik yang disuguhkan oleh mantan menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini dalam setiap opini-opini paginya. Segala hal diceritakan secara mendetail, sedetail-detailnya sampai seolah kita masuk "terjerumus" dalam alur tulisan. Kalimat-kalimatnya hidup, bergerak dan berdialog.
Kita seperti sedang menyaksikan sebuah video, bukan sedang membaca tulisan. Hebat!
Salah satu khas tulisan yang tertangkap kasat mata adalah tanda baca "titik". Hampir setiap jadah kalimat menggunakan titik, khas, ala DahlanIs.
Pernah dalam beberapa kesempatan saya membagikan tulisan beliau, beberapa teman bertanya soal 'titik' itu. Saya bercanda menjawab, mungkin beliau sudah cukup tua, tidak hanya dalam beraktivitas tubuh jasmani, dalam menulis pun beliau kelelahan, akhirnya banyak berhentinya, seperti orang berjalan kaki.
Adagium yang saya selalu dengar, kembali menemukan padanannya. Bahwa penulis hebat adalah seorang pembaca yang ulung.
Siapa yang tidak kenal seorang DahlanIs, siapa yang tidak pernah mendengar sepak terjang karier beliau dalam dunia tulis-menulis dan jurnalistik.
Tokoh yang oleh penggemarnya biasa disapa dengan panggilan akrab "Abah" ini adalah mantan CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group yang bermarkas di Surabaya.
Kariernya dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur pada tahun 1975. Setahun kemudian, Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo, hingga akhirnya di tahun 1982, DahlanIs memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang.
Bapak kelahiran 17 Agustus 1951 ini, memiliki nama lengkap Prof. Dr (H.C.) Dahlan Iskan, lahir di Magetan, Jawa Timur, saat ini berusia 67 tahun. Masih "sangat muda" menurut beliau dalam sela-sela bait tulisannya.
Saya jatuh cinta. Gaya menulisnya, semangat menulisnya, dan tentu saja isi tulisannya.
Tidak semua orang bisa menulis setiap hari dengan materi tulisan yang baik dan menarik. Informatif dan berbobot.
Semua hal bisa menjadi tulisan, tapi sangat jarang seorang penulis dapat mengemas suatu peristiwa dalam bentuk naskah yang apik. DahlanIs jagonya.
Facebook semakin bernilai saat saya diizinkan bergabung dalam group DahlanIs.
Isu-isu politik dunia, perkembangan ekonomi, sosial, budaya global, sampai persoalan remeh-temeh dikemas dalam tulisan yang mengalir dan asyik di baca oleh DahlanIs. Pun persoalan dalam negeri, tidak luput jadi santapan sarapan "tulisan pagi" seorang Dahlan.
Ciri lain dalam tulisan DahlanIs adalah penyertaan nama salah satu penyanyi dangdut pendatang baru asal Surabaya, Via Vallen namanya.
Saya tidak tahu persis mengapa DahlanIs sering menyelipkan nama penyanyi dangdut tersebut dalam beberapa tulisannya. Yang pasti, selipan nama itu selalu menambah riuh renyah tulisannya. Hiasan yang bermakna dan tentu tidak mengurangi nilai tulisan.
Dalam tulisan-tulisan DahlanIs lah saya mendapati informasi primer yang berimbang terkait dengan isu politik, ekonomi, kebudayaan dalam dan luar negeri. Informasi yang semakin hari semakin sulit ditemukan di media mainstream Nasional. Poin lebihnya lainnya, DahlanIs selalu berhasil mengulas peristiwa-peristiwa tersebut satu hari lebih cepat dari media lain. Hebat!
Di sela tulisan yang mengulas hal atau peristiwa besar yang menyita perhatian publik, DahlanIs juga selalu menyajikan tulisan ringan seperti cacatan perjalanan atau tempat-tempat menarik yang dikunjunginya.
Seperti halnya tulisan terkait politik, catatan perjalanan ini berlatar dalam dan luar negeri. Membacanya, kita seperti berada di luar sana dan melewati setiap perihal yang dijabarkannya dalam bait tulisan. Tulisan yang benar-benar hidup dan inspiratif.
Benar. Sekali lagi, benar, ungkapan bahwa, para penulis menemukan keabadian. Abadilah Disway.id.
Akhirnya, saya berharap semoga akan banyak DahlanIs-DahlanIs lain dalam negeri Via Vallen ini, agar keabadian menyertai.




