Rasa-rasanya BBC menemukan cara unik untuk menarik perhatian pembaca
atau pecinta buku (Bibliophile). Toko buku/perpustakaan disulap jadi
instagramable, mengundang banyak orang. Entah hanya untuk berswafoto atau
benaran hunting buku bacaan.
Yogyakarta memang selalu punya ceritanya sendiri soal buku. Tidak
salah jika dalam sebuah jurnal karya Filipus Dimas Darumurti dan Miftahuddin berjudul
‘Perubahan Sosial Kota Yogyakarta 1880-1930' menyebut Yogyakarta sebagai kota
Pendidikan/ kota Pelajar.
Saya selalu senang melihat tumpukan buku. Saking senangnya, kadang
kalap membeli buku. Bahkan menjadi Tsundoku, membeli buku, tetapi tidak
langsung dibaca, sampai akhirnya buku-buku itu menumpuk di sudut ruang.
Di perpustakaan ini saya membeli beberapa buku. Salah satunya
berjudul “The Magic Library - Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken”. Sebuah novel
fantasi tentang Bibliophile Perempuan asal Norwegia. Cerita tentang buku,
perpustakaan dan fantasi para penulis, karya Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup.
Rasanya kebetulan unik saja, membeli buku tentang Perpustakaan dan buku di Perpustakaan estetik.
Di perpustakaan ini pula saya membaca sekilas penggalan
Puisi Jorge Luis Borges, seorang penulis, penyair, sekaligus pustakawan asal
Argentina. Ia menulis dalam bahasa Spanyol yang maksudnya begini, “I have always imagined that Paradise will be a kind
of library (Aku selalu membayangkan surga itu seperti sekumpulan
buku-buku/perpustakaan)”.
Saya mengetik penggalan puisi itu di aplikasi AI, dan hal
menarik kemudian muncul.
Bagi Borges, kalimat itu ternyata bukan cuma
kiasan. Ia menulis itu saat baru saja diangkat menjadi Direktur Perpustakaan
Nasional Argentina di tahun 1955. Di waktu bersamaan, Ia kehilangan penglihatannya,
buta total. Ia mendapat surga (perpustakaan), tapi tidak lagi bisa membacanya
lagi.
Makanya bait lengkapnya berbunyi: Yo, que me figuraba el
ParaÃso / Bajo la especie de una biblioteca, yang berarti membayangkan
surga itu perpustakaan, akhirnya diberi surga, dalam kegelapan.



0 comments:
Posting Komentar